Mitos-mitos Islam

Muslim sering merengek bahwa pihak Barat/non-Muslim kurang memahami agama mereka. Padahal Muslim sendiri tidak mengerti agama mereka dan bahkan termakan kebohongan/mitos Islam.Ini mitos-mitos yang dipercaya kuat oleh Muslim sedunia yang mereka coba paksakan kepada dunia Kafir:

  1. Islam berarti ‘Damai’
  2. Islam menghargai bahwa perempuan adalah sama [emansipasi perempuan]
  3. Jihad berarti ‘peperangan didalam batin’
  4. Islam adalah agama damai
  5. Islam itu agama yang toleran dengan agama lain
  6. Islamlah yang menghantarkan kepada zaman Keemasan dari penemuan-penemuan Ilmu Pengetahuan
  7. Islam menentang perbudakan
  8. Islam itu bukan teroris
  9. Islam itu sama dengan demokrasi

Mari kita bedah satu per satu…

1. Islam berarti ‘Damai’

  • Mitos:
    Muslim yang kurang berpendidikan sering main klaim bahwa akar dari kata ‘Islam’ adalah ‘Al-Salaam’, yang berarti ‘Damai’ didalam bahasa Arab.
  • Fakta:
    Akar kata dari ‘Islam’ adalah ‘Al-Silm’, yang berarti ‘penyerahan’ atau ‘menyerah/tunduk’ sepenuhnya (kepada Allah). Ini disetujui secara luas oleh cendekiawan Islam.
    Penyerahan dan damai memiliki konsep berbeda, tapi damai versi Islam juga bisa dicapai lewat kekerasan yang dipaksakan kepada pihak lain agar menyerah (kepada Islam).
    Qur’an tidak hanya menyuruh Muslim untuk tunduk kepada Allah, tetapi juga memerintahkan mereka untuk memaksa orang dari agama lain untuk tunduk kepada ‘Hukum Islam’. Ini dibuktikan oleh sejarah Islam yang penuh dengan peperangan berdarah untuk menundukkan orang lain.

2. Islam menghormati Perempuan

  • Mitos:
    Qur’an menempatkan laki-laki dan perempuan sama dihadapan Allah. Setiap orang dihakimi menurut perbuatannya (amal-sholeh) sendiri. Hukum Islam memberikan perempuan hak yang sama dengan laki-laki.
  • Fakta:
    Bahwa setiap orang (baik laki-laki maupun perempuan) dihakimi oleh Allah tidak berarti bahwa mereka punya hak yang sama dan peran yang sama, atau dihakimi dengan standar yang sama. Faktanya, QS As-Saffat(37) ayat 22-23 menyatakan pada Hari Kiamat kaum perempuan akan dihakimi sesuai dengan dosa-dosa yang mereka lakukan terhadap suami mereka, tetapi tidak sebaliknya, laki-laki dihakimi sesuai dengan kelakuan mereka terhadap istri-istri mereka.
    Qur’an dengan sangat jelas dan tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa perempuan adalah dibawah laki-laki.
    Setelah menang perang, Muhammad sering memberikan para perempuan tawanan sebagai hadiah bagi para begundal/tentaranya. Sedikitnya dalam satu kasus, Muhammad memberi saran kepada tentaranya untuk memperkosa para perempuan dihadapan para suami mereka. Para tahanan perempuan dijadikan budak seks oleh laki-laki yang membunuh suami dan saudara laki-laki mereka.
    Sedikitnya ada 3 ayat di Qur’an yang menyatakan bahwa Allah berfirman bahwa Muslim mempunyai hak seksual penuh atas para budak perempuan dan tidak ada satupun ayat Qur’an yang melarang pemerkosaan.
    Qur’an mengijinkan laki-laki Muslim untuk memukul istri mereka kalau mereka tidak taat. Dengan sangat jelas dikatakan bahwa suami adalah “satu derajat diatas” istri. Hadis Sahih menyatakan bahwa perempuan itu inteleknya setengah dari laki-laki dan bahwa mereka adalah penghuni Neraka.
    Dibawah Hukum Islam, laki-laki bisa menceraikan istrinya semaunya. Dan jika dia mau menikahi istrinya lagi, istrinya harus berhubungan seks terlebih dahulu dengan laki-laki lain sebelum boleh kembali rujuk dengan suaminya. Para laki-laki tidak perlu melakukan hal itu.
    Perempuan Muslim tidak bebas menikahi siapapun yang mereka suka, lain dengan laki-laki Muslim. Suami mereka bisa menikahi perempuan lain kapanpun dan siapapun. Perempuan harus siap setiap saat melayani suaminya, kapanpun suaminya menginginkan hubungan seks (“seperti ladang siap untuk dikerjakan”, sesuai kalimat Qur’an).
    Perempuan Muslim tidak mewarisi warisan harta yang sama dengan para laki-laki. Kesaksian mereka di pengadilan nilainya setengah dari kesaksian laki-laki. Tidak seperti para laki-laki, perempuan harus menutup kepala mereka dan bahkan wajah mereka.
    Jika perempuan mengatakan bahwa mereka telah diperkosa, mereka harus dapat menghadirkan empat saksi laki-laki untuk mendukungnya. Sebaliknya jika ia tidak dapat menghadirkan para saksi laki-laki, justru sang perempuan yang akan dituduh berzinah dan hukuman maksimalnya adalah perajaman sampai mati.
    Dengan bukti-bukti ini, sangatlah sulit untuk mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama dibawah Hukum Islam. Mereka yang ingin memoles Islam agar terlihat modern dihadapkan pada kenyataan-kenyataan hukum dan sejarah Islam yang sangat bertentangan.

3. Jihad berarti pergulatan/perjuangan batin

  • Mitos:
    Muslim sering bersikeras bahwa didalam bahasa Arab, Jihad yang berarti “bertarung/perang” atau “bergumul”, lebih menunjuk kepada “peperangan batin” daripada Perang Suci secara fisik.
  • Fakta:
    Mengaku bahwa Jihad digunakan hanya dalam konteks perjuangan batin sama dengan mengubur kepala dalam tanah. Anda pikir Muhammad menggunakan perintah jelas dalam Qur’an, seperti memotong jari dan memenggal kepala Kafir hanya demi ‘perjuangan batin’?
    Menghadapi kenyataan-kenyataan ini, Muslim sering berputar-putar plintat-plintut, ngalor-ngidul, mengaku bahwa Jihad mengandung dua arti; Bahwa “perjuangan batin” adalah “Jihad yang lebih besar” dan oleh karena itu “Perang Suci secara fisik” itu “lebih kecil”. Ini hanya pernyataan politically correct (pembenaran) yang dicari-cari yang didasarkan pada Hadis dengan jumlah sangat sedikit, lemah dan sangat tidak bisa dipercaya.
    Sebaliknya, Hadis yang paling bisa dipercaya yakni Hadis Sahih Bukhari menyatakan bahwa kata Jihad, yang disebutkan lebih dari 200 kali oleh Muhammad dan setiap kali diucapkan, selalu menunjuk kepada Perang Suci secara fisik (Holy War). Dan ironisnya, Hadis Sahih Bukhari TIDAK sekalipun menunjuk pada kata Jihad dalam konteks “perjuangan/pergumulan batin.”

4. Islam adalah agama damai

  • Mitos:
    Muhammad adalah orang yang penuh damai yang mengajarkan para pengikutnya untuk mencintai sesama. Muslim telah hidup damai selama berabad-abad, hanya berperang untuk membela diri ketika dibutuhkan dan bahwa Muslim yang sejati tidak pernah berprilaku agresif.
  • Fakta:
    Dalam 10 tahun terakhir hidupnya, Muhammad mengepalai 65 aksi militer, 27 diantaranya ia terjun secara langsung. Semakin kuat pasukan Muhammad, semakin kecil alasan dia untuk memimpin perang secara langsung. Muhammad menyerang suku-suku di Jazirah Arab hanya karena mereka tidak mau menerima Allah atau dirinya sebagai Rasulullah.
    Setelah Muhammad mati karena racun, para pengikut setianya dan bahkan anggota keluarganya saling baku hantam dalam peperangan berdarah. Dalam 25 tahun pertama, ada 4 Khalifah (pemimpin). 3 dari 4 Khalifah terbunuh oleh sesama Muslim dalam perebutan kekuasaan. Khalifah ketiga dibunuh oleh anak dari Khalifah pertama. Khalifah keempat dibunuh oleh Khalifah kelima yang juga berakhir secara mengerikan dengan pembunuhan massal yang dilakukan oleh sesama keturunan Muhammad.
    Anak perempuan Muhammad sendiri, Fatimah dan suaminya/menantu Muhammad, Ali, tetap tidak luput dari peperangan didalam tubuh Islam. Fatimah mati setelah dianiaya selama 3 bulan dan Ali juga dibunuh. Anak mereka (cucu Muhammad – Hussein) juga dibunuh dalam peperangan dengan kelompok Islam yang pada akhirnya bernama Islam Sunni, sedangkan kelompoknya diberi nama Islam Shi’a. Pada akhirnya keluarga keturunan Muhammad saling berperang dan memecah belah Islam dari dalam tubuhnya sendiri.
    Muhammad sendiri meninggalkan pesan sebelum meninggal agar Muslim memerangi Yahudi, Kristen dan orang Persia. Dan 4 abad berikutnya, tentara Muslim menaklukkan wilayah dengan cara menjarah, merampok, memperbudak dan memaksa orang-orang yang ditaklukkan untuk memeluk Islam atau membayar pajak yang sangat tinggi (Jizyah).
    Para sahabat Muhammad meneruskan pesan Muhammad dan memerintahkan pengikut agar berjihad fisik terhadap semua agama besar dunia saat itu – Hindu, Kristen, Zoroastrian dan Buddhis.
    Pada saat munculnya Kaum Salibi/The Crusades (ketika Eropa mulai melawan penjajahan Islam), Muslim sudah menaklukkan 2/3 dari dunia Kristen dengan pedang dan kekerasan, dari Spanyol sampai ke Suriah, bahkan sampai ke Afrika Utara. Pasar perdagangan budak yang dilakukan oleh orang-orang Arab berjalan sampai 1.300 tahun, sampai akhirnya negara-negara mayoritas Kristen menekan negara-negara Islam untuk menyatakan bahwa perbudakan itu ilegal.
    Pada kenyataannya, saat ini tidak ada agama lain didunia yang secara konsisten dapat menghasilkan teroris dan kekerasan atas nama agama, seperti yang dilakukan oleh Islam. HANYA ISLAM yang dapat memproduksi teroris yang dengan bangga menyatakan bahwa dia melakukan terror karena cinta kepada Islam. Orang Islam yang paling berbahaya adalah mereka yang mentafsirkan Qur’an secara apa adanya, tanpa kemunafikan. Mereka itu adalah Muslim yang paling murni imannya (Muslim sejati) dan tidak menambah-nambahkan tafsiran apapun atas Qur’an. Mereka ini yakin bahwa perintah Muhammad adalah untuk menyebarkan Islam dengan pedang dan membinasakan mereka yang tidak mau tunduk, dan kedamaian hanya dapat dicapai ‘saat tidak lagi ada fitnah,’ alias: Sampai akhirnya seluruh dunia tunduk dibawah Islam.
    Qur’an sendiri dipenuhi dengan ayat-ayat kekerasan dan kebencian terhadap mereka yang berada diluar Islam. Sangat berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya, dimana Perjanjian Lama dipenuhi dengan kekerasan pula tetapi kemudian diubah oleh Perjanjian Baru dengan ajakan kasih dan damai. Qur’an adalah kebalikannya, pada awalnya keluar ayat-ayat Mekkah (saat Muhammad masih belum punya kekuatan) yang dipenuhi dengan pesan damai. Tetapi lambat laun saat Islam dan Muhammad menjadi kuat di Madinah, pesan-pesannya menjadi sangat penuh dengan kekerasan, kebencian dan perintah untuk memerangi orang lain.
    Sementara kisah-kisah di Perjanjian Lama Alkitab yang ada pula kisah perang dan darah, hanya berlaku untuk konteks saat itu seperti yang dinyatakan di dalam Alkitab, sebaliknya pesan-pesan kekerasan dan kebencian di Qur’an berlaku terbuka (universal) tanpa batas waktu.

5. Islam agama yang toleran atas agama lain

  • Mitos:
    Agama minoritas berkembang dibawah Hukum Islam. Muslim diperintahkan untuk melindungi dan tidak menyakiti orang Yahudi dan orang Kristen (kaum Ahlul Kitab).
  • Fakta:
    Agama minoritas TIDAK PERNAH berkembang dibawah Hukum Islam. Faktanya, selama berabad-abad agama minoritas selalu ditekan penganiayaan dan diskriminasi. Banyak dari mereka yang dipaksa murtad dari agama asli mereka dan dipaksa memeluk Islam, yang lainnya hidup sebagai masyarakat kelas dua (dzimmi), yang mana harus membayar pajak lebih tinggi dan harus rela hidup di diskriminasi.
    Ini memang kebohongan yang paling disukai Muslim untuk menarik minat Kafir kepada Islam. Tapi apa yang disebut oleh Muslim sebagai “toleransi”, oleh orang lain disebut sebagai “diskriminasi yang dilembagakan”. Begitu Yahudi dan Kristen menjadi dzimmi di bawah Hukum Islam, mereka dianggap setuju untuk menjadi masyarakat kelas dua yang tidak mempunyai hak dan kebebasan beragama sederajad seperti yang dipunyai oleh Muslim. Mereka tidak dapat menunjukkan agama mereka, mereka tidak dapat memperbaiki ataupun membangun rumah ibadah tanpa seijin para Muslim.
    Sejarah membuktikan bahwa kaum dzimmi harus mengenakan pakaian dan potongan rambut mereka secara berbeda yang menandakan posisi rendah mereka. Mereka tidak mempunyai hak-hak hukum yang sama dengan Muslim, bahkan mereka dipaksa untuk membayar pajak tambahan khusus (Jizyah). Mereka wajib dibunuh atau merelakan anak mereka diambil Muslim bila mereka tidak mampu memuaskan para penagih pajak.
    Selama ratusan tahun, anak-anak orang Kristen Eropa yang dijajah oleh Islam direbut dan dipaksa untuk menjadi Tentara Islam (Janissaries) dibawah pemerintahan Ottoman Turki.

    Catatan: Februari 2008, PM Australia meminta maaf kepada orang Aborigin karena anak-anak mereka direbut dan dipaksa berasilimasi dengan orang kulit putih. Jangan harapkan permintaan maaf seperti ini dari Muslim!

    Akibat diskriminasi dan status warga kelas dua/kelas tiga, banyak orang yang tidak tahan lalu kemudian memeluk Islam. Toleransi kepada mereka yang bukan “Ahlul Kitab”, seperti orang Hindu dan Ateis, jauh lebih parah lagi. Qur’an sendiri memerintahkan Muslim untuk “berperang di jalan Allah” sampai tidak lagi ada fitnah, yaitu “agama hanya untuk Allah.” Masyarakat yang telah ditaklukkan menghadapi hukuman mati jika mereka tidak salat dan memberi sedekah (zakat) sesuai dengan tradisi Islam.
    Raja-raja Islam seperti Tamerlane (Timur Lang) membantai ratusan ribu orang Hindu dan Buddha memaksa jutaan orang untuk memeluk Islam.
    Islam menerapkan standar ganda terhadap agama-agama lain. Disatu sisi mereka mengatakan bahwa orang dari agama lain dikutuk Allah, tetapi disisi lain mereka membual dengan indahnya toleransi terhadap agama lain. Ada lebih dari 500 ayat di dalam Qur’an yang berbicara tentang kebencian Allah terhadap non-Muslim dan hukuman bagi mereka yang tidak percaya. Sebaliknya ada beberapa ayat yang mengatakan toleransi, tetapi jelas sekali bahwa kebanyakan ayat-ayat yang awalnya toleransi itu pada akhirnya dibatalkan dan diganti dengan ayat-ayat kekerasan dan kebencian yang diturunkan lebih belakangan dari ayat-ayat toleransi tersebut.
    Jika toleransi berarti pembantaian massal bagi mereka yang berbeda agama, maka Islam pada umumnya memenuhi standar toleransi. Tetapi jika toleransi berarti membiarkan orang untuk bebas memeluk dan menjalankan agamanya, maka Islam secara fundamental adalah agama yang paling tidak toleran yang ada dimuka Bumi.

6. Islam dan jaman keemasan Ilmu Pengetahuan

  • Mitos:
    Muslim sering bersikeras bahwa Islam berperan tinggi dalam penemuan ilmu pengetahuan, teknologi dan obat-obatan. Mereka sering menunjuk kepada periode abad ke 7 dan abad ke 13, ketika Eropa mengalami “Abad Kegelapan” dan Muslim membawa budaya yang baru.
  • Fakta:
    Meskipun harus diakui bahwa dunia Muslim saat itu lebih maju dibandingkan dengan dunia “Kristen”, kemajuan itu BUKAN karena Islam, tetapi justru karena Islam DIABAIKAN oleh warga-warga ‘Muslim’ yang dipaksa masuk Islam. Faktanya, agama Islam sering mengecilkan pengetahuan dari luar Islam.
    Pertama, dunia Muslim banyak mendapat warisan dari ilmu pengetahuan Yunani yang diterjemahkan oleh orang-orang Kristen dan Yahudi (yang dipaksa masuk Islam). “Muslim-muslim terpaksa” inilah yang menjaga ilmu-ilmu Yunani tersebut yang kemudian -saat Muslim menjajah Eropa- ditransfer kepada orang Eropa.
    Kedua, banyak penemuan science yang diakui Islam sebenarnya dicaplok dari budaya bangsa lain yang ditaklukkan oleh tentara Islam. Contoh, konsep algoritma “zero” (angka 0), secara seenaknya diakui sebagai kontribusi Islam, PADAHAL angka 0 pertama ditemukan oleh orang Hindu.
    Faktanya, banyak komunitas yang djajah Islam mempunyai kontribusi besar dalam sejarah “ilmu pengetahuan Islam” karena secara perlahan tapi pasti komunitas itu di-Islamisasi (daripada jadi Dzimmi dan bayar pajak yang tinggi). Islam sendiri hanya berperan kecil dalam penemuan ilmu pengetahuan tersebut.
    Ketiga, bahkan ilmuwan Islam pada saat itu sering diakui sebagai orang sesat atau bidah. Sebagai contoh, satu dari penemu terbesar di dunia Islam adalah ilmuwan dan ahli filsafat Persia, Muhammad ibn Zakariya al-Razi. Karya-karyanya yang sangat menakjubkan sering digunakan sebagai bukti prestasi Islam. Padahal Al-Razi dikutuk sebagai penghujat Islam oleh kaum Islam konservatif sendiri.
    Keempat, bahkan kontribusi yang sering disangkutpautkan dengan Islam kebanyakan tidak begitu dramatis. Ada penemuan seperti kata-kata khusus, seperti Alchemy, Aljabar dan Elixir, tetapi tidak banyak yang berguna bagi kemajuan ilmu pengetahuan modern.
    Contoh lagi: Islam mengklaim penemuan kopi, karena biji kopi ditemukan di Afrika (pada saat itu, Afrika adalah sumber penting bagi pedagangan pasar budak bagi Islam) dan pertama diproses di Timur Tengah. Hal ini adalah benar adanya, tetapi jangan lupa juga menyebutkan bahwa zat pewarna merah yang digunakan di berbagai macam produk makanan, mulai dari jus strawberry sampai ke permen, berasal dari semacam kumbang betina yang hanya dapat ditemukan di Amerika Selatan. Dan tidak ada satupun orang Katolik yang mengaku bahwa zat pewarna merah adalah ‘penemuan Katolik’!
    Faktanya, banyak ‘penemuan Muslim’ yang sering diceritakan terlalu hiperbola (berlebihan) dan sudah kadaluwarsa. Pencapaian ilmu pengetahuan, obat-obatan dan teknologi adalah sesuatu yang mana pembela Muslim tidak mau dibandingkan dengan dunia Kristen (karena kalah telak kalau dibandingkan). Hari ini para pengembang Islam hanya dikenal semata-mata karena mengubah teknologi Barat (seperti handphone dan pesawat terbang) menjadi senjata pembunuh massal.
    Singkatnya, meskipun dunia Islam mempunyai peran dalam sejarah ilmu pengetahuan, tetapi SALAH BESAR kalau anda mengatakan bahwa karena Islam-lah semua ilmu pengetahuan modern itu ada sekarang ini. Banyak pencapaian ilmu pengetahuan yang dikatakan berasal dari dunia Islam ternyata berasal dari non-Muslim yang tinggal di negara Islam atau berasal dari Muslim KTP yang mana tidak mempunyai ketertarikan terhadap agama sama sekali.

7. Islam menentang perbudakan

  • Mitos:
    Islam menentang segala bentuk perbudakan. Islam menghancurkan segala bentuk perbudakan, kita harus berterima kasih kepada prinsip-prinsip yang ditanamkan oleh Muhammad yang adalah seorang penentang perbudakan.
  • Fakta:
    Tidak ada satupun ayat Qur’an yang menentang perbudakan. Faktanya, buku “suci” umat Islam ini secara tegas memberikan kebebasan kepada para pemilik budak untuk berhubungan seksual dengan budak mereka – bukan hanya di satu ayat, tetapi sedikitnya di 4 Surah yang berbeda. Di dalam Hukum Islam sendiri bertebaran hukum mengenai cara memperlakukan budak, tetapi tidak ada yang membatasi secara ketat cara memperlakukan budak secara manusiawi.
    Hukum Islam yang ada (dan kenyataan bahwa Muhammad memiliki dan berdagang budak) mendukung dan melegalkan perdagangan budak. Sebagai contohnya adalah bahwa kesengsaraan manusia sudah menjadi bagian dari tradisi Islam sejak jaman Muhammad dan menjadi situasi yang tidak menguntungkan bagi para non-Muslim di Sudan, Mali, Nigeria dan Mauritania dan sebagainya.
    Tidak pernah ada gerakan untuk berusaha menghapus perbudakan di dalam sejarah Islam. Penghapusan perbudakan yang dimulai di negara-negara Islam disebabkan oleh tekanan politik negara-negara Eropa. Bila memang Islam anti perbudakan, maka tidak dibutuhkan tekanan sedikitpun dari negara-negara Eropa agar negara Islam menghapuskan praktek perbudakan.
    Meskipun sampai saat ini masih terjadi banyak kekerasan sangat mengerikan terhadap budak (baca: TKW) yang terjadi di dunia Muslim, tetapi hanya sedikit yang peduli maupun menyesali apalagi merasa bersalah atas fakta tersebut. Itu jelas menunjukkan bahwa Muslim menganggap perbudakan ala Islam sebagai sesuatu yang NORMAL!
    Bahkan banyak Muslim percaya bahwa perempuan, laki-laki dan anak-anak yang diperbudak setelah kalah perang, sebenarnya harus berterima kasih bahwa mereka tidak dibunuh Jihadis yang menawan mereka!
    Rasa malu dan permintaan maaf tidak pernah ditemukan dalam Darul Islam. Para Khalifah dan para pemimpin agama memiliki ribuan gundik, gadis dan perempuan yang ditangkap dari Eropa yang dijadikan budak seks. Gadis-gadis Hungaria dikejar-kejar seperti binatang oleh tentara Ottoman Turki, yang menjadikan lebih dari 3 juta orang menjadi budak selama lebih dari 150 tahun kekuasaan mereka.
    Para budak Afrika sering dikebiri oleh para majikan Muslim mereka. Ini alasan mengapa tidak ditemukan banyak keturunan Afrika di Timur Tengah, meskipun perbudakan dari Afrika di tanah Arab berlangsung selama 1.300 tahun dibandingkan dengan 300 tahun perbudakan di tanah Eropa.
    Tidak ada orang seperti William Wilberforce atau Bartolome de las Casas (orang-orang Kristen yang memulai penghapusan perbudakan di Eropa) di dalam sejarah Islam. Kalau kita minta Muslim menyebutkan satu saja nama orang Islam yang menjadi pelopor penghapusan perbudakan, mereka cuma mampu menyebutkan nama Muhammad seseorang. Tetapi, kalau seorang pemilik budak dan juga pedagang budak, yang memerintahkan penangkapan dan eksplorasi seksual terhadap budak dan meninggalkan warisan 13 abad perbudakan, adalah yang terbaik yang bisa ditawarkan oleh Islam, tidak banyak yang bisa diharapkan dari Islam.

8. Islam tidak ada sangkut pautnya dengan terorisme

  • Mitos:
    Islam tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan aksi terorisme. Pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah adalah bertentangan dengan Islam.
  • Fakta:
    Meskipun banyak orang Islam yang percaya bahwa agama mereka melarang pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah oleh aksi terorisme, kebenarannya ternyata lebih rumit dari itu. Itulah kenapa Jihadis dan penentang mereka bisa sama-sama saling menuduh satu sama lain bahwa mereka bukanlah Islam yang sejati.
    Faktanya, definisi dari “orang yang tidak bersalah” adalah tidak mudah dijelaskan oleh para pembela Islam, begitu juga definisi dari “terorisme”.
    Pertama, kita harus mempertimbangkan bahwa siapapun yang menolak Muhammad sebagai Rasul Tuhan adalah dianggap bukan “orang yang tidak bersalah (innocent people)” dibawah Hukum Islam. Kelompok yang paling dilindungi dan dihargai dari semua orang yang non-Muslim adalah dzimmi. Ini termasuk didalamnya yaitu orang Yahudi dan Kristen yang menyetujui untuk hidup dibawah Hukum Islam dan membayar Jizyah (pajak kepada Muslim). Tetapi kata “Dzimmi” berasal dari akar kata bahasa Arab yang berarti “bersalah” atau “dipersalahkan”.
    Jadi kalau orang dzimmi mempunyai status bersalah yang menempel pada status mereka (karena menolak Hukum Islam yang “sepenuhnya”), bagaimana mungkin non-Muslim tidak mau tunduk pada Hukum Islam sama sekali atau menolak membayar pajak bisa dikategorikan sebagai “orang yang tidak bersalah/innocent people?”
    Didalam komunitas Islam sendiri ada kategori dari orang Muslim yang juga dikatakan bersalah bahkan dikatakan lebih berdosa dari para non-Muslim. Kelompok ini adalah kelompok orang munafik atau Munafikin, yang mana Muhammad menunjuk kelompok ini sebagai golongan yang paling hina. Kelompok Munafikin ini adalah kelompok Islam KTP. Mereka dapat dikatakan Munafikin karena tidak mau melakukan Jihad atau karena secara sengaja mengacaukan komunitas Muslim.
    Ketika Muslim membunuh sesama Muslim atas nama Allah (misal, antara Sunni dan Syiah), mereka yang melakukannya biasanya percaya bahwa korban mereka adalah Munafikin atau orang Kafir, dan ini sebenarnya merupakan bagian dari Hukum Islam yang bernama Takfir, yang mana jika ada Muslim yang murtad dan kemudian dieksekusi.
    Sebagai tambahan dari tidak jelasnya definisi “orang yang tidak bersalah”, adanya masalah bagi kita untuk membedakan antara terorisme dan Jihad. Teroris Islam tidak pernah menyebut diri mereka sebagai teroris, tetapi selalu menyebut diri mereka sebagai Pejuang Suci (Mujahidin, Syahid atau Fedayeen). Mereka menganggap aksi mereka sebagai bagian dari Jihad (berperang di jalan Allah).
    Jihad adalah sesuatu yang Muhammad perintahkan di dalam Qur’an dan Hadis. Di Surah 9 At-Taubah 29, Muhammad memberikan prinsip bahwa orang Kafir harus diperangi sampai mereka memeluk Islam atau menerima/tunduk kepada Hukum Islam (syariat). Hal ini dikonfirmasikan di Hadis Sahih Muslim dan Bukhari.
    Di banyak tempat, Muhammad berkata bahwa Jihad adalah jalan yang ideal bagi Muslim dan bahwa Muslim harus “berperang di jalannya Allah”. Ada puluhan pesan terbuka di Qur’an yang mendorong peperangan dan pembunuhan – lebih dari damai dan toleransi. Sangatlah naif kalau kita berpikir bahwa ayat-ayat Qur’an yang katanya berlaku sepanjang masa ini hanyalah kita ambil nilai sejarahnya saja dan tidak ada relevansinya pada Muslim saat ini, khususnya ketika tidak ada petunjuk di dalam teks tersebut yang menjelaskan tentang hal ini.
    Mengabungkan perintah Qur’an tentang Jihad dengan ketidak jelasan tentang siapa orang yang tidak bersalah (innocence) menimbulkan masalah yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan permainan dan akrobatik kata-kata. Bukan hanya karena diijinkannya kekerasan di dalam Islam, tetapi juga karena adanya ketidaksetujuan dan ketidaktulusan yang membenarkan kekerasan tersebut dan juga sasaran dari kekerasan itu.
    Jadi meskipun banyak Muslim mengklaim bahwa mereka tidak setuju kepada terorisme tetapi disisi lain mereka mendukung aksi-aksi perlawanan yang terjadi di Irak, sebagai contohnya, dan sering menyatakannya sebagai “perang melawan Islam”. Meskipun pasukan Amerika di Irak adalah untuk melindungi orang sipil dan membantu membangun kembali Irak, tetapi Muslim di seluruh dunia dan bahkan Muslim di Barat percaya bahwa adalah benar bagi orang Islam Sunni untuk membunuh pasukan Amerika di Irak.
    Karena merasa didukung oleh Islamlah, para Mujahidin merasa bahwa adalah benar untuk menyerang sesama orang Irak – yang telah membantu pasukan Amerika bahkan bila mereka adalah bagian dari pemerintah Irak yang terpilih secara demokratis. Baik sipil ataupun tentara, mereka adalah “Munafikin” apabila mereka membantu musuh mereka: “The Crusaders”.
    Meskipun kita menggunakan Irak sebagai contoh disini, banyak contoh yang lain yang menggunakan alasan dan dasar yang sama dibalik semua teror yang dilakukan oleh Islam, dari Filipina sampai ke Thailand. Dimanapun agama Islam sebagai minoritas, selalu ada orang Muslim yang percaya bahwa kekerasan adalah dibenarkan untuk membawa mereka kepada dominasi – seperti yang diajarkan oleh Muhammad dengan teladannya sewaktu menaklukkan Mekkah dan tanah Al-Hirath.
    Dan bagaimana dengan yang disebut “orang yang tidak bersalah” yang menjadi korban dari pemboman dan penembakan? Bahkan di masa Muhammad masih hidup, pembunuhan terhadap mereka juga tidak dapat dielakkan. Bahkan didalam Hadis yang mana Muhammad melarang pembunuhan terhadap para perempuan, juga terindikasi bahwa ada korban perempuan disetiap perang yang diperintahkan oleh Muhammad. (By the way, perempuan dilarang dibunuh dalam perang Muslim bukan karena alasan kemanusiaan, tetapi justru karena alasan syahwat semata. Bila ditanya, mungkin dari kebanyakan perempuan tawanan begundal-begundal Muhammad itu akan lebih memilih dibunuh daripada jadi slave sex kaum bersorban).
    Peristiwa ketika orang Muhammad memperingati dia bahwa penyerangan di malam hari terhadap markas musuh dapat mengakibatkan terbunuhnya perempuan dan anak-anak dapat kita jadikan contohnya. Karena Muhammad tetap melaksanakan penyerangan tersebut.
    Faktanya, Islam secara terbuka membenarkan Jihad. Persepsi awal yang dikatakan tentang pembelaan diri terhadap ancaman, perlahan tapi pasti berubah menjadi kampanye kekerasan yang bertujuan untuk menegakkan Hukum Islam (syariat).
    Islam didirikan tidak untuk menjadi setara dengan agama-agama lain, Islam didirikan untuk mendominasi, dengan Syariat-nya sebagai hukum yang terutama. Hukum Islam harus ditegakkan sampai ke ujung Bumi dan untuk melaksanakan Islam dapat menghalalkan semua cara.
    Para pembela Islam di dunia Barat sering mengatakan bahwa banyak ayat-ayat kekerasan di Qur’an hanya relevan di “waktu perang”. Untuk hal ini, para teroris Islam sangatlah setuju dengan mereka, bahwa saat ini mereka menganggap sedang di dalam situasi peperangan.

9. Islam adalah demokratis

  • Mitos:
    Islam itu sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Islam itu sendiri adalah demokrasi.
  • Fakta:
    Demokrasi adalah sistem dimana semua orang adalah sama kedudukannya dihadapan hukum, tidak peduli tentang ras, agama atau jenis kelamin. Pendapat semua orang dihargai seperti juga pendapat orang lain. Keinginan bersama dari masyarakat yang akan menentukan kebijaksanaan dari masyarakat itu.
    Dibawah Hukum Islam, hanya laki-laki Muslim yang dapat menikmati hak-hak penuh. Keberadaan perempuan sendiri sering dihitung hanya setengah dari hak laki-laki, kadang-kadang tidak sampai setengahnya. Non-Muslim sama sekali tidak mempunyai hak seperti yang dipunyai Muslim.
    Negara Islam dituntun oleh Hukum Islam, yang diambil dari Qur’an dan Sunnah. Lembaga Ulama bertugas untuk menafsirkan hukum tersebut dan mengaplikasikannya disemua situasi sosial, budaya dan politik.
    Adalah pertanyaan yang sulit dijawab, apakah ada negara di dunia Islam yang memenuhi kualifikasi demokrasi yang sesungguhnya. Dan bagaimanapun tidak dapat disangkal bahwa di dalam negara demokrasi sering terjadi bentrokan karena beda kepentingan antara pemerintah dan para pemimpin rohani, yang mana pada akhirnya selalu pemerintah dikatakan Kafir karena tidak menuruti para pemimpin rohani.
    Kesimpulannya: Islam bukanlah demokrasi. •
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: