Parodi: Ciumlah Pantat Ali

Suatu pagi, ada suara ketukan di pintu, dengan bergegas saya bukakan pintu dan ternyata ada sepasang suami istri yang berpakaian begitu rapi seperti hendak pergi ke pesta.

Hasan: “Perkenalkan, nama saya Hasan, dan ini istri saya Fitri.”

Saya: “Maaf, pak Hasan dan bu Fitri, ada yang bisa saya bantu?”

Hasan: “Kami mengajak Anda untuk mengunjungi Ali dan mendapatkan uang satu milyar rupiah dari dia asal Anda mau mencium pantatnya.”

Saya: “Maaf. Apakah Anda sedang bercanda dengan saya?”

Hasan: “Tidak. Tidak. Kami sedang tidak bercanda. Kami serius. Kami mengajak Anda untuk mencium pantat Ali dan mendapatkan uang satu milyar rupiah dari Ali.”

Saya: “Memangnya siapa Ali itu?”

Hasan: “Ali adalah orang yang paling kaya di kota ini. Dialah yang membangun kota ini. Dia dapat melakukan apapun yang dia mau.”

Saya: “Tawaran yang menarik, tapi…”

Hasan: “Ayolah jangan ragu, Ali sangat kaya dan sangat dermawan, ikutlah bersama kami. Anda akan mendapatkan satu milyar rupiah. Tak apalah kita berkorban sedikit dengan memberikan satu ciuman ke pantatnya hari ini.”

Saya: “Tapi ini nampaknya tak masuk akal. Apakah Anda berdua sudah pernah mendapatkan uangnya setelah Anda berdua mencium pantatnya?”

Hasan & Fitri menjawab serempak : “Belum.”

Saya: “Saya kira Anda berdua sudah ditipu oleh Ali.”

Fitri: “Tidak, kami tidak ditipu Ali, ibu saya adalah buktinya.”

Saya: “Maksud Anda, ibu Anda sudah mendapatkan satu milyar setelah mencium pantat Ali?”

Fitri: “Ya. Setelah dia mencium pantat Ali selama 50 tahun setiap hari tanpa putus. ”

Saya: “Apakah Anda melihat dengan mata kepala Anda sendiri uang satu milyar rupiah itu di tangan ibu Anda?”

Fitri: “Tidak. Sebab ibu saya harus pergi meninggalkan kota ini setelah mendapatkan uang satu milyar rupiah. Begitu aturannya. Tapi saya yakin ibu saya mendapatkan uang satu milyar rupiah itu.”

Saya: “Bukankah Anda bisa menelpon ibu Anda untuk memastikan apakah ibu Anda sudah menerima uang itu atau belum?”

Fitri: “Tidak. Tidak boleh. Ali melarang saya menelpon ibu saya. Begitu aturannya.”

Saya: “Hmm… sekali lagi, saya pikir Anda berdua sudah ditipu Ali…”

Fitri: “Tidak. Tidak mungkin. Sebab setelah mencium pantat Ali biasanya saya mendapatkan berkah.”

Saya: “Oh ya? Berkah macam apa itu?”

Fitri: “Misalnya tiba-tiba saya menemukan uang 100.000 rupiah di trotoar, atau tiba-tiba saja saya memenangkan undian berhadiah. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.”

Saya: “Dan Anda pikir semua itu ada hubungannya dengan mencium pantat Ali?”

Fitri: “Ya. Pasti.”

Saya: “Hmmm… Maaf pak Hasan dan bu Fitri… Rasanya saya tak bisa ikut pergi dengan Anda berdua untuk mencium pantat Ali… Hal ini terlalu aneh dan mencurigakan bagi saya.”

Hasan: “Cobalah.. Anda tidak akan menyesal.. Bayangkanlah uang satu milyar itu menjadi milik Anda…”

Saya: “Setelah mencium pantat Ali ratusan bahkan ribuan kali? Maaf…Sekali lagi maaf..”

Hasan: “Kalau Anda tidak mau mencium pantat Ali, maka Ali akan mendatangi rumah Anda dan menendang pantat Anda!”

Saya: “Oh ya? Ayo suruh Ali itu ke sini, saya yang akan menendang pantatnya!”

Hasan: “Ah… Anda jelas tidak tahu bahwa Ali itu tidak nampak oleh mata kita.”

Saya: “Hah? Kalau Ali tidak nampak oleh mata kita, bagaimana mungkin seseorang bisa mencium pantat Ali atau Ali menendang pantat seseorang?”

Hasan: “Mmm… Kadang kami membayangkannya saja atau kami mencium pantat Mamad dan menganggap pantat Mamad sebagai pantat Ali.”

Saya: “Siapa itu Mamad?”

Fitri: “Mamad adalah orang kepercayaan Ali. Dan dialah yang menyuruh kami mencium pantat Ali. Surat ini adalah buktinya.”

Saya membaca surat yang disodorkan Fitri yang isinya sebagai berikut:

Surat Dari Mamad Mengenai Ali

  1. Cium pantat Ali dan Anda akan mendapatkan uang satu milyar rupiah setelah meninggalkan kota ini.
  2. Bila Anda tidak mau mencium pantat Ali maka Ali akan menendang pantat Anda.
  3. Ali yang mendiktekan surat perintah ini kepada saya, Mamad, secara langsung.
  4. Percayalah kepada saya, Mamad, seperti Anda mempercayai Ali.
  5. Apapun yang dikatakan Ali melalui Mamad adalah benar.
  6. Ali Maha Kaya dan Dermawan.
  7. Ali sama sekali tidak suka memaksa.
  8. Anda dilarang makan jengkol sebab Ali tidak suka dicium orang yang mulutnya bau jengkol.

Saya: “Hmmm… Saya pikir saya tidak mempercayai omong kosong macam ini.”

Hasan: “Hati-hati. Jangan sekali-kali menyebut surat ini sebagai omong kosong. Lihatlah butir ke-5 di situ disebutkan bahwa hal ini benar dan bukan omong kosong.”

Saya: “Saya pikir Mamad yang mengarang surat ini dan Ali hanya tokoh khayalannya.”

Hasan: “Anda salah! Coba lihat butir ke-3 di situ disebutkan bahwa Ali yang mendiktekan surat ini secara langsung kepada Mamad. Jadi Ali benar-benar ada.”

Saya: “Oh begitu ya… Oke tidak masalah kalau Anda menganggap bahwa surat ini tidak mengada-ada… Tapi butir ke-7 bahwa Ali tidak suka memaksa nampaknya bertentangan dengan butir ke-2 yang menyebutkan bahwa Ali akan menendang pantat orang yang tidak mau mencium pantat Ali.”

Hasan: “Oh itu sama sekali tidak bertentangan. Ali memang tidak suka memaksa, Ali mengharapkan kerelaan hati kita untuk mencium pantatnya. Kita harus pasrah dan berserah diri kepada Ali.”

Saya: “Oke… oke… Tapi butir ke-8 sangat menarik… Kebetulan saya adalah orang yang suka makan jengkol.”

Fitri: “Apa? Anda suka makan jengkol yang begitu menjijikkan baunya itu yang jelas-jelas telah dilarang oleh Ali?”

Saya: “Tapi enak lho…Tidak percaya? Cobalah mendekat ke saya… Saya baru saja makan jengkol. Baunya juga enak…”

Hasan: “Astaga, saya tak percaya bahwa Anda adalah penggemar jengkol. Ayo Fitri, kita segera pergi dari sini. Terkutuklah Anda pemakan jengkol yang jelas-jelas dilarang Ali! Ali akan menendang pantat Anda!”

Dan Hasan serta Fitri segera bergegas pergi dari pintu rumah saya…

Sampai sekarang, Ali tidak pernah datang ke rumah saya untuk menendang pantat saya, mungkin dia segan karena saya suka makan jengkol. Ah tidak, tidak. Bukan karena jengkol. Tapi karena Ali hanya dongeng yang dikarang Mamad. •

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: