Kejanggalan-kejanggalan Hadith Dan Penyangkalan Muslim

Oleh: Ali Sina • 
Catatan Editor: Ini adalah penelitian yang baik, yang diterbitkan pada awal tahun 2001, yang menunjukkan dilema-dilema yang mencakup penyangkalan otentisitas Hadith bagi orang Muslim. Hadith adalah suatu bagian integral dalam agama Islam, dan menyangkalinya berarti menyangkali pilar-pilar Islam yang penting, dan menimbulkan keraguan terhadap Quran itu sendiri dan terhadap hidup Muhammad.
Ada dua kategori orang Muslim: orang-orang yang menerima otentisitas Quran dan Hadith dengan penuh keyakinan, dan orang-orang Muslim yang menyangkali Hadith, sebagian atau seluruhnya. Mereka berusaha untuk menafsirkan Quran kembali dengan cara yang bertentangan dengan makna yang sesungguhnya sehingga Quran dapat diterima oleh akal sehat.

Hampir selama 1200 tahun kumpulan hadith Bukhari dipandang (dan masih dipandang) oleh mayoritas Muslim sebagai setingkat di bawah Quran. Orang-orang Muslim, terutama dari kelompok Sunni, memandang Hadith terpisah dari Quran dan merupakan sumber tuntunan. Hadith adalah kisah-kisah kehidupan Muhammad, yang dikumpulkan oleh para cendekiawan pada abad kedua dan ketiga setelah Hijrah. Hadith-hadith yang paling terkenal dan dihormati adalah Hadith Bukhari dan murid Muslimnya ibn al-Hajjaj. Hadith-hadith itu disebut Sahih (benar, lurus, otentik), karena telah melalui proses otentifikasi yang ketat yang disebut Ilmul Hadith.

Bagaimanapun, ada tren baru di kalangan sekelompok orang Muslim, terutama “orang-orang yang tunduk”, yang menyangkali otentisitas Hadith secara keseluruhan. Mereka bahkan berani menyebut para pengumpul Hadith yang terkenal itu sebagai para penipu dan pembohong. Ini berarti membunuh orang yang membawa berita. Para pengumpul Hadith tidak menciptakan kisah-kisah yang membuat mereka menerima penghinaan besar itu. Yang mereka lakukan hanyalah mengumpulkannya, mengkompilasi dan memberikan rangkaian narator yang kesemuanya itu kembali kepada Muhammad dan para sahabatnya.

Para cendekiawan Muslim mula-mula, menerima Hadith sebagai Sahih hanya jika otentisitasnya telah ditetapkan atas dasar Fann-i-Riwaayat (seni keteraturan narasi) dan Fann-i-Daraayat (seni konkordansi logis). Lebih jauh lagi, sebuah hadith tidak boleh berkontradiksi dengan Sunnah dan Quran.

Tidak seorang pun di antara kita yang mempunyai kualifikasi untuk menentukan akurasi metodologi yang digunakan dalam menerima atau menolak sebuah hadith yang berdasarkan Fann-i-Riwaayat. Semua itu adalah kisah-kisah lama. Semua orang yang melaporkannya sudah wafat lebih dari 1000 tahun yang lalu dan kita tidak mempunyai sarana untuk memverifikasi kebenaran kisah-kisah mereka itu. Saat ini satu-satunya metode yang ada untuk menentukan sihhat (kebenaran) sebuah Hadith adalah Fann-i-Daraayat dan kesesuaiannya dengan Quran.

Cendekiawan Islam, Asif Iftikhar menulis, “Oleh karena itu, sebuah Hadith dapat dipandang sebagai sebuah sumber tuntunan religius hanya jika dasar Hadith itu eksis dalam Quran atau Sunnah atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh natur dan kecerdasan manusia. Tambahan lagi, ia tidak boleh bertentangan dengan satupun dari dasar-dasar tersebut” (dari “Otentisitas Hadith”)

Beliau juga menulis, “Imam Ibni Ali Jauzee dikisahkan pernah berkata: ‘Jika kamu menemukan sebuah hadith bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh akal sehat atau bertentangan dengan aturan universal, anggaplah itu sebagai rekayasa/fabrikasi; diskusi-diskusi mengenai apakah para naratornya dapat dipercayai atau tidak, sama sekali tidak diperlukan. Demikian pula, Ahadith (hadith-hadith) seperti itu harus dipandang sebagai hadith-hadith yang melampaui pemahaman hingga ke tingkat bahwa hadith-hadith tersebut tidak memberikan ruang bagi penjelasan apapun. Juga, sebuah hadith yang menjanjikan upah besar-besaran untuk sebuah perbuatan yang kecil dan sebuah Hadith yang mempunyai makna yang janggal, haruslah dicurigai”.

Dengan menguji beberapa Ahadith dalam terang “akal sehat”, dan sesuai dengan rekomendasi Ibni Ali Jauzee, kita menemukan bahwa banyak dari hadith-hadith tersebut yang tidak Sahih walaupun dipandang Sahih. Sebagai contoh adalah hadith berikut ini:

Sahih Bukhari Volume 3, Buku 43, Nomor 652
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sumayya dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu menemuklan potongan duri di jalan lalu diambilnya. Kemudian dia bersyukur kepada Allah maka Allah mengampuninya”.

Disini, kompensasi/pahala yang diberikan jauh lebih besar daripada perbuatan baik yang dilakukan dan jika kita mengikuti nasehat Ibni Ali Jauzee, kita harus memandang hadith ini sebagai hadith yang palsu.

Ini nampaknya sepele, tetapi implikasinya besar. Dengan membuktikan bahwa sebuah hadith yang telah dikategorikan Sahih ternyata tidak Sahih, kita menetapkan bahwa kita harus curiga terhadap otentisitas semua Ahadith yang diklasifikasikan sebagai Sahih. Faktanya, ini membuktikan bahwa walaupun kenyataannya 90% orang Muslim percaya pada kumpulan Bukhari dan Muslim, dan walaupun fakta bahwa semua Ahadith ini dipandang sebagai tuntunan yang paling benar setelah Quran, hadith-hadith itu sama sekali tidak dapat dipercayai.

Sekarang, marilah kita melihat hadith lainnya dan mengujinya dengan akal sehat. Sebelumnya kita harus mendefinisikan apa yang kita maksudkan dengan akal sehat. Saya tiba pada kesimpulan bahwa akal sehat sama sekali tidak umum, dan dapat mempunyai arti yang berbeda bagi orang yang religius yang pikirannya telah diwarnai oleh keyakinannya.

Sebagai contoh, akal sehat yang timpang mengatakan bahwa pria dan wanita, mempunyai tingkatan yang sama dengan kecerdasan. Sudah tentu ada orang-orang yang bodoh dan orang-orang yang cerdas dalam kedua jender itu, tetapi ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan jender mereka. Tidak ada studi ilmiah serius, yang tidak diwarnai praduga religius, pernah mendemonstrasikan bahwa ada perbedaan kecerdasan antara pria dan wanita. Yang telah ditemukan adalah beberapa bagian otak wanita lebih berkembang daripada bagian-bagian yang sama dari otak pria, sementara bagian-bagian otak pria lainnya lebih berkembang. Orang yang logis akan menyimpulkan bahwa pria dan wanita berhak menikmati hak-hak yang sama.

Perbedaan ini juga terlihat dalam perbandingan antara anggota-anggota dari jender yang sama. Tidak semua pria sama cerdasnya. Ada yang lebih cerdas dari yang lainnya. Namun semua orang setara di hadapan hukum. Kesaksian Eistein dan Joe Blow mempunyai bobot yang sama.

Tidak ada indikasi bahwa wanita kurang cerdas dibandingkan pria, bahkan jika kita memproses data itu secara berbeda, tidak ada pembenaran atas anggapan bahwa wanita tidak boleh menikmati hak-hak yang sama dengan pria. Sains, keadilan dan akal sehat mengakui bahwa pria dan wanita itu setara dan harus memperoleh hak-hak yang sama.

Ketika dipengaruhi oleh doktrin-doktrin yang palsu, akal sehat akan terabaikan. Islam mempunyai kriteria yang berbeda yang menolak akal sehat. Walau sedemikian terhalang [dengan ajaran agama mereka], masih ada kaum wanita Muslim yang dengan senang hati memperjuangkan ketidaksetaraan dan penindasan atas hak-hak mereka dan menyebutnya “pembebasan”. Mereka beranggapan hijab meningkatkan status mereka. Dihardik, dihukum bahkan dipukuli oleh suami mereka adalah hal yang baik bagi mereka [menurut mereka]. Mereka percaya bahwa mereka kurang cerdas dan bahwa mayoritas dari mereka akan masuk neraka karena Muhammad mengatakannya demikian.

Jadi ketika saya berbicara tentang akal sehat, saya tidak berbicara tentang akal sehat yang dimiliki orang yang religius, tetapi akal sehat yang didukung oleh sains yang “riil” dan dibuktikan oleh para ilmuwan yang “riil” pula. Saya menaruh tanda kutip pada kata riil karena semua agama telah membuat versinya masing-masing dari pseudo-sains dan mempunyai cap dari para pseudo-ilmuwan dan pseudo-filsuf mereka sendiri. Para penipu seperti Maurice Bucaille dan Keith Moore mengatakan bahwa Quran itu ilmiah; pandangan ini sama sekali bukanlah sains. Itu hanyalah omong kosong belaka yang dibuat-buat untuk memenuhi rekening bank mereka.

Mari kita periksa apakah hadith berikut ini imiah dan dapat diterima oleh akal sehat.

Sahih Bukhari Volume 4, Buku 54, Nomor 414
Telah bercerita kepada kami ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah bercerita kepada kami bapakku telah bercerita kepada kami Al A’masy telah bercerita kepada kami Jami bin Syaddad dari Shafwan bin Muhriz bahwa dia bercerita kepadanya dari ‘Imran bin Hushain radliallahu ‘anhuma berkata; “Aku datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan untaku aku ikat di depan pintu. Kemudian datang rombongan dari Bani Tamim maka Beliau berkata: “Terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim”. Mereka berkata: “Tuan telah memberikan kabar gembira kepada kami maka itu berilah kami (sesuatu)”. Mereka mengatakannya dua kali. Kemudian datang orang-orang dari penduduk Yaman menemui Beliau, lalu Beliau berkata: “Terimalah kabar gembira, wahai penduduk Yaman, jika Bani Tamim tidak mau menerimanya”. Mereka berkata; “Kami siap menerimanya, wahai Rasulullah”. Mereka berkata; “Kami datang kepada Tuan untuk menanyakan urusan ini (penciptaan makhluq)”. Maka Beliau berkata; “Dialah Allah yang tidak ada sesuatu selain Dia sedangkan ‘arsy-Nya di atas air, lalu Dia menulis di didalam adz-Dzikir (Kitab) segala sesuatu (yang akan terjadi) lalu Dia menciptakan langit dan bumi”. Tiba-tiba datang seorang penyeru seraya berkata; “Untamu hilang, wahai putra Al Hushain”. Maka aku segera bergegas mencarinya ternyata unta itu dikacaukan oleh fatamorgana. Demi Allah, sungguh aku sangat ingin untuk membiarkanya (demi menuntaskan mendengar apa yang Beliau sampaikan).

Bagaimana kisah ini dapat diterima oleh akal? Jika pada mulanya “tidak ada apa-apa”, bagaimana Allah dapat meletakkan tahta-Nya di atas air? Air yang mana? Apa yang menampung air itu? Bagaimana langit dan bumi dapat diciptakan sesudah air? Bukankah air membutuhkan bumi untuk menampungnya, dan bukankah bumi membutuhkan langit untuk menahannya? Di balik fakta bahwa seluruh pemikiran ini diekspresikan dalam hadith adalah omong kosong ilmiah, ada kekeliruan dalam urutan penciptaan.

Bukankah bumi adalah planet yang menjadi bagian dari tata surya, dan bagian yang tidak signifikan dari sebuah galaksi yang hanyalah merupakan satu dari jutaan galaksi dalam alam semesta? Dapatkah siapapun, termasuk Maurice Bucaille yang menemukan banyak sekali “sains” dalam Quran untuk mengisi rekening banknya (namun menolak memeluk Islam), mengatakan pada kita bagian mana yang ilmiah dari semua itu?

Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa hadith di atas adalah fabrikasi (palsu) karena bertentangan dengan apa yag dikatakan akal sehat dan juga aturan universal. Atau bagaimana?

Masalahnya adalah hadith ini sesuai dengan Quran dan seperti yang dikatakan Asif Iftikhar, “Sebuah hadith dapat dipandang sebagai suatu sumber tuntunan religius hanya ‘jika dasar hadith itu eksis dalam Quran atau Sunnah”. Bagaimana jika kita menemukan dalam Quran hal yang mendukung kejanggalan di atas? Ada lebih dari satu ayat yang demikian. Perhatikan yang berikut ini:

Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. (QS 18:86, 89, 90)

Matahari terbit dan terbenam di SEMUA tempat, atau lebih tepatnya, tidak dimanapun. Orang tidak perlu pergi “ke tempat lain” untuk mendapatkan matahari terbit. Ini memberikan petunjuk pada kita bahwa Muhammad benar-benar percaya bahwa bumi ini datar dan matahari terbit di langit dari satu tempat dan terbenam di tempat lain.

Bagaimana kita dapat yakin bahwa ini adalah pemikiran Muhammad? Jawabannya dapat ditemukan dalam hadith lainnya.

Sahih Bukhari Volume 4, Buku 54, Nomor 421
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf telah bercerita kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Ibrahim at-Taymiy dari bapaknya dari Abu Dzar radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Dzar ketika matahari sedang terbenam: “Tahukah kamu kemana matahari itu pergi?”. Aku jawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau berkata: “Sesungguhnya dia akan terus pergi hingga bersujud di bawah al-‘Arsy lalu dia minta izin kemudian diizinkan dan dia minta agar terus saja bersujud namun tidak diperkenankan dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: “Kembalilah ke tempat asal kamu datang”. Maka matahari itu terbit (keluar) dari tempat terbenamnya tadi”. Begitulah sebagaimana firman Allah QS Yasin ayat 38 yang artinya: (Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya (orbitnya). Demikianlah itu ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui)”.

Dan itulah penafsiran dari pernyataan Allah:

Dan matahari menjalani jalurnya yang sudah ditetapkan selama suatu waktu (ketetapan). Itulah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. (QS 6:38)

Disini kita berhadapan dengan kasus dimana hadith dikonfirmasi oleh Quran, yang diratifikasi oleh hadith lainnya dan kembali dituliskan dalam Quran.

Apakah hadith ini bertentangan dengan sains dan akal sehat? Sudah tentu. Namun, ia tidak bertentangan dengan Quran. Berita yang tercantum dalam hadith adalah salah, walaupun faktanya itu adalah hadith yang otentik.

Jika kita mempunyai keraguan tentang apa yang sesungguhnya dipikirkan Muhammad mengenai bentuk bumi, kita dapat menemukan jawabannya ketika kita membaca ayat-ayat berikut ini:

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? (QS 78:6-7)

“Hamparan” memberikan gagasan akan sesuatu yang datar. Kata Arab yang digunakan dalam Quran adalah mehad, (=tempat tidur). Tempat tidur dibuat mendatar. Tidak berongga. Lebih jauh lagi, gunung-gunung bukanlah seperti pasak yang menjaga agar bumi ini tidak bergoyang.

Bukankah hadith-hadith ini, yang didukung oleh Quran, dengan jelas menggambarkan bumi yang datar, dengan matahari yang terbit dari satu sisi dan terbenam dalam air berlumpur di sisi yang berbeda? Adakah Tahta entah di langit sebelah mana, yang menjadi tujuan matahari untuk meminta ijin? Kapan dan bagaimana matahari bersujud? Konsep ini kedengaran sangat gila. Pada jaman kuno, rakyat awam percaya bahwa bumi yang mengambang di atas air, dikelilingi oleh gunung-gunung tinggi dan di baliknya ada jurang yang sangat dalam. Penggambaran Muhammad mengenai kosmos masuk akal bagi para pengikutnya yang bodoh. Tapi tidak masuk akal di jaman sekarang.

Visi keliru mengenai alam semesta bukanlah ciptaan Muhammad. Pandangan itu adalah bagian dari cerita rakyat kaumnya. Dalam sebuah buku yang berjudul “The Oldest Stories in the World”, Theodor H. Gaster telah mengumpulkan kiah-kisah rakyat Babilonia, orang Hitit dan Kanaan sejak 3.500 tahun yang lalu. Kisah-kisah ini telah hilang selama berabad-abad. Pada pertengahan abad ke-20 kisah-kisah itu ditemukan dan digali. Kemudian diubah ke dalam bahasa yang dapat kita mengerti dan dicetak pada tahun 1952. Persamaan-persamaan kisah-kisah kuno tersebut dan kisah-kisah dalam Quran, termasuk hadith di atas, sangatlah menakjubkan. Membuat kita memahami asal mula Quran, dan juga Alkitab. Quran tidak mempunyai asal mula ilahi. Apa yang dikatakan Muhammad adalah kisah-kisah yang ia dengar dari penutur kisah, kisah-kisah kuno yang merupakan bagian dari tradisi kaumnya pada waktu itu.

Mukjizat-mukjizat dalam Islam

Ada juga banyak Ahadith yang menghubungkan mukjizat dengan Muhammad. Apa yang harus kita lakukan terhadap semua itu? Sekali lagi seperti yang disampaikan Asif Iftikhar, sebuah hadith yang bertentangan dengan Quran tidak dapat dipercayai. Saya beranggapan ini dapat diterima oleh semua orang Muslim. Jika ada kontroversi antara sebuah hadith dan Quran, maka otoritas Quran mengatasi hadith.

Apa yang dikatakan Quran mengenai mukjizat? Quran menyangkalinya dengan keras (lihat: It categorically denies them)

Menurut Quran, Muhammad sama sekali tidak melakukan mukjizat dan semua ahadith yang menceritakan kisah-kisah mukjizat adalah palsu. Kepalsuannya juga dapat dibuktikan secara logis.

Cendekiawan ternama, Ali Dashti bertanya: Jika Muhammad benar-benar dapat melakukan mukjizat, buatlah batu-batu berbicara, membelah bulan, memperbanyak makanan, mengunjungi neraka dan surga dalam semalam, dan lain-lain sebagaimana yang diceritakan beberapa ahadith, mengapa ia tidak melakukan mukjizat yang logis dan berguna dan tidak belajar membaca dan menulis? Apakah masuk akal jika ada orang yang dapat melihat akhirat, ketika diberikan selembar kertas yang bertuliskan bahasa ibunya, malah kesulitan untuk membaca? Orang Muslim percaya bahwa ia dapat melihat ke dalam mata orang dan membaca pikiran mereka. Ia sendiri mengklaim bahwa ketika memimpin sembahyang berjamaah, ia dapat melihat para pengikutnya yang berada di belakangnya, tanpa ia perlu menoleh. Namun, ia tidak dapat membaca sebuah surat sederhana yang ditulis dalam bahasanya sendiri? Di antara semua mukjizat yang dibuatnya, bukankah membaca adalah yang paling berguna?

Selain Quran, ada banyak hadith yang juga menyangkali kekuatan supranatural apapun atau pengetahuan tersembunyi yang dimiliki Muhammad.

Sahih Bukhari Volume 3, Buku 43, Nomor 638
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Sa’ad dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab bunti Ummu Salamah mengabarkan kepadanya bahwa ibunya, Ummu Salamah radliallahu ‘anhah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepadanya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Beliau mendengar dari balik pintu rumah Beliau ada pertengkaran lalu Beliau keluar menemui mereka kemudian bersabda: “Aku ini hanyalah manusia biasa dan sesungguhnya pertangkaran seringkali dilaporkan kepadaku. Dan bisa salah seorang diantara kalian lebih pandai bersilat lidah daripada lainnya, lalu aku menganggap dia benar kemudian aku berikan kepadanya sesuai pengakuannya itu. Maka siapa yang aku putuskan menang dengan mencederai hak seorang muslim, berarti itu adalah potongan dari api neraka. Karena itu hendaklah dia ambil atau ditinggalkannya”.

Bagaimanakah seorang yang mengetahui perihal dunia ini dan akhirat, seperti yang dikatakan orang Muslim, memprediksi semua penemuan/penciptaan yang telah terjadi, mampu membelah bulan dan melakukan mukjizat apapun tidak dapat mempercayai penilaiannya sendiri, dan takut akan kepandaian orang lain akan menipunya dan membuatnya melakukan kesalahan?

Mari kita menguji lebih banyak hadith dengan Fann-i-Daraayat kita sendiri, terpisah dari pra-konsepsi dan prasangka.

Sahih Bukhari Volume 1, Buku 6, Nomor 315
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Ubaidullah bin Abu Bakar dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menugaskan satu Malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata, ‘Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. Ya Rabb, segumpal darah!, Ya Rabb, segumpal daging! ‘ Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, Malaikat itu bertanya, ‘Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rizki dan ajalnya? ‘ Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya.”

Hadith ini adalah sebuah lelucon. Membayangkan malaikat kecil itu masuk ke dalam rahim dan berdiri di pintu rahim setiap kali seorang pria “memasuki” istrinya, dan melihat semua itu dari dalam vaginanya, memohon kepada Allah untuk setetes mani di wajahnya, adalah hal yang sangat menggelikan. Apakah kita akan memandang hadith ini sebagai hasil fabrikasi? Sudah tentu hadith ini bertentangan dengan akal sehat kita.

Tetapi tidak bertentangan dengan akal sehat orang-orang yang saling mengisahkannya 1.200 tahun yang lalu. Bagi kita tidak masuk akal, tetapi bagi mereka sangat masuk akal. Beberapa ratus tahun yang lalu, akal sehat mengatakan bumi ini datar. Semua filsuf dan para nabi menyetujuinya. Sekarang tidak. Dapatkah kita mengatakan bahwa hadith-hadith yang bertentangan dengan akal sehat modern kita sekarang salah, tetapi di kemudian hari benar karena sesuai dengan akal sehat manusia kuno?

Intinya adalah, kita tidak dapat mengabaikan sebuah hadith dan menilainya tidak otentik, berdasarkan akal sehat kita. Orang Muslim telah menerima begitu saja bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan dan oleh karena itu ia tidak dapat salah. Jadi mereka mengevaluasi kembali hadith-hadith seiring dengan berjalannya waktu, dan mengabaikan hadith-hadith yang menurut pemahaman sains mereka terbukti keliru.

Metode ini sangatlah bias. Kita tidak dapat mengabaikan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Muhammad adalah seorang pembohong hanya karena kita telah menerimanya dengan mengakui bahwa ia benar. Juri yang tidak bias akan menimbang semua bukti; yang baik maupun yang buruk.

Untuk menguji kebenaran klaim Muhammad kita harus memutuskan kita berada di pihak mana. Apakah kita bagian dari tim pembela atau kita bagian dari juri? Mayoritas orang Muslim, akan memilih untuk menjadi bagian dari tim pembelanya. Mereka tidak berminat untuk mengetahui apakah Muhammad itu benar atau apakah ia adalah seorang penipu. Pertanyaan itu tidak timbul dalam benak mereka. Mereka telah menerimanya sebagai utusan Tuhan. Mereka mendekati subyek dengan praduga. Tujuan mereka bukanlah untuk mencari kebenaran mengenai dirinya tetapi untuk menyatakan bahwa ia tidak bersalah.

Dewasa ini, lebih banyak orang Muslim yang terpelajar menemukan banyak kejanggalan dalam hadith dan menyangkali otentisitasnya. Namun, oleh karena kebanyakan hadith tidak masuk akal, konsensus yang terjadi adalah menyangkali semua hadith itu untuk menjelek-jelekkan Bukhari dan Muslim yang malang, yang telah dihormati selama lebih dari satu milennium. Ini tidak adil. Bukhari dan Muslim, juga para Muhadith (pengumpul hadith) lainnya tidak menciptakan hadith-hadith tersebut. Mereka hanya mencatatnya. Juga sangatlah tidak etis bila mencemooh para cendekiawan ini dan menyangkali apa yang telah mereka kumpulkan dengan bersusah payah, karena apa yang mereka laporkan menodai Muhammad.

Beberapa hadith difabrikasi, tetapi banyak hadith yang benar. Anda tidak membuang semua uang anda hanya karena ada beberapa uang palsu dan anda tidak dapat membedakannya. Demikian pula, kita tidak boleh membuang semua hadith hanya karena beberapa di antaranya adalah palsu.

Walaupun adalah bijak bagi orang Muslim untuk tidak bersandar pada hadith sebagai sumber tuntunan yang tidak mempunyai kesalahan, semua hadith itu adalah satu-satunya sejarah Islam. Melalui hadith-hadith itulah kita mengetahui mengenai Muhammad dan kehidupannya.

Jika kita membuang hadith bagaimana kita dapat membuktikan historisitas nabi? Jika semua kisah itu palsu dan seseorang dengan niat jahat telah memalsukan semuanya, lalu mungkin seseorang yang sama ganasnya telah memalsukan Quran dan Islam sepenuhnya hanyalah dongeng belaka. Tanpa hadith, kita tidak tahu apapun mengenai Muhammad, hidupnya dan sejarahnya. Tanpa hadith-hadith, orang Muslim tidak tahu bagaimana cara bersembahyang atau berpuasa. Hadith adalah pilar-pilar Islam.

Kejanggalan-kejanggalan Quran

Menyangkali otentisitas hadith berdasarkan kejanggalan logisnya akan mendatangkan masalah yang lebih besar lagi. Apa yang harus dilakukan dengan ayat-ayat dalam Quran yang sama janggalnya? Dapatkah kita membuang Quran karena sama tidak logisnya dengan hadith?

Ini adalah garis yang tidak akan pernah dilanggar oleh orang Muslim. Jadi apa yang mereka lakukan ketika dikonfrontir dengan ayat-ayat Quran yang tidak logis? Mereka menafsirkannya kembali secara esoteris. Mereka ingin menafsirkan kitab suci dan memberikan makna esoteris kepada ayat-ayat itu oleh karena adanya fakta bahwa ayat-ayat itu mentah dan kurang bermakna.

Para Mu’tazelit (kaum rasionalis Islam mula-mula) adalah yang pertama mendapati adanya ketidaksesuaian Quran dengan Sufisme oleh karena tindakan memberikan makna-makna esoteris kepada Quran. Sufisme adalah upaya “meng-interior-kan” Quran, memisahkan diri dari agama yang murni legalistik dan mengalami signifikansi mistis perjumpaan Muhammad dengan Allah pada malam Mi’raj, yang bagi kaum Sufi juga bersifat spiritual.

Ada dua kategori orang Muslim. Yang pertama adalah orang-orang yang membela Muhammad dan apapun yang dilakukannya, tanpa memperdulikan pertimbangan kepatutan, kebenaran atau keadilan. Mereka tidak menyangkali pernikahannya dengan anak berusia 9 tahun, pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya, pembantaian-pembantaian tawanan perang, genosida-genosida, perkosaan, kebejatan seksualnya, dan semua perbuatannya yang tidak terhormat. Bagi mereka ia adalah manusia sempurna, dan tidak seorang pun boleh mempertanyakan tindakan-tindakannya.

Kelompok yang kedua, adalah orang-orang yang menyangkali sebagian atau semua fakta historis mengenai Muhammad dan membengkokkan bukti agar membuatnya dapat diterima oleh moralitas modern. Mereka disebut orang Muslim moderat. Di dalam cangkang, orang moderat adalah orang-orang yang menyangkali kebenaran menjijikkan mengenai nabi mereka, lebih menyukai dusta daripada kebenaran dan hidup dengan kepala mereka disembunyikan dalam tanah.

Sudah tentu saya menghormati kejujuran kelompok yang pertama. Banyak orang Muslim yang disebut moderat berusaha keras untuk menyembunyikan kebrutalan Quran dan menghadirkannya secara berbeda. Mereka akan mengutip ayat-ayat Quran mula-mula, yaitu ketika Muhammad masih lemah dan pengajarannya manis. Tetapi mereka akan menggunakan ayat-ayat yang lebih keras yang dilahirkan di Medinah.

Orang-orang yang Tunduk (The Submitters)

Selama tahun 1970-an seorang cendekiawan Muslim Mesir memberikan solusi briliannya yang menyihir banyak orang Muslim dan memperbaharui keyakinan mereka kepada Islam. Namanya adalah Rahed Khalifa. Mulanya ia mengklaim telah menemukan mukjizat matematis dalam Quran. Klaim ini disanggah oleh beberapa pemikir sebagai sebuah “penipuan bebas dusta”. Oleh karena klaim ini ia mendapatkan respek dan menjadi terkenal di kalangan orang Muslim, hingga ia memutuskan untuk meluncurkan karir kenabiannya sendiri, sebuah keputusan yang membuat orang Muslim menjadi marah dan yang memakan nyawanya.

Bagaimanapun, sumbangsih Khalifa sangat penting. Dengan penyangkalannya yang penuh terhadap hadith dan upayanya yang serius untuk menafsirkan Quran kembali sedemikian sehingga membuang pesan-pesan yang keras dan tidak toleran, ia memulai sebuah gerakan baru di kalangan pseudo-cendekiawan yang kini berlagak mempromosikan Islam yang lebih lembut dan yang tidak menganjurkan pembunuhan orang yang murtad dan tidak mengobarkan perang suci.

Penyangkalan mereka terhadap hadith bahkan hingga menyangkali segala sesuatu berkenaan dengan sejarah Muhammad. Tujuan mereka untuk menghadirkan Quran sebagai buku yang logis yang memuat mukjizat-mukjizat telah membuat mereka membengkokkan setiap aturan nalar. Mereka menggunakan ayat-ayat berikut untuk membenarkan klaim mereka.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS 12:111)

Dan,

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS 31:6)

Namun, ayat-ayat ini tidak memuat penyangkalan terhadap hadith. Muhammad diejek oleh kaumnya dan Qurannya disebut sebagai kisah-kisah tidak masuk akal dan aneh. Kata “kisah” atau “cerita” dalam bahasa Arab adalah “hadith”. Dalam ayat-ayat ini Muhammad sedang membela klaimnya dengan mengatakan bahwa apa yang ia katakan adalah wahyu, bukan cerita dongeng (hadith) yang diciptakan atau omongan tidak bernilai. Ia mengatakan bahwa dongeng telah menyesatkan mereka sedangkan Quran menuntun mereka. Orang-orang yang tunduk adalah orang-orang yang menipu, sama seperti semua orang Muslim. Hadith-hadith yang ditolak Muhammad adalah kisah-kisah yang diceritakan para lawannya, bukan yang disampaikannya. • (AS)

Alisina.org

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • pengumuman  On 11 February 2014 at 09:59

    matahari tenggelam di kolam lumpur hitam itu ilmiah,yakni tentang SUNSET, isyarat Quran bahwa bumi itu bulat,kalau bumi tidak bulat maka tak akan bisa terjadi peristiwa sunset,tenggelamnya matahari di pantai saat senja.

    • nano  On 22 April 2014 at 10:24

      Sunset kontol muhammad dalam opes aisyah

  • pengumuman  On 11 February 2014 at 10:03

    kebenaran ayat Quran itu mutlak. otak manusia yang terbatas, sedangkan maka ayat Quran itu begitu luas dan dalam,tak kan habis dikaji hingga kiamat tiba.

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: