Kisah-kisah Muhammad yang Tidak Diceritakan Sebelumnya (Bagian 3)

Oleh: Mohammad Asghar

Bagian Tiga

Berlawanan dengan pendirian para muslim bahwa Muhammad aslinya diciptakan oleh tuhan sebagai orang yang percaya akan satu Tuhan, Muhammad dulunya adalah seorang penyembah berhala yang memberikan korban pada Al-Uzza, berhala yang dipercaya menjadi satu dari tiga anak perempuannya tuhan (cf 42:52). Kaum Quraish sangat memuja Al-Uzza, mereka percaya bahwa dengan perantaraannya mereka akan diterima oleh Tuhan, ayah mereka. Satu dari pamannya dinamai seperti nama berhala ini, dan dia dipanggil Abd al Uzza, budaknya Uzza, sebelum diberi nama kecil Abu Lahab, ayah api, oleh musuh-musuh muslimnya.

Mengenai latar belakang berhalanya Muhammad, F.E. Peters menulis: Menurut riwayat yang terkenal, meski banyak di edit, adalah Muhammad muda-lah seorang penyembah Berhala dan Zayd ibn Amr seorang monoteis.

Peters juga mengutip Zayd ibn Haritha, yang katanya menceritakan kisah berikut pada anaknya: Sang nabi menyembelih anak kambing untuk salah satu patungnya (nusub min al-ansab); kemudian dia memanggangnya dan dibawanya. (Muhammad and the Origins of Islam, hal 126).

Waktu mengkhotbahkan ke-esaan Tuhan, Muhammad terus menerus, dalam satu bentuk dan lainnya, memuliakan patung-patung yang hingga saatnya dia menaklukkan Mekah, semua patung yang disimpan didalam dan diluar Kabah akhirnya dihancurkan.

Dalam awal-awal kehidupannya, Muhammad tidak berbeda dengan anak-anak lain sejamannya. Dia biasa “menghabiskan malam-malam di Mekah selayaknya yang anak muda lain lakukan” – (Ibn Ishaq. Op. cit, hal 81) – dalam bilik-bilik dimana para pelacur menawarkan tubuh mereka pada para pemuda yang mereka harapkan akan membela mereka ketika terjadi kesulitan. Perkawinannya dengan Khadijah mungkin sedikit mengubah gaya hidupnya, tapi itu bukan alasan melepas kebiasaannya itu.

Muhammad juga seorang pengikut setia pasar malam, yang di Arab, tidak hanya menjadi ajang aktivitas bisnis, tapi juga tempat kontes puisi antara individu yang berbeda, dengan hadiah bagi pemenangnya. Khususnya pada pasar malam Oqadh; puisi pemenang digantung sebagai trophi didinding Kabah. Pada pasar-pasar malam ini, para kontestan juga melantunkan kisah-kisah Arab mereka yang terkenal. Mereka juga menyebarkan praktek-praktek agama yang kemudian terdapat banyak di semenanjung. Dari sumber-sumber mulut kemulut macam ini, Muhammad pelahan mengumpulkan informasi beragam mengenai sabda-sabda dan doktrin-doktrin, yang kemudian akan dia lantunkan pada para pengikutnya sendiri.

Seperti juga kebiasaan dari sukunya, Muhammad suka bertapa di gua-gua di gunung Hira untuk mempraktekan tobat pada 10 Muharam, sebuah hari suci bagi umat Yahudi juga. Mengikuti kebiasaan Yahudi, ia juga berpuasa pada hari itu. (Phillip K. Hitti, History of the Arabs, hal 133, lihat juga Karen Armstrong A History of God, hal 132).

Penggunaan Alkohol dalam Islam

Para Muslim memuja Muhammad sebagai orang yang bebas dari minuman keras dalam kehidupannya. Sudut pandang ini bertentangan dengan fenomena umum. Dia menjadi bagian dari masyarakat yang mestinya membuat dia mudah terkena semua praktek-prakteknya. Jika dia ingin mendapat perlindungan dari sukunya, dia harus ikut berpartisipasi dalam kegemaran masyarakatnya, termasuk minum minuman yang baunya sangat menyengat yang disebut maghafir, seperti anggur. Arab pribumi membuat maghafir dari ekstrak pohon palem dan kemudian dibuat ragi sebelum dikonsumsi (16.67. Juga lihat Maulana Ashraf Ali Thanvi, Asmani Quran Sharif, hal 902).

Karena orang-orang Arab umumnya ketagihan minum, Quran tidak jelas merinci minum alkohol sebagai “Haram”; apa yang diperlukan oleh muslim adalah agar jangan mendirikan shalat dalam keadaan mabuk (QS 4:43), dan bahwa mereka mencoba untuk “menghindarkan atau menahan diri” dari minum (QS 5:93,94), jadi ikut menguatkan sebagian, kondisi yang oleh Torah dan Bible dikatakan masing-masing pada Yahudi dan Kristen (Ibrani 10:9).

Dalam keadaan ini, dapat dimengerti jika Muhammad sendiri minum maghafir dan anggur, dia pastilah berpikir alangkah bijaksananya jika melarang minuman memabukkan itu secara samar-samar. Dia pasti mempertimbangkan segi politisnya untuk meminta pada para pengikutnya agar mengurangi pemakaian alkohol, karena dia sendiri mengalami dampak jelek dari minum berlebihan.

Saat bekerja untuk para pedagang Mekah, Muhammad jadi tahu jumlah keuntungan yang didapat dari bisnis ini. Dia juga sadar bagaimana mereka membelanjakan uangnya untuk membuat hidup mereka dan hidup anak-anak mereka lebih baik. Cerminan dari keadaan buruk dan penderitaan masa kanak-anaknya meyakinkan dia bahwa para pedagang Mekah bukan hanya serakah dan mengabaikan kemiskinan penduduk kota, mereka juga tidak baik pada anak-anak yatim. Kesadaran ini membuatnya berbalik melawan para pedagang, dan dia bersumpah untuk suatu bari memaksa mereka agar membagi kekayaan mereka padanya dan pada orang-orang miskin.

Dia juga berperasaan buruk pada para penjaga Kabah. Dia tuduh mereka bukan hanya menghalangi “yang lain mendatangi mesjid suci” (QS 8:34); dia juga mempertanyakan hak mereka menjadi penjaganya. Dia percaya bahwa mereka menyalahgunakan otoritas mereka dengan menghindari pembagian pendapatan mereka kepada mereka yang berhak mendapatkan. Dalam penilaiannya, hanya orang yang takut tuhan yang sudi membagi kekayaan kuil pada orang miskin dan yatim, yang lebih berhak untuk menjadi penjaga dari Kabah.

Ketidak-tergantungan keuangan yang didatangkan dari pekerjaanya membuatnya mendapat kesempatan untuk melihat ke belakang dan mengingat kembali perlakuan yang dia terima dari para perempuan keluarga Abd al Motallib dan Abu Talib. Dia juga ingat ibunya yang menelantarkannya. Gabungan kejadian-kejadian yang harus dialaminya ini membuatnya menjadi lebih pahit. Dia merasa dikhianati, khususnya oleh perempuan yang dia harapkan menyayangi dan mencintai dia.

Pengulangan kejadian masa lalu yang memalukan, pengkhianatan, perlakuan buruk dan penghinaan dalam pikirannya ini ditambah oleh instink balas dendam terhdp sukunya terwujud dalam pikirannya. Dia bersumpah untuk membalas penderitaannya dengan cara yang lebih efektif, sistematik dan halus. Perlakuan pada wanita dan larangan-larangan yang diberlakukan pada mereka melalui Quran dan juga perlakuan Muhammad sendiri pada istri-istrinya menjadi contoh yang baik untuk membuktikan pendapat ini.

Dengan berlalunya waktu, Muhammad menjadi semakin pasti mengenai ambisinya.

Di umur 25 tahun, Muhammad mampu mematangkan semua rincian dari rencana tersebut. Ini juga waktu yang tepat baginya untuk menikah. Dia perlu menikahi seorang wanita yang bukan hanya mau mendukungnya secara keuangan, tapi juga mau menjadi partnernya dalam menjalankan rencana yang telah dia siapkan untuk masa depannya. Dan tidak begitu banyak wanita di Mekah, yang dapat memenuhi kriteria ini dan menjadi istrinya.

Pada saat Muhammad mencari calon pengantin yang cocok, di Mekah tinggal seorang janda bernama Khadijah, anak dari Khuwalid, dari suku Quraish. Dia telah dua kali menikah. Suami terakhirnya, seorang pedagang kaya, baru-baru ini meninggal dan jandanya perlu menyewa tenaga untuk mengurus usaha dagangnya yang besar.

Khadijah punya sepupu bernama Waraqa ibn Nofal. Dia terkenal sebagai monoteis dan dipercaya telah menerjemahkan sebagian besar dari Injil kedalam bahasa Arab. Dia berpengaruh banyak pada adiknya, Khadijah, yang mengaku membaca karya-karya terjemahannya. (Sir John Glubb, “The Life and Times of Muhammad”, hal 6. Keduanya memegang pandangan yang sama mengenai masalah religius, tapi dalam kasus dimana mereka berbeda pendapat, pendapat dari Waraqa yang selalu menang.

Muhammad menjadi dekat dengan Khuzaima, kemenakan dari Khadijah, diwaktu perjalanan bisnisnya. Khuzaima melihat bagaimana Muhammad melakukan urusan dagangnya dengan cara yang menguntungkan dan eficien dan dia terkesan. Setelah pulang kerumah, mereka jadi sering bertemu didalam dan sekitar Kabah, tempat yang paling sering dipakai Muhammad untuk menghabiskan waktunya setelah melakukan praktek Haji, tujuh putaran mengelilingi tempat suci ini.

Suatu hari, dalam salah satu pembicaraannya dengan Khuzaima, Muhammad menunjukkan hasratnya untuk mencari kerja yang dapat memberinya upah lebih banyak dari sekarang. Khuzaima bilang bahwa bibinya, Khadijah, mencari agen dagang yang cakap dan bahwa dia mungkin kandidat yang cocok untuk itu. Dia janji akan bicara pada Khadijah dan akan mencoba mengatur wawancara untuknya. Khuzaima menepati janjinya, dan dia bicara pada Khadijah. Khadija setuju untuk bertemu calon agennya.

Pada waktu yang sudah dijanjikan, Muhammad mendatangi Khadijah. Dia melihat anak muda berumur 25 tahun berdiri dihadapannya. Ukuran tubuh sedang, hampir ramping, dengan kepala besar, bahu lebar dan tubuh proporsional. Rambut dan jenggotnya tebal dan hitam, tidak lurus tapi sedikit ikal. Panjang rambutnya hingga keleher, dan jenggotnya juga. Dia punya dahi yang bagus dan mata yang lebar, dengan bulu mata dan alis yang panjang melengkung meski tidak menyatu. Matanya coklat atau coklat muda. Hidungnya bengkok dan mulutnya lebar. Meski jenggotnya dibiarkan tumbuh, tapi kumisnya tidak menutupi mulutnya. Kulitnya putih tapi kecoklatan karena sinar matahari (Perincian ini diambil dari buku Martin Ling: Muhammad, hal 35).

Suaranya punya sentuhan musik dan kalimat-kalimat yang diucapkan mempunyai nada seperti puisi-puisi terkenal Arabia ciptaan Labid. Khadijah sangat terkesan dan dia menyewanya untuk menjalankan dagangnya.

Dia tunjuk kemenakannya, Khuzaima, dan budak perempuannya, Maisara, untuk membantunya dalam misi dagang ke Syria, Yemen dan tujuan-tujuan lain dari waktu ke waktu. Selama misi-misi dagang ini, dia melakukan semua tugas-tugasnya dengan rajin, dengan begitu mendapat penilaian baik dari majikannya. Dia mengirim Muhammad kebagian selatan Arab untuk hal yang sama, dan semuanya mencapai sukses melebihi harapan sang majikan. Pada setiap kesempatan, Muhammad harus membuktikan kemampuannya, dia lakukan itu dengan baik hingga dia menjadi kesayangan sang majikan, tiap kali Khadijah mendengar keberhasilannya; ini bukan hanya membuatnya menghargai Muhammad tapi juga membuatnya suka.

Khadijah berumur 40, dewasa dengan berpengalaman. Dia rindu akan pasangan yang dapat memberi semua hal yang dia rindukan sejak suami terakhirnya meninggal. Dia telah mempertimbangkan beberapa calon, tapi, akhirnya pilihan jatuh pada Muhammad.

Meski hatinya rindu akan kemudaan yang segar dan menarik, tapi dia menahan diri sebelum mengambil langkah-langkah untuk memenuhi hasratnya. Dia harus mengatasi tradisi Arab Kuno dan keluarganya sendiri yang menghalangi wanita seumurnya untuk menikah. Ia khususnya mengkhawatirkan pamannya, Amr ibn Asaad, yang tanpa persetujuannya mustahil baginya untuk menikah dengan pria idamannya. Dia perlu membuat sebuah situasi yang bukan hanya dapat membuat pria idamannya kelihatan spesial, tapi juga dapat membuat pamannya mengijinkan pernikahan dengannya.

Segera sebuah kesempatan datang bagi Khadijah untuk dipergunakan. Suatu siang, dia sedang diluar rumahnya bersama para pembantu, mengawasi kedatangan karavan Muhammad. Begitu hampir dekat, sekelompok awan muncul di cakrawala, menghalangi sinar matahari. Melihat kesempatan ini, dia berteriak pada pembantunya: “Lihatlah! Itu Allah tercinta (dewa berhala Kabah, Allah) yang mengirim dua malaikat untuk menjaganya!”

Para pembantunya memicingkan mata dan mencoba melihat sejauh mereka mampu, berusaha mencari malaikat-malaikat itu, tapi tidak melihat apa-apa. Karena telah tahu akan hasrat majikan mereka pada Muhammad, mereka ikut-ikutan, dan berteriak keras-keras mengikuti majikannya. Tujuan ini adalah untuk menaikan derajat Muhammad, apa yang dilakukan Khadijah, seakan-akan Muhammad disertai Malaikat, juga untuk memperingatkan pamannya akan balasan dari surga jika dia menolak lamaran Muhammad untuk menikahi keponakannya.

Khadijah juga tidak mau buang-buang waktu dan menawarkan dirinya kepada Muhammad melalui budak kepercayaannya, Maisara. Muhammad memang sedang menunggu-nunggu mukjizat, dan ketika dia mendapat tawaran ini, dia menerimanya langsung. Kini, menurut tradisi Arab, ia tinggal perlu membuat lamaran resmi pada pamannya Khadija Amr ibn Assad yang bertindak sebagai pelindungnya. (Ayah Khadijah tewas dalam perang.)

Tradisi pernikahan Arab sangat berbeda dari yang biasa dilihat oleh muslim non-Arab saat ini. Dalam tradisi Arab bahkan saat inipun, pengantin lelaki harus melamar pengantin perempuan melalui orangtua atau pelindungnya, dan jika mereka menerima lamaran, pengantin lelaki harus membayar mas kawin/mahar pada orang tua atau pelindungnya tersebut dengan maksud untuk membuatnya bisa menikahi anak mereka. Perkawinan Arab bukan perkawinan religius. Berlawanan dengan tradisi Arab, pengantin perempuan muslim non-arab harus membayar mahar pada pengantin lelaki dan perkawinan dilakukan dengan religius.

Mengikuti tradisi mereka, Abu Taleb dan Hamzah, dua paman Muhammad, menemani keponakan mereka ke rumah Khadijah, dimana dia diam-diam membuat pesta. Dia, kelihatannya belum memberitakan ini pada pamannya; dia sengaja membuat pamannya tidak sadar akan maksud perayaan ini. Setelah semua hadir, Muhammad meminta ijin ibn Assad untuk menikahi keponakannya (Khaidjah). Mendengar ini, si orang tua murka dan menolaknya. Dia menjelaskan bahwa semuanya tidak cocok: umur Muhammad, fakta bahwa dia itu anak buahnya dan, diatas itu semua, dia tidak punya cukup uang untuk menikahi Khadijah yang kaya. Dalam pikirannya, perkawinan ini hanya akan mengurangi kekayaan Khadijah, bukannya menjaganya dalam keluarga. Kejadian-kejadian berikut membuktikan bahwa si orang tua ini benar.

Khadijah sudah mempersiapkan diri akan reaksinya ini. Dia terus menerus mengisi gelas anggur pamannya hingga mabuk. Setelah pamannya mabuk, Khadijah memberi tanda dan Abu Taleb langsung pidato, menerangkan kehebatan-kehebatan keponakannya, Muhammad, setelah itu Khadijah sendiri juga memberikan pidato, menerangkan bagaimana para malaikat telah melindungi dia dari panas matahari dan juga membesar-besarkan semua perbuatan-perbuatan Muhammad baginya dan keluarganya. Akhirnya, dia mendesak pamannya untuk mengakui kebaikan-kebaikan Muhammad, dan untuk menerimanya sebagai menantu.

Setelah Khadijah pidato, semua yang hadir meminta Amr ibn Assad untuk menjawab. Sebelum dia sadar apa yang terjadi, dia telah membuat pidato yang isinya menyetujui pernikahan itu. Waraqa ibn Nofal juga menjawab; dan Muhammad langsung mengenakan hadiah jubah pada sang orang tua, yang menurut tradisi Arab, calon menantu harus memberi jubah pada calon mertua saat pernikahan. Khadijah langsung menandatangani kontrak pernikahannya sebelum sebelum pamannya sadar bahwa dia telah ditipu dan menyatakan pernikahan ini sah. Pernikahan ini dikatakan terjadi pada tahun 595 M, ketika Muhammad berumur 35 dan pengantin perempuannya 40 tahun.

Kejadian seputar perkawinan Muhammad-Khadijah ini layak mendapat perhatian khusus, bukan hanya karena ini sebuah batu loncatan bagi calon ‘nabi’ ini, tapi juga karena menggambarkan posisi yang dipegang wanita yang menjalankan bisnisnya. Khadijah-lah, bukan calon suaminya, yang pertama minta dinikahi. Selain Khadijah, kita juga tahu bahwa ada wanita-wanita lain dijaman sebelum islam yang bukan hanya berperan dalam urusan-urusan dagang, dll, di Mekah disisi laki-laki mereka, mereka juga berpartisipasi dalam perdagangan tanpa dicampuri oleh para laki-laki. Mereka, sering menggunakan pengaruh yang besar sebagai nabi-nabi wanita atau sastrawan.

Pada perayaan pasar-pasar malam didekat Mekah, khususnya pekan raya di Oqhad, wanita dikenal sering ikut bersama-sama dengan laki-laki dalam kontes lomba puisi dan baca puisi dihadapan umum.

Fakta sejarah diatas menunjukkan luasnya kebebasan wanita Arab yang dinikmati sebelum munculnya Islam dan mementahkan klaim para cendikiawan Muslim yang berkata bahwa Islam-lah, yang memberi mereka kebebasan yang telah mereka nikmati dalam dunia modern kita. Kenyataannya, ini jelas bertentangan dengan fakta. yang benar, Islam, telah merampas kebebasan-kebebasan wanita sebelumnya dan membuat mereka budak dibawah tindakan dan keinginan laki-laki mereka.

Gaya Hidup Nabi Muhammad Setelah Perkawinannya dengan Khadijah

Seperti yang Muhammad harapkan, perkawinannya dengan Khadijah mengubah hidupnya. Ia jadi kaya mendadak dan berpengaruh dalam kota tersebut. Dia bukan lagi pelayan; sebaliknya, dia menjadi pemilik kekayaan dan bisnis (istrinya). orang-orang mulai menghormatinya. Mereka juga mengijinkannya berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan resmi maupun tidak resmi mereka, sebuah keistimewaan yang tidak dia miliki sebelumnya. Kini ia tinggal dalam sebuah rumah tangga dimana kebijaksanaan para penghuninya sangat mempengaruhi pendapat- pendapat religiusnya. Khususnya pengaruh Waraqa ibn Nofal, seseorang yang berpikiran spekulatif dan beriman fleksibel; aslinya seorang Yahudi, kemudian menjadi Kristen, dan mengaku sebagai ahli astrologi.

Setelah perkawinan, Muhammad terus bekerja untuk istrinya tapi sekarang dengan peran yang lebih menentukan. Dia menunjukkan dirinya sebagai contoh diantara orang-orang, bukan hanya dalam hal pemberian jasa baik, tapi juga dalam menangani situasi. Disini, kita akan merinci sebuah krisis yang melibatkan orang-orang Mekah dan yang, katanya, dia bantu selesaikan secara damai dan dengan begitu mendapat kekaguman orang-orang.

Di tahun 605 M, ketika Muhammad berumur 35 tahun, orang-orang Quraish memutuskan untuk memasang atap Kabah, yang, kelihatannya, sampai saat itu hanya terdiri dari empat dinding tanpa penutup bagian atas. Dinding yang ada terlalu lemah untuk menahan beban atap, hingga, orang Mekah memutuskan untuk mengganti seluruh strukturnya, dan diganti dengan bangunan baru memakai atap. Setelah membangun dinding-dinding baru, mereka menghadapi dilemma dalam mencari papan kayu dan tukang kayu untuk membuat atap, karena keduanya tidak bisa ditemukan diseluruh jazirah Arab.

Dalam keadaan yang menyedihkan ini, kebetulan ada sebuah kapal, kepunyaan pedagang Yunani yang kandas, mungkin karena batu-batu karang diperairan Jeddah. Kecelakaan ini memberi orang-orang Mekah yang sedang putus asa, kayu-kayu bagi atap Kabah, dibantu oleh tukang kayu Koptik Mesir, yang kebetulan ada di Mekah saat itu.

Kisah pemasangan atap Kabah menunjukkan aspek penting dalam kehidupan orang-orang Mekah saat itu. Fakta bahwa kuil itu sendiri tidak punya atap berarti bahwa “Rumah Tuhan” ini terdiri dari tenda-tenda yang dikelilingi oleh dinding-dinding. Dengan demikian, orang-orang Mekah saat itu juga harus hidup, karena terpaksa, dalam rumah-rumah tanpa atap.

Sebuah batu hitam besar, kemungkinan sebuah meteorit, telah dipasang pada dinding Kabah sebelumnya. orang-orang Mekah dan juga para peziarah pagan sangat memujanya. Ketika pembangunan dinding mencapai level dimana batu hitam sebelumnya ditanam, tiap klan dari suku Quraish berebut kesempatan untuk menempatkan batu tersebut ditempat semula. Terjadilah debat hangat yang nyaris berujung pada pertumpahan darah.

Pada titik ini, Abu Umaiya dari klan Bani Makhzoom, orang tertua disuku Quraish, datang dengan saran. Dia menyarankan pada semua yang hadir agar harus setuju bahwa orang pertama (selain yang hadir disana) yang memasuki halaman Kabah dari saat itu harus diminta pendapatnya akan hal ini. Semua setuju dan mulai menunggu kedatangan orang yang dimaksud.

Beberapa menit kemudian, mereka melihat Muhammad memasuki halaman Kabah. Setelah diberitahu kejadian yang telah disetujui semua, Muhammad meminta jubah, dilebarkan ditanah dan batu hitam ditaruh diatasnya. Lalu dia meminta masing-masing wakil suku untuk memegang ujung jubah dan mengangkatnya bersamaan, setelah ini lalu Muhammad sendiri dengan tangannya menaruh batu tersebut diposisinya pada dinding, dengan begitu menyelesaikan masalah rumit ini dengan kepintarannya.

Episode ini dikatakan telah menaikkan status dan derajatnya, membuat orang-orang membawa perselisihan mereka padanya untuk diselesaikan.

Panggilan Tuhan

Pada periode setelah perkawinan Muhammad-Khadijah tapi sebelum dimulainya khotbah akan satu tuhannya, banyak orang-orang religius di Mekah diceritakan mundur dari pemujaan patung di Kabah.

Yang terkenal dari antara mereka adalah :

  1. Waraqa ibn Nofal,
  2. Ubaydullan ibn Jahsh,
  3. Usman ibn al-Huwayrith, dan
  4. Zaid ibn Amr.

Banyak penyembah berhala lain juga berbalik pada monoteisme dengan kesadaran bahwa mereka telah merusak agama kakek moyang mereka, Abraham, dan bahwa tumpukan batu yang mereka kelilingi ini tidak ada artinya. Akhir kata, mereka ingin melihat sebuah perubahan bentuk dan substansi dari agama mereka yang kuno. yang lainnya, yang tidak puas dengan Judaisme dan Kristen, terus melakukan pencarian mereka, mencari Hanifiyah, agama murni dari Abraham (ibn Ishaq, op. cit. hal 99).

Mereka khususnya tertarik melihat Hanifiya diperkenalkan sekali lagi, dengan alasan bahwa mereka percaya bahwa jika Abraham, kakek moyang mereka, punya kuasa atas Rumah Tuhan, dia membagi pendapatannya dengan seluruh orang-orang Mekah, dengan begitu menolong mereka-mereka yang kelaparan dan miskin. Penjaga Kabah sekarang egois, yang tidak hanya memakan semua pendapatan, tapi mereka juga memegang keras aktivitas-aktivitas religius ekstra mereka. Mereka ingin semua ketidakadilan dan larangan-larangan dari para penjaga Kabah ini diakhiri.

Waraqa ibn Nofal yang manipulatif dan opportunis, setelah melihat orang-orang Mekah menderita dan kecewa dengan pemujaan patung, merasa percaya diri, pada tahap ini, dengan mengenalkan doktrin satu tuhan dan juga konsep kebangkitan. Karena dia tidak dapat melakukannya sendiri, dia mulai mencari seseorang dari antara  suku-suku yang berpengaruh di Mekah untuk melakukan misi ini atas namanya. Dia mengkonsultasikan ini dengan adiknya Khadijah, dan keduanya menemukan calon yang bernama Muhammad Mustafa, yang memenuhi kriteria yang oleh keduanya dianggap perlu untuk mencapai tugas yang penuh risiko dan sulit ini. Setelah berbicara dengannya, ia bukan hanya mau bekerja sama, bukan hanya karena keinginan mereka saja tapi juga karena keinginannya juga sama, ia ingin mencari pengikut.

Para Muslim tidaklah bodoh. Mereka bisa melihat bahwa Islam adalah salah. Mereka tahu ayat-ayat Quran bertentangan satu sama lain. Mereka tahu Islam bertentangan dengan kecerdasan manusia dan tidak masuk akal, tapi mereka begitu terjebak di dalamnya sehingga mereka tidak bisa meninggalkannya. Mereka memaksa diri mereka untuk percaya, karena tanpa itu, mereka bagaikan tersesat. –Ali Sina.

Muhammad meneruskan konsep dan doktrinnya, yang kebanyakan dia ambil dari Judaisme dan Kristen, yang telah secara acak tersimpan dalam ingatannya. Karena dia tahu bahwa misinya akan menghadapi tantangan yang besar, dia ingn belajar lebih banyak lagi mengenai Tauratnya orang Yahudi dan juga Kitabnya orang Kristen. Dia juga berhasrat untuk mengetahui sejauh mungkin tradisi Talmud dan Midrash, yang berlaku diantara kelompok-kelompok Yahudi. Waraqah setuju, dan mereka memulai proses belajar dan mengajar tanpa ditunda-tunda.

Proses ini tidak dapat dimulai dari rumah Waraqah atau Muhammad, karena itu bisa ketahuan oleh orang-orang kota. Muhammad, mungkin dipengaruhi oleh para pertapa Kristen yang, dalam perjalanannya ke Syria hidup di gua-gua, memilih satu dari banyak gua di gunung Hira. Muhammad dan Waraqa menghabiskan banyak waktu mereka di gua, sering ditemani oleh Khadijah. Waraqah melihat muridnya ini punya ingatan yang luar dan nafsu belajar yang besar. Dia keluarkan semua pengetahuannya akan Midrash dan Talmud.

Bersambung ke BAGIAN EMPAT

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • abu mush'ab al arkhabily  On 2 December 2015 at 09:39

    Makin ke sini, makin g karuan dan ngawur aja sih ni situs
    1. Sejak kecil,beliau SAW adalah penganut agama Ibrahim yg lurus, beliau TDK PERNAH MENYEMBAH BERHALA, bahkan paman beliau sempat agak marah pada beliau SAW saat beliau menolak datang ke perayaan berhala
    2. Beliau TDK PERNAH MENDEKATI,MENYENTUH,APALAGI MINUM KHAMR
    3. Adapun pengharaman khamr dlm kitab suci ALQUR’AN memangdilakukan scr bertahap,namun akhirnya scr tegas disebut HARAM. Shg ‘abdurrahman bin auf,seorang yg tdny pedagang khamr pun rela menghancurkan smw khamr ny
    4. ISLAM tdk masuk akal dan tdk sesuai ilmu
    Kata siapa? Kata kamu kan? Kata org2 yg hanya menuruti hawa nafsu kan???
    Trs gmn donk dgn bukti sains yg menunjukkan bahwa ISLAM memang benar. Yg mana smw bukti itu BENAR ADANYA bukan HOAX
    5. Al QUR’AN kontradiktif???
    Tuduhan ini udh sering dilontarkan musuh ISLAM,namun ALLAH selalu mementahkannya lewat perantaraan hmba2Nya
    6. Hubungan dgn yahudi dan nasrani
    Terkait ini,knp km tdk jelaskan scr lengkap siapa itu waraqah dan apa kata waraqah saat beliau menerima wahyu pertama di gua hira’? Knp kamu tdk jelaskan ada brp saja yahudi dan nasrani yg jd saksi kenabian beliau SAW?

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: