Pengubahan (Manipulasi) Terjemahan Quran

Oleh: Mumin Salih •

Artikel ini menunjukkan bukti usaha sengaja yang dibuat oleh para penerjemah Al Qur’an untuk mengubah arti dari Quran dengan maksud agar penyajiannya bisa diterima oleh para pembaca di dunia Barat.

Dulu saya cukup sering baca Quran, tapi sekarang tidak lagi. Quran tidak menarik, bukan buku yang mudah dibaca atau dimengerti. Para muslim terus menerus mengulang-ulang untuk menolong mereka menghafal dan membiasakan diri mereka dengan kata-kata yang tidak akrab ditelinga mereka. Karena bahasa Arab kebetulan menjadi salah satu objek yang menarik bagi saya sendiri, saya jarang baca Quran yang berbahasa Inggris. Tapi, saya harus mengacu pada terjemahan bahasa Inggris jika berdebat dengan muslim non Arab. Saya khawatir tingkat ketidak-akuratan yang saya temukan dalam terjemahan Inggrisnya akan bisa terlihat. Yang saya bicarakan ini adalah kesalahan penerjemahan. Kesalahan ini adalah kesalahan yang sengaja dibuat oleh penerjemah hingga mengubah arti dari ayat-ayat itu dengan maksud untuk menyajikan Quran dalam bentuk yang bisa diterima oleh para pembaca non Arab.

Artikel ini hanya meninjau beberapa ayat-ayat dimana para penerjemah telah memilih dengan hati-hati kata-kata yang dipakai hingga mengubah secara total arti dari ayat tersebut. Ini jelas sebuah usaha penipuan agar bisa menampilkan gambaran baik dari Quran kepada para pembaca yang berbahasa inggris. Kita lihat dua dari penerjemah yang paling dikenal: Yusuf Ali dan Hilali & Khan, tapi ini bukan berarti penerjemah lain itu lebih baik.

Contoh pertama dari surat Al Nabaa (QS 78:33)

Inggris:
Companions of equal age

Arabic:
Kawa’eba atraba

Indonesia:
dan gadis-gadis remaja yang sebaya

Dalam surat ini, Quran menjelaskan kenikmatan yang bisa didapat disurga dengan taman-tamannya, anggur, minuman keras dan tentu saja kenikmatan seks dari para perempuan. Dalam ayat diatas, Quran menjelaskan pada muslim (lelaki pastinya) jenis perempuan yang bisa mereka dapatkan untuk mereka nikmati. Bahasa Arabnya ‘Kawa’eba’ artinya gadis/perawan muda yang dadanya kenyal dan bentuknya bagus, maksudnya kebalikan dari dada nenek-nenek. kata ‘atraba’ artinya ‘yang sebaya’. Dengan demikian terjemahan yang seharusnya adalah: ‘gadis/perawan muda yang dadanya kenyal dan bentuknya bagus serta umurnya sebaya’. Penerjemah memutuskan untuk melewati bagian erotisnya tentang dada perempuan tersebut; sebaliknya mereka menggunakan kata companion (teman), dimana artinya bisa saja bukan perempuan!

Contoh kedua dari surat Ali Imran (QS 3:14)

Inggris:
Fair in the eyes of men is the love of things they covet: Women and sons; Heaped-up hoards of gold and silver; horses branded and cattle and well-tilled land.

Arabic:
zuyyna li nnassi hubbu shahawati mina al nissaai walbanin…

Indonesia:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Kata arab ‘nas’ artinya sekelompok orang, atau ini maksudnya bisa juga umat manusia pada umumnya. Tapi dua pengertian itu termasuk lelaki dan perempuan. Dalam ayat diatas, diterjemahkan agar artinya jadi hanya ‘lelaki’, yang mana ini menjadikan artinya jauh sekali berbeda. Ayat asli sebenarnya adalah blunder (kesalahan) besar, yang menggambarkan apa yang ada dalam benak Muhammad ketika ‘wahyu’ itu diturunkan. Terjemahan yang pantas dalam bahasa inggris harusnya:

‘Mankind was made to love the desired things in life like women, children, money and cattle…’

‘umat manusia diciptakan untuk mencintai hal-hal yang dihasratkannya dalam hidup seperti perempuan, anak kecil, uang dan ternak…’

Dengan kata lain, Muhammad tidak menganggap perempuan sebagai bagian dari umat manusia, tapi hanya sebagai objek birahi bagi lelaki (umat manusia versinya), disamakan dengan ternak! Ayat aslinya menunjukkan imajinasi pikiran seorang arab, dan mungkin hal ini bisa diterima di Arab abad ke-7, tapi sekarang?!?, ini bukti nyata bahwa Quran bukanlah karya Allah tapi hanya ciptaan seorang lelaki Arab belaka.

Penerjemah, dalam hal ini Yusuf Ali, harusnya tahu blunder ini dan mencoba membenarkan kerusakan/hal memalukan ini, hingga terjemahannya menjadi yang disebut diatas itu.

Contoh ketiga dari surat Al Naziaat (QS 79:27-30)

Inggris:
[27] What! Are ye the more difficult to create or the heaven ? Allah hath constructed it
[28] On high hath He raised its canopy, and He hath given it order and perfection.
[29] Its night doth He endow with darkness, and its splendour doth He bring out (with light).
[30] And the earth, moreover, hath He extended (to a wide expanse)

Indonesia:
[27] Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya,
[28] Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,
[29] dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.
[30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

Semua yang ada dalam empat ayat diatas adalah penghinaan akan logika dan sains. Dalam bahasa awamnya, ayat tersebut memberitahu kita bahwa Allah menciptakan langit (ayat 27) dan menyempurnakannya (ayat 28) dan menciptakan malam dan siang (ayat 29) lalu setelah semua itu Dia menciptakan bumi! Ayat-ayat ini bukan hanya menyatakan bahwa langit diciptakan dan disempurnakan sebelum penciptaan bumi, tapi juga menyatakan bahwa siang dan malam diciptakan sebelum bumi. Penerjemah mencoba menyelamatkan Quran dari tulisan-tulisan yang memalukan tersebut dengan melakukan kesalahan-kesalahan terjemahan:

  • Dalam ayat 27, kata ‘heaven’ dipilih sebagai terjemahan kata arab (samaa), yang sebenarnya tidak punya arti ‘heaven’ sama sekali, tapi artinya langit! Ini jelas membuat perbedaan besar dalam arti tersebut.
  • Dalam ayat 30, kata ‘more-over’ dipilih sebagai terjemahan kata arab (baada zalika) yang arti sebenarnya adalah ‘after that’. Kesalahan ini seperti sebuah usaha mati-matian dari penerjemah untuk mengalihkan perhatian para pembaca dari ketidak akuratan sains. Jelas dari ayat diatas, bahwa Allah menerangkan urutan penciptaan, dan memastikan bahwa setelah Dia selesai mencipta seperti yang disebut dalam ayat 27-29 lalu dia menciptakan bumi yang datar.

Contoh keempat dari surat Al Nur (QS 24:2)

Inggris:
the woman and the man guilty of illegal seksual intercourse, flog each of them with a hundred stripes. Let not pity withhold you in their case, in a punishment prescribed by Allâh, if you believe in Allâh and the Last Day. And let a party of the believers witness their punishment.

Indonesia:
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

Penerjemah disini adalah Hilali dan Khan, memilih kata hukuman (punishment) sebagai terjemahan kata arab ‘Azabahuma’ yang artinya adalah sebuah kesalahan besar! Arti yang tepat dari kata azabahuma adalah: “the torture of both of them” (siksaan bagi keduanya), tapi penerjemah ingin mengalihkan perhatian pembaca dari fakta bahwa Allah, yang harusnya maha pengampun, sebenarnya menyetujui penyiksaan!

Jeleknya adalah bahwa Allah tidak saja menyetujui penyiksaan, tapi Dia juga ikut khawatir terhadap perasaan dari orang-orang yang melaksanakan perintah siksaan ini, Dia khawatir mereka akan terpengaruh hingga memperingan hukuman yang diperintahkanNya ini. Itu sebabnya Dia memperingatkan mereka agar jangan berbelas kasihan pada orang-orang terhukum tersebut, dan mengingatkan mereka akan Hari keramat yang sangat mereka hapal, yaitu Hari Kiamat, juga dikenal sebagai Hari Pengadilan, meski ‘Hari Siksaan’ sebenarnya lebih tepat untuk itu.

Untuk melengkapi kesadisanNya, Allah memerintahkan orang-orang beriman lainnya agar menyaksikan kekejian ini dengan berkata: ‘dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman’. Sesuai dengan perintah ini, sudah menjadi kewajiban dari masyarakat Islam (Fardh kefaya/fardu kifaya) untuk menonton penyiksaan ini, itu sebabnya kenapa mereka mengumumkannya di mesjid setelah sholat Jum’at agar orang-orang ‘beriman’ datang menonton!

Meski menerjemahkan Quran itu berbeda dari penafsiran, penerjemah sering memasukkan ‘tafsir keinginan’ mereka sendiri dalam banyak ayat, yang tidak sejalan dengan tafsir tradisional yang sudah diterima banyak orang islam. Ini biasa terjadi khususnya ketika Quran mengatakan sesuatu yang mustahil, yang membuat atau memperingatkan sang penerjemah agar ‘turut campur’ seketika untuk menghentikan para pembaca agar tidak punya pikiran macam-macam. Dengan kata lain, mereka berkata pada para pembaca: ‘please jangan salah pahami Allah! Yang Dia maksudkan itu sebenarnya hal yang lain!’

Berikut adalah dua contoh dari praktek aneh tersebut:

Contoh kelima dari Surat Al Hajj (QS 22:65)

Allah has made subject to you all that is on the earth, and the ships that sail through the sea by His Command? He withholds the sky (rain) from falling on the earth except by His leave…

Penerjemah sengaja menyisipkan kata ‘rain’ di dalam tanda kurung untuk mengesankan bahwa inilah yang dimaksud dengan kata ‘sky’. Saya tidak pernah tahu bahwa ‘sky’ bisa punya arti aneh demikian, tidak juga para akademisi muslim yang menjelaskan ayat selama 1400 tahun belakangan ini. Lagi-lagi, penerjemah berusaha sekuat tenaga memperbaiki kerusakan sains yang ada dalam ayat ini, dengan mengalihkan benak pembaca agar tidak berpikir tentang langit yang jatuh.

Contoh keenam dari surat Al Nissa (QS 4:34)

QS 4:34 …as to those women on whose part ye fear disloyalty and ill conduct, admonish them (first), (Next), refuse to share their beds, (And last) beat them (lightly)

QS 4:34 …as to those women on whose part you see illconduct, admonish them (first), (next), refuse to share their beds, (and last) beat them (lightly, if it is useful),

Dalam ayat diatas, Allah berbicara (pastinya pada lelaki) tentang bagaimana berurusan dengan para perempuan itu, yang mereka duga akan tidak setia dan meminta para lelaki agar berhati-hati pada para perempuan tersebut dan menolak membagi ranjang dengan mereka dan menyuruh memukul mereka. Penerjemah menambahkan (dengan kebaik hatian mereka) pada ayat ini dengan menyisipkan kata ‘lightly’ (perlahan) segera setelah kata ‘beat them’ (pukul mereka), seakan mereka ingin bilang pada para pembaca: please, jangan salah pahami Allah!

Quran tidak berkata ‘lightly’ sama sekali, tapi penerjemah menyisipkannya agar segera mempengaruh pembaca. Allah bisa dengan mudah bilang ‘lightly’ jika Dia bermaksud begitu, tapi Dia tidak bermaksud menyuruh untuk memukul perempuan dengan pelahan. Juga Allah tidak memberi syarat apapun seperti yang disarankan oleh Hilali/Khan ketika mereka menambahkan kata ‘if it useful’ (jika berguna).

Quran Punya Tabir Penghalang

Quran ditulis dengan gaya Arab Kuno yang kurang akrab bagi sebagian besar orang Arab. Dengan demikian Quran memposisikan dirinya dengan nyaman dibelakang tabir penghalang yang membuatnya terlihat samar-samar dan punya arti mendua dan membuatnya jauh dari mata kritis. Mirip seperti perempuan muslim yang pakai cadar hitam dan ikutan kontes kecantikan. Hanya mereka yang tidak punya IQ saja yang akan memilih perempuan ini sebagai “Ratu Kecantikan” dengan hanya berdasarkan: “Siapa tahu dia cantik?” Kita tidak tahu apa yang ada dibelakang cadar! Orang dengan otak yang normal bahkan tidak akan menganggap dia layak ikut kontes.

Akademisi muslim mempromosikan Quran beserta cadar hitamnya dan meyakinkan para pengikut yang bodoh dan bilang bahwa kitab ini adalah kitab yang paling indah, tapi, mereka tidak pernah akan bisa melihat yang sebenarnya karena ada cadar tersebut! Mereka mengklaim pada para pengikutnya bahwa Quran mengatakan semuanya, semua yang cocok dengan agenda mereka, meski mereka sebenarnya mungkin tidak melihatnya karena cadar itu! Orang berharap bahwa dengan menterjemahkan Quran kebahasa lain akan menghilangkan cadar mendua yang melindungi versi arabnya yang asli (yang tidak pakai ‘tanda kurung’ untuk menjelaskan maksudnya), dan menyajikannnya dalam bahasa yang jelas dan sederhana pada para pembaca non arab. Sayangnya, maksud demikian jauh dari kebenaran karena para penerjemah memilih kata dan gaya bahasa yang tetap mempertahankan kepalsuan, kemenduaan dan kesamaran dari Quran. •

Sumber: Faith Freedom Indonesia

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Ahmad Hasyimi Wrisah  On 22 February 2014 at 04:15

    Sikond penterjemah cukup dominan mempengaruhi cakrawala berkereasi, bersikap menganalisa sertaa berpikir, namun perlu disikapi, pemikiran adalah yang muncul dalam diri manusia, bila dibandingkan dengan nafsu dan fitrah keTuhanan, sifat paling bungsu kecurigaannya lebih tinggi agar terhindar dari jajahan kejiwaan yang lebih tua (nafsu da fitrah) namun kesemua unsur kejiwaan tsb dihuni oleh mahluk Gaib dapat mempengaruhi perilaku, dunia ada yang real ada yang gaib, semua mereka mempunyai keterbatasan, maka alur pikir berbeda janganlah menjadi permusduhan menyebab menyelinap musuh manusia Iblis setan (syar’I) ha3 kulit berbega rasa bisa sama, akibat yang merasanya sakit urat sarap terbelenggu menyebab persi berbeda, aih juga halaman web belum mampu menampung bebab paksa dihentikan sekian terms

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: