Kisah-kisah Muhammad yang Tidak Diceritakan Sebelumnya (Bagian 5)

Oleh: Mohammad Asghar

Bagian Lima

Kita telah mencapai tahun kelima dari misi Muhammad. Dari waktu ke waktu dia menghadapi perlawanan kaum pagan akan khotbahnya, tapi mereka tidak pernah berhasil menghentikannya sepenuhnya. Meski dia menikmati kebebasan yang dia dapatkan dalam menjalankan aktivitas misinya, dia tidak pernah mampu mendapatkan lebih dari 60 sampai 70 pengikut untuk waktu sekian lama ini.

Dalam tahap ini, kita akan sedikit menyimpang dari jalur cerita, dan menggambarkan hari-hari melelahkan dari Muhammad, setelah melakukan misi selama 5 tahun, di Mekah yang atmosfirnya penuh keagamaan.

Seperti telah diceritakan sebelumnya, adalah Khadija, yang bersama dengan sepupunya, yang mengusulkan Muhammad untuk menemukan sebuah agama bagi Mekah untuk menetapkan kesatuan dari tuhan. Dia melakukan misi ini bukan hanya karena istrinya meminta, tapi juga punya alasan sendiri, yang telah kita tulis sebelumnya, ia yakin bahwa istrinya rela membiarkan dia menggunakan seluruh kekayaannya dengan alasan misi ini.

Selama 5 tahun, Muhammad hidup dari kekayaan istrinya. Dia juga menggunakan kekayaan itu untuk memberi makan pengikut-pengikut muslimnya, banyak diantara mereka adalah bekas budak dan orang-orang pengangguran. Hal terbaik dari ini adalah ia bisa menggunakan harta istrinya untuk menyogok kaum pagan yang condong ke arah islam, tapi menahan diri untuk memeluknya. Singkatnya dia menggunakan kekayaan istrinya untuk semua tujuan yang dibutuhkan demi mencapai apa yang telah dia rencanakan lima tahun lalu. Jadi bukan semata-mata karena khotbahnya yang menarik para pengikut itu.

Tapi ketika modal hartanya menipis, dan dia tidak lagi melakukan aktivitas dagang untuk waktu yang lama, dia mulai merasa tekanan-tekanan karena hal ini. Karena itu dia mulai mencari jalan lain yang dapat mengurangi tekanan-tekanan karena kekurangan dana ini.

Untuk mengerti apa yang mungkin Muhammad pikirkan agar tekanan kebutuhan dana ini teratasi, kita perlu mempertimbangkan kondisi-kondisi tertentu yang berlaku di masyarakat Arab pada periode waktu itu. Telah disebutkan bahwa Muhammad awalnya melakukan gerakan untuk memaksa kaum pagan agar menyembah Allah saja. Ini diikuti oleh serangannya terhadap pedagang-pedagang Mekah yang kaya raya dengan alasan bahwa mereka berbangga diri akan kekayaannya dan menolak membagi pada yang miskin, yatim dan yang membutuhkan. Meskipun ini memberinya pendukung, ini juga merugikan orang-orang yang tadinya ia ingin bantu. Inilah mendorong Muhammad untuk mengadakan rencana perdamaian, dengan tujuan untuk menenangkan lawan-lawannya. Tanpa menyadari akan implikasi dari rencananya, dia meng-umumkan bahwa dia menerima ketuhanan dari “Lord of the House (Tuan sang empunya Rumah)”, yang disembah orang-orang pagan dalam bentuk patung yang dipasang didalam Kabah. Dia melanjuntukan kelonggaran ini dengan mengijinkan para pengikutnya untuk menyembah patung-patung dari al-Lat, al-Uzza dan al-Manat bersama-sama dengan kaum pagan. Semua orang kemudian senang karena kekerasan telah berakhir. Tapi kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Bagi para muslim, masa ‘damai’ ini dikenal sebagai “Gharaniq”.

Menurut seorang penulis Muslim, ini terjadi di Mekah diakhir tahun ke-5 atau awal tahun ke-6 dari khotbah-khotbah nya. (Dr. Majid Ali Khan, “The Holy Verses”, hal 32-37).

Dia mengambil langkah damai ini untuk menenangkan penduduk miskin Mekah agar mereka dapat terus mendapat bantuan mereka. Namun tiba-tiba dia mencabut perjanjian damai ini, menya-takannya sebagai tindakan Setan, ketika dia sadar bahwa ia membolehkan kaum pagan menyembah patung-patung mereka. Dia menarik pendiriannya dan menegaskan monoteisme absolut. dengan begitu ia juga merusak kredibilitasnya sebagai nabi. Untuk membela diri dari apa yang diakuinya sebagai kekeliruan, dia menyalahkan sang Setan, yang, katanya, telah menaruh kata-kata itu dimulutnya, meskipun dia sering mengaku telah mendapat perlindungan penuh dari tuhan agar dihindarkan dari pengaruh-pengaruh setan.

Penarikan pernyataan ini tidak ditanggapi dengan baik oleh kaum pagan dan mereka menjadi murka. Menganggap penarikan pernyataan Muhammad sebagai tindakan khianat, mereka memutuskan untuk menentang agamanya dengan lebih keras lagi. Kalau saja Muhammad tidak mendapat perlindungan dari pamannya Abu Talib, mereka mungkin bisa membereskannya saat itu juga.

Dalam 5 tahun terakhir, apa yang dicapainya sangat menyedihkan. Oposisi kaum pagan semakin bertambah, sumber keuangannya menipis dan, meski mendptkan perlindungan Abu Talib, kebanyakan pengikutnya, yang tidak punya status sosial atau perlindungan, mengalami penyiksaan fisik ditangan tuan mereka atau bos-bos. Terlebih lagi, dia juga gagal menyediakan pekerjaan pengganti bagi mereka yang meninggalkan pekerjaan untuk menjadi pengikutnya.

Akibatnya, dia merasa ketidaknyamanan melanda para pengikut-nya. Dia, dengan ini, perlu mengalihkan perhatian mereka. Dia juga perlu mengambil langkah yang bukan hanya dapat mengangkat iman para pengikutnya, tapi juga untuk menahan rasa permusuhan lawan-lawannya.

Dengan tujuan ini, Muhammad mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukannya. Dari para pengikutnya yang berasal dari Abyssinia, dia tahu seorang Kristen (Negus) menguasai Abyssinia yang toleran terhadap agama-agama lain. Dia juga tahu bahwa Negus menyimpan ambisi akan Mekah dan tidak suka dengan orang-orang Persia yang menyebarkan pengaruh-pengaruh mereka dalam pemujaan berhala.

Akhirnya, Abyssinia bagi Muhammad kelihatan sebagai negara pilihan yang sempurna untuk minta pertolongan. Karena itu dia menyiapkan dan mengirim delegasi ke Abyssinia. Delegasi ini terdiri dari 11 anggota, termasuk Ruqayyah, anak perempuannya. Usman, suaminya, diangkat sebagai pemimpin delegasi. Tujuan yang harus dicapai delegasi ini adalah:

  1. Muhammad sadar bahwa orang-orang Abyssinia berhasrat mengambil kembali kekuasaan Arabia mereka yang telah hilang; dan juga bahwa untuk menolong sekutu Byzantium mereka yang baru saja menderita kekalahan ditangan Persia, mereka sudi mendengar ide apa saja untuk mengalihkan perhatian musuh-musuh mereka. Delegasi ini bertugas untuk meyakinkan Negus agar menyerang Mekah dan mengambil alih pemerintahannya. Anggota lain dari delegasi ini punya instruksi yang harus dibacakan di depan tahta Negus, kisah-kisah mengerikan mengenai bagaimana tuan mereka (kaum pagan) yang bukan hanya menyiksa, tapi juga membuat mereka mati kelaparan. Jika telah diyakinkan, dan jika Negus mengambil alih Mekah, dia harus memilih Muhammad sebagai penguasanya.
  2. Jika Negus menolak, hanya pemimpin delegasi (Muslim) dan istrinya yang boleh kembali ke Mekah, meninggalkan anggota lain di Abyssinia. Para “pengungsi” ini harus mencari pekerjaan diantara orang-orang Assyira yang toleran. Rencana ini punya dua maksud: kalau mereka tinggal di Abyssinia, ini membebaskan Muhammad dari tanggung jawab untuk menafkahi mereka.
  3. Mereka yang punya latar belakang pedagangan, harus mengembangkan hubungan dagang dengan orang Abyssinia, yang jika berhasil, akan mengecilkan posisi monopoli dari kaum pagan.
  4. Kehadiran para pengikut Muhammad yang terus menerus di Abyssinia akan menciptakan markas bagi Muhammad sendiri, jika suatu saat dia merasa tidak aman lagi berada di Mekah, dia dapat dengan mudah pergi ke Abyssinia dan tinggal dengan aman disana. Dari sini dia dapat merencanakan dan mencoba mengambil alih Mekah dikemudian hari. (Persis seperti yang dilakukan Khomeini, Jemaah Islamiyah, Hezbollah, dll, yang lari ke Barat dari negara Islam untuk nanti melancarkan serangan dari Eropa terhadap negara asal mereka.)

Orang-orang Mekah curiga akan delegasi yang dikirim Muhammad ini. Karenanya mereka mengirim misi mereka sendiri. Tugasnya adalah meluruskan tuduhan Muslim terhadap mereka dan agar mereka diusir oleh Negus.

Setelah mendengar dari kedua delegasi, Negus menolak permintaan Muslim untuk menyerang Mekah, tapi mengijinkan mereka tinggal dinegerinya. Kaum pagan senang dengan keputusan ini.

Berlawanan dengan apa yang dinyatakan diatas, kebanyakan penulis Muslim berkeras mengatakan bahwa para muslim pindah ke Abyssinia hanya untuk menghindari hukuman musuh-musuhnya. untuk mendukung hipotesa kita, kita jelaskan sebagai berikut:

  • Saat itu tidak ada polisi atau agen yang menegakkan hukum diseluruh semenanjung Arab. Ini bukan berarti bahwa kaum nomad dan Arab tidak punya aturan untuk memerintah aspek-aspek kehidupan mereka. Mereka punya undang-undang, yang mengatur tingkah laku mereka.
  • Orang-orang Arab dalam waktu yang lama telah mengembangkan sistem perlindungan, yang oleh  suku-suku atau klan-klan tertentu berikan pada anggotanya. Tanpa perlindungan ini, mustahil untuk selamat dalam lingkungan keras gurun. Sistem ini membuat orang yang menyerang anggota suku lain akan berpikir panjang karena sangat berbahaya suku atau klan itu akan membalasnya. Sistem ini bekerja dengan baik, buktinya Muhammad terlindungi oleh sistem ini lewat pamannya Abu Talib. Ketika pamannya meninggal, Muhammad harus minta perlindungan dari Mutim Ibn Adi, kepala Nofal klan dari Quraish. Tanpa perlindungannya, Muhammad tidak akan selamat di Mekah.

Usman Ibn Affan, yang memimpin delegasi Muslim menikmati perlindungan dari klannya. Terlebih lagi dia katanya punya sumber pendapatan lain yang mendukung hidupnya dan anggota keluarganya. Karena ini, tanpa ancaman keselamatan dan dengan kehidupannya yang nyaman, membuat kepindahannya ke Abyssinia menjadi sulit dimengerti. Hanya ada satu alasan: Muhammad memilih Usman dan istrinya untuk mewakili dia dihadapan Negus.

Di Mekah, Muhammad terus menyebarkan kepercayaannya dan mencoba menarik banyak orang kedalam agamanya. Kaum pagan telah mengambil semua jalan damai untuk mencegah dia, tapi gagal.

Frustasi, mereka mengeluarkan dekrit yang mengusir dia dan semua yang memeluk agamanya. Merasa akan keganasan badai yang akan datang ini, Muhammad berlindung di rumah muridnya yang bernama Orkham. Rumahnya ada dibukit Safa. Muhammad tinggal disini selama sebulan, sambil meneruskan wahyunya dan menarik orang-orang kepihaknya dari bagian-bagian lain Arab. Akhirnya kaum Quraish menemukan tempat sembunyinya. Dia punya paman bernama Amru Ibn Hashim, yang oleh kaum Quraish diberi nama Abu ‘Ihoem atau Bapak Bijaksana. Para muslim mengubahnya menjadi Abu Jahl, Bapak Kebodohan, karena perlawanannya terhadap keponakannya dan Islam. Gelar yang terakhir ini terus menempel pada namanya, yang sering diucapkan oleh fanatik-fanatik Muslim tanpa ragu dengan tambahan “Semoga dia dikutuk Allah!”

Sang Paman ini menyuruhnya keluar, menghinanya bahkan berkata akan menyakitinya. Kemarahannya ini dilaporkan pada paman Muhammad yang lain, Hamza, ketika dia kembali dari perjalanan berburunya. Dia waktu itu bukanlah muslim, tapi telah berjanji untuk melindungi sang keponakan.

Datang dengan panah ditangan, ketempat Abu Jahl berdiri dengan beberapa orang Quraish, Hamza memanahnya dikepala dengan parah. Setelah serangan ini, Hamza menyatakan bahwa saat itu ia menjadi muslim dan bersumpah kepada Muhammad yang menaikkan moral sang ponakan ini.

Harga diri Abu Jahl terluka, dia bersumpah untuk membalas. Dia juga punya keponakan bernama Omar Ibn al Khattab, 26 tahun, bertubuh raksasa, kuat dan sangat berani. Dia katanya sangat tinggi hingga ketika duduk, mereka yang berdiri tetap kalah tinggi. Ia terkenal sebagai peminum berat dan tukang pukul istri. Atas suruhan pamannya, Abu Jahl, orang bertubuh besar ini berjanji akan mendatangi persembunyian Muhammad dan membuat Muhammad atau Hamza menderita seperti Abu Jahl.

Di jalan kearah rumah Orkham, dia bertemu seorang Quraish, dia menjelaskan maksudnya. Orang Quraish ini sebenarnya telah masuk Islam dengan diam-diam dan memintanya untuk pergi saja dan jangan melakukan apa yang diminta Abu Jahl. Dia minta untuk memeriksa apa ada sanak keluarganya yang pernah murtad, sebelum dia pergi dan melukai Muhammad atau pamannya. Mendengar ini, dia jadi ingin tahu apa ada keluarganya yang melepaskan agama nenek moyangnya. Sang informan ini memberi Omar nama adiknya sendiri, Amina dan suaminya Said.

Omar berbalik arah dan pergi kerumah adik perempuannya, dan masuk rumahnya dengan kasar, didapatinya mereka (adik dan suaminya) sedang membaca Quran. Said berusaha menyem-bunyikannya, tapi Omar semakin marah. Dia pukul Said, dadanya diinjak dan hampir menusukkan pedangnya jika tidak ditahan adiknya. Adiknya dipukul hingga wajahnya berdarah2. “Musuh Allah!” Jerit Aminah; “Apa kau memukulku hanya karena percaya pada satu Allah saja? Terlepas dari kau dan kekerasanmu, aku akan mempertahankan imanku.” Tambahnya “Ya, tidak ada allah selain Allah, dan Muhammad adalah utusannya; dan sekarang Omar selesaikan tugasmu!”.

Menyesali perbuatannya, Omar menarik kakinya dari dada Said. “Tunjukkan tulisan itu,” katanya. Ketika perkamen yang berisi Surat ke-20 Quran diberikan padanya, dia baca dan menyerap dalam hatinya. Ia tergerak, khususnya pada bagian mengenai kebangkitan dan pengadilan, dia memutuskan untuk memeluk Islam tanpa ditunda-tunda.

Umar lari kerumah Orkham dan menemui Muhammad, menjelaskan keinginannya untuk menjadi Muslim. Muhammad menerimanya dengan hangat dan menyuruhnya mengucapkan kalimat Tayyaba/Syahadat, pengucapan yang melengkapi seseorang masuk Islam.

Omar tidak senang sebelum berita masuknya dia ke Islam diumumkan. Atas permintaannya, Muhammad menemani dia seketika itu juga ke Kabah, untuk melakukan ritual islam secara terbuka. Omar berjalan disisi kiri dan Hamza disisi kanan untuk melindungi Muhammad dari serangan atau hinaan. Dikatakan ada sekitar 40 murid yang menemani prosesi ini.

Kisah mengenai Aminah dan Said dan perkamen (kertas) Quran yang mereka baca itu adalah cerita yang dibat-buat oleh muslim. Mengapa? Karena pada jaman itu, eksistensi perkamen tidak diketahui orang-orang Arab, bahkan di Mesir pun, dimana orang-orang Mesir banyak memakai perkamen untuk menjaga tulisan-tulisan mereka, tidak banyak orang yang tahu.

Muslim berani mengarang cerita perkamen adalah karena Quran ayat 6:7. Didalamnya Muhammad berhipotesa bahwa jikapun dia punya Quran tertulis dalam sebuah perkamen, yang mana kaum pagan bisa melihat dan menyentuhnya, mereka tetap akan menyangkal mengenai sumber ketuhanannya, mereka akan menolaknya sebagai “bukan apa-apa kecuali sihir yang sudah jelas”.

Karena tidak mampu membenarkan/memberi bukti tentang isi ayat ini, salah seorang cendekiawan Muslim mencoba menjelaskannya dengan menyatakan:

“Qirtas, dalam kehidupan rasul, cuma bisa berarti perkamen,” yang secara umum dipakai sebagai bahan untuk menulis di Asia barat abad ke-2 SM. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, Charles (Cf. Latin, “Charla”). Kertas, yang kita kenal saat ini, yang dibuat dari potongan-potongan kain, digunakan orang Arab setelah penaklukan Samarqand ditahun 751 M. orang-orang Cina telah menggunakannya diabad ke-2 SM. orang-orang Arab membawanya ke Eropa; digunakan di Yunani diabad 11 dan 12, dan di Spanyol melalui Sisilia di abad 12. Papirus, dibuat dari alang-alang Mesir, digunakan di Mesir mulai tahun 2.500 SM. Lalu digantikan oleh kertas di abad ke-10 (Abdullah Yusuf Ali, op.cit. vol 1, hal 290).

Tapi yang kita harapkan dari para cendekiawan bukannya pidato mereka memberi tentang sejarah kertas, melainkan tentang bagaimana orang-orang Arab mempunyai perkamen ketika mereka tidak punya alang-alang. Dan juga, kenapa mereka malah menuliskan wahyu-wahyu itu pada kulit, kayu dan tulang-tulang, ketika mereka, menurut cendekiawan ini, punya akses pada alat-alat tulis yang lebih baik?

Kebenaran mungkin berada ditempat lain. Kita perkirakan Muhammad pernah melihat penggunaan perkamen di Syria selama perjalanan dagangnya, dan terkesan olehnya, dia mengemukakan hal itu pada kaum pagan hanya dalam perkataan-perkataan sambil lalu, atau mungkin, sang pencerita menambahkan kata “perkamen” kedalam ayat itu ketika Quran disusun pada rezim Abu Bakr.

Kota Damaskus di Syria adalah sebuah kota modern dan penduduk-nya sangat berpendidikan, ketika Abu Bakr menaklukannya di tahun 634. orang-orang Syria dipercaya adalah yang pertama menemukan Alfabet Arab. Sang pencerita ayat ini mestilah pernah mengunjungi Damaskus dan melihat penggunaan perkamen disana. Jadi ketika menceritakan apa yang Muhammad telah katakan sebagai ayat Quran mengenai sikap orang-orang Pagan terhadap wahyunya, dia pastilah menambahkan kata “perkamen” kedalam ayat itu tanpa menyadari kenyataan bahwa pada saat Muhammad mengatakan ayat itu, perkamen belum digunakan orang-orang Pagan Mekah.

Masuknya Hamza dan Omar ke Islam menjadi batu loncatan pada sejarah awal dari Islam; sekarang Muhammad punya dukungan fisik dan moral dari dua orang Quraish pemberani dan kuat. Ini juga membuatnya lebih mudah berkhotbah dibanding sebelumya. Tindakan Omar ini katanya menyebabkan kegusaran ditengah orang-orang Quraish hingga Abu Talib, paman Muhammad, menyimpulkan bahwa kaum pagan akan melakukan usaha yang dapat mencelakakan keponakannya, baik secara diam-diam ataupun terang-terangan. Dengan begitu, si orang tua itu menyarankan Muhammad dan para pengikutnya untuk masuk ke rumah dia dikota itu.

Perlindungan yang diberi Abu Talib, pemimpin Hashimites dan juga dari garis keturunan lain yang walaupun berbeda kepercayaan, membuat keturunan Quraish yang lain murka. Ini membuat terjadinya perpecahan dalam suku ini. Abu Sofian, pemimpin Quraish anti Muhammad, tidak hanya menghina kemurtadan Muhammad tetapi juga seluruh garis keturunan Hashim yang melindunginya. Abu Sofian tidak menentang Muhammad dan pamannya Abu Talib semata karena pribadi atau masalah agama, tapi karena perpecahan keluarga mengenai penjagaan Kabah.

Bersambung ke BAGIAN ENAM

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • abu mush'ab al arkhabily  On 2 December 2015 at 10:11

    Di bagian ini kamu membahas hal2 yg sbnrny di dlmnya ada bnyk bukti kenabian beliau SAW
    1. Beliau SAW dimusuhi musyrik makkah
    Knp tdk kamu jeladkan bhw yg namanya nabi ya udh PASTI akan dimusuhi bahkan diusir kaumnya. Inilah yg disampaikan waraqah pada beliau SAW sbg bukti bhw beliau SAW benar2 seorang nabi. Tp koq g kamu tulis? Takut kebenaran ISLAM terungkap???
    2. Knp tdk kamu tulis apa alasan beliau SAW memerangi musyrik makkah? Bgmn dgn kejahatan mrk yg tak berperikemanusiaan yg jd alasan akhirnya beliau SAW memerangi mrk?
    3. Umar bin khaththab ra
    Knp tdk kamu jelaskan bhw beliau ini dulunya memerangi Rasulullah SAW?
    Terus beliau taubat dan masuk ISLAM sampai beliau wafat. Nah klo yg tdnya memusuhi saja mengakui kebenarannya ,ya PASTI memang ISLAM BENAR donk
    4. Abu jahal
    Knp tdk kamu jelaskan juga klo abu jahal sbnrny mengakui bhw beliau SAW MEMANG BENAR2 SEORANG NABI DAN RASUL. Abu jahal menolak beliau SAW hny akibat gengsinya. Nah klo musuh aja ngakuin y berarti ISLAM PASTI BENAR kan

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: