Osama Dorra, Penulis dan Anggota Ikhawanul Muslimin Murtad

Media berita Egypt Independent telah menerbitkan kesaksian seorang anggota dan penulis Muslim Brotherhood (al-ʾIkḫwān al-Muslimūn) bernama Osama Dorra tentang bagaimana dia meragukan Islam dari kehidupannya.
Osama Dorra

Osama Dorra

Merubah Kepercayaanku

Oleh: Osama Dorra •

Aku mengambil keputusan untuk menghentikan ibadah Islam sebagai kegiatan agama karena “pertentangan nalar” antara isi Islam dan apa yang kuanggap sebagai rasional, adil, dan masuk akal. Pertentangan ini telah mencapai batas di luar pengertian akal sehatku.

Aku anggap Islam hanya sebagai pengaruh budaya saja yang mempengaruhi moralku. Aku kemungkinan bisa menemukan pengaruh lain, atau bisa juga kembali memeluk.

Arab Spring (Kebangkitan Bangsa Arab) telah mengguncangkan keyakinanku akan apa yang dulu kami alami sebelum terjadi revolusi. Sudahlah jelas bahwa anggapan yang kita anut dalam membentuk kehidupan ternyata tidak semuanya baik, berbagai badan organisasi yang memimpin kita ternyata kebanyakan tidak efisien dan tidak jujur, dan pemimpin-pemimpin yang kita hormati ternyata kebanyakan tidak layak untuk dipuji.

Karena itu, generasi masa kini menanggung beban untuk meninjau ulang kembali semua hal yang sekarang kita ragukan, sampai Allah menunjukkan kebenenaran.

Dalam konteks keadaan yang serba tak pasti, aku merasa sangat tersiksa saat memikirkan tiga hal yang bersangkutan dengan ajaran agama Islam yang sangat bertentangan dengan akal sehat.

Pertama adalah protes penuh kekerasan atas film yang menghina Nabi Muhammad. Dalam protes ini ditekankan bahwa hukum bagi penghina Nabi dalam Syariah adalah hukuman mati.

Menurutku, hukuman mati ini sangat tidak sesuai dengan “toleransi,” “belas kasihan”, dan “kebebasan” yang kita yakini merupakan bagian dari Islam. Malah sebenarnya ketiga hal itu menjadi dasar hukum bangsa Barat yang giat menjunjung tinggi “kebebasan mengungkapkan pendapat,” sehingga mereka lebih bisa bersikap toleran, adil, dan menghormati orang lain.

Aku mendengar khotbah imam di mesjid di hari Jum’at yang mengisahkan tentang seorang majikan Muslim buta yang memiliki seorang budak wanita. Pria ini menikahi sang wanita dan mereka lalu punya dua anak. Akan tetapi, suatu hari, dia menusuk wanita itu di perutnya ketika dia mendengar wanita itu mengritik Muhammad. Saat ditusuk, wanita itu sedang mengandung putra mereka yang ketiga.

Dan ketika majikan Muslim itu mengakui pada sang Nabi mengapa dia membunuh istrinya, “Nabi berkata: Oh, jadilah saksi ini, tidak ada pembalasan yang perlu dibayar bagi darahnya”. Kisah ini diambil dari Hadis Abu Dawud dan disampaikan oleh Ibn Abbas, pamannya Muhammad.

Sunan Abu-Dawud, Buku 38, Hadith 4348
Disampaikan oleh Abdullah Ibn Abbas:
Seorang pria buta punya seorang wanita yang sedang mengandung (bayi pria buta itu sendiri) dan budak ini suka mengolok-olok dan menghina sang Nabi. Ia melarang budak ini tapi budaknya tidak mau berhenti. Ia memarahinya, tapi budak itu tetap tidak meninggalkan tabiatnya. Suatu malam, budak itu mulai mencemooh sang Nabi dan menghinanya. Lalu pria itu mengambil sebuah pisau, menempelkannya di perut budak itu, lalu menusuknya, dan membunuhnya. Janinnya ke luar diantara kakinya berlumuran darah. Pagi harinya, sang Nabi diberitahu tentang hal ini. Dia mengumpulkan orang-orangnya dan berkata: Aku meminta dengan sangat demi Allah orang yang melakukan hal ini untuk berdiri mengaku. Pria buta itu lalu melompat dan dengan gemetar berdiri.
Dia duduk di sebelah sang Nabi dan berkata: Rasul Allah! Akulah majikan budak itu; ia seringkali menghina dan mengolok-olokmu. Aku melarangnya, tapi dia tidak berhenti, aku memarahinya, tapi dia tidak meninggalkan tabiatnya. Aku punya dua anak laki seperti mutiara dari budak perempuan ini, dan ia adalah kesayanganku. Kemarin malam, dia mulai lagi menghina dan mengolok-olok engkau. Lalu kuambil sebuah pisau, menempelkannya di perutnya, dan menusukkannya sampai aku membunuhnya.
Sang Nabi berkata: “Oh jadilah saksi ini, tidak ada pembalasan yang perlu dibayar bagi darahnya”.

Menurut pengamat Islam, hadis ini adalah sahih, meskipun isinya sangat mengerikan dan sangat bertolak belakang dengan apa yang kuyakini tentang Islam. Aku tidak percaya bahwa sang Nabi yang penuh pengampunan bisa mengijinkan pembunuhan seperti itu.

Kedua, dalam wawancara TV, pemandu acara bernama Wael al-Ibrashy bertanya pada Yasser Borhamy, pemimpin gerakan dakwah Salafi di Alexandria, tentang pendapatnya akan menikah dengan anak perempuan yang masih kecil. Borhamy menjawab bahwa dia tidak bisa melarang apa yang telah diijinkan Nabi dan Allahnya, bahwa menikahi anak-anak perempuan ingusan memang dihalalkan jika anak-anak itu tidak menolak.

Dia lalu mengutip ayat keempat dari Surat Ath-Talaaq (Cerai) yang mengatakan “mereka yang belum mens” harus tunggu selama tiga bulan sebelum boleh menikah lagi. Hal ini berarti anak-anak perempuan kecil yang dinikahi lalu dicerai harus menunggu tiga bulan, sama seperti wanita dewasa, sebelum boleh menikah lagi.

QS Ath-Talaaq(65) ayat 4
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Aku sangat kaget sewaktu mengetahui bahwa Qur’an punya ayat seperti ini. Jika para pendakwah ngotot mengatakan bahwa Qur’an adalah sumber hukum yang bersifat abadi, maka aku mempertanyakan apakah Allah benar-benar mengijinkan perkosaan terhadap anak-anak kecil sebagai pesan terakhirnya pada umat manusia?

Ketiga adalah tindakan pembakaran buku Islam dari doktrin Maliki oleh Mauritanian Initiative for the Resurgence of Abolitionism (organisasi Mauritania yang mendukung penghapusan diskriminasi, sikap rasis, benci bangsa asing, intoleransi http://www.unpo.org/article/16363). Buku-buku dibakar mereka karena dianggap melanggar nilai-nilai dan identitas masyarakat.

Buku-buuk Islam dari doktrin Maliki ini menjelaskan perbedaan antara orang merdeka dan budak belian mengenai hak hidup, dan pembebasan hukuman bagi majikan yang membunuh budaknya. Dan jika seorang majikan membunuh budak milik majikan lain, maka dia hanya diharuskan membayar harga budak yang dibunuhnya itu.

Para penulis doktrin Islam Maliki mengutip hukum tersebut dari Qur’an, Surat Al-Baqarah, ayat 178 yang mengatakan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita.”

Dari pesan ayat ini sudah jelas bahwa Qur’an bukanlah buku pedoman yang bisa dipakai untuk menghapus perbudakan.

Terlebih lagi, Muslim yang percaya betul akan isi Qur’an merasa yakin bahwa jika terjadi jihad, maka perampasan tawanan wanita dan perdagangan budak akan terjadi lagi. Hal ini akan terjadi walaupun sebagian besar manusia modern telah menjauhi segala hal yang bertentangan dengan kemanusiaan.

Tapi masalahnya jauh lebih besar daripada ketiga hal di atas. Tiada panutan apapun yang bisa mendorong generasi kami untuk bisa dengan yakin memilih cara membentuk masyarakat yang baik.

Masyarakat negara kami sudah jadi ke dalam kegagalan dan kemiskinan yang memalukan. Mereka berangan-angan jika mereka kembali ke masa lalu, maka mereka akan jaya kembali seperti kakek moyang mereka yang dulu. Tapi kenyataannya, masyarakat lain di bumi ini telah maju dan berkembang terus dengan berbagai kemakmuran dan berkat berlimpah dari Allah.

Sekarang lihat siapakah yang menunjuk diri mereka sebagai “pembela Islam.” Orang-orang ini berpikir bahwa mereka membawa misi suci yang bisa memimpin negara untuk kembali dekat dengan Allah. Tapi pada kenyataannya, orang-orang ini berdusta, ingkar janji, obral suara untuk memenuhi keinginan mereka sendiri, menakut-nakuti orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka, menjungkirbalikkan keadilan sosial jika bertentangan dengan niat mereka.

Apakah seperti ini yang diajarkan Islam? Jika benar begitu, maka agamaku berbeda dengan agamamu.

Saat seseorang berhadapan dengan fakta-fakta baru yang bertentangan dengan agama mereka yang kuno, orang itu akan mengalami rasa sakit dalam batinnya yang merusak jiwanya. Dalam keadaan seperti itu, mereka terkadang jadi murtad, menyangkal fakta-fakta baru, atau memlintir fakta sedemikian rupa agar bisa sejalan dengan agamanya.

Tapi aku memilih jalan lurus dan sikap berhati-hati dalam menghadapi hal ini: aku memilih membekukan agamaku tanpa meninggalkan sepenuhnya. Aku memilih tidak menghakimi secara menyeluruh agamaku dan fakta-fakta baru yang kulihat. Aku mempertimbangkan semua agama dan filosofi. Aku berharap Allah mau membimbingku.

Banyak anak-anak muda yang juga mengambil keputusan sama denganku, sebagian mencampur sikap mereka dengan pemberontakan terhadap masyarakat yang dianggapnya mengekang dirinya. Tapi kebanyakan para Muslim ragu seperti diriku bersikap diam karena khawatir didatangi “polisi Allah” yang banyak tersebar di masyarakat kita.

Inilah pesan dari generasi bangsaku pada mereka yang memimpin negara ini: bersihkan agama dari segala hukum keji dan jangan gunakan agama untuk kepentingan politik, agar kami tidak menolak kamu dan agamamu. •

Swara Kafir
IslamWatch.org

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • nano  On 3 May 2014 at 04:59

    GBU…..!!!!!!!!!!

  • koko  On 3 May 2014 at 05:57

    Mencintai dan memuliakan Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wa salam adalah syarat sahnya iman.
    Barangsiapa dalam hatinya tidak ada rasa cinta dan
    penghormatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
    salam, niscaya dalam hatinya tiada keimanan sedikit
    pun.
    Semakin kuat rasa cinta seorang muslim kepada
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, niscaya
    keimanannya semakin kuat pula. Dan keimanan tersebut
    akan mencapai puncaknya ketika seorang muslim lebih
    mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam
    daripada rasa cintanya kepada ayah, ibu, anak, istri,
    saudara dan manusia siapapun juga.
    Sebagaimana ditegaskan dalam hadits-hadits shahih:
    ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ، ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
    ﻗَﺎﻝَ : ‏« ﻓَﻮَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ، ﻻَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ
    ﻣِﻦْ ﻭَﺍﻟِﺪِﻩِ ﻭَﻭَﻟَﺪِﻩِ ‏»
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “ Demi
    Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya. Salah
    seorang di antara kalian tidak beriman sehingga aku
    lebih ia cintai daripada bapaknya dan anaknya sendiri.”
    (HR. Bukhari no. 14)
    ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲٍ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ‏« ﻻَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ،
    ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﻭَﺍﻟِﺪِﻩِ ﻭَﻭَﻟَﺪِﻩِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺟْﻤَﻌِﻴﻦَ ‏»
    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “ Salah seorang di
    antara kalian tidak beriman sehingga aku lebih ia cintai
    daripada bapaknya sendiri, anaknya sendiri dan seluruh
    manusia.” (HR. Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)
    ﻋَﻦْ ﺃَﻧَﺲِ ﺑْﻦِ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
    ﻗَﺎﻝَ : ” ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﻦْ ﻛُﻦَّ ﻓِﻴﻪِ ﻭَﺟَﺪَ ﺣَﻼَﻭَﺓَ ﺍﻹِﻳﻤَﺎﻥِ : ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ
    ﻭَﺭَﺳُﻮﻟُﻪُ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻤَّﺎ ﺳِﻮَﺍﻫُﻤَﺎ ، ﻭَﺃَﻥْ ﻳُﺤِﺐَّ ﺍﻟﻤَﺮْﺀَ ﻻَ ﻳُﺤِﺒُّﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ ،
    ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻜْﺮَﻩَ ﺃَﻥْ ﻳَﻌُﻮﺩَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻜُﻔْﺮِ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺬَﻑَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tiga perkara
    yang barangsiapa pada dirinya terdapat ketiga perkara
    tersebut niscaya ia akan bisa meraih lezatnya keimanan:
    (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari manusia
    siapapun juga, (2) mencintai seseorang semata-mata
    karena (orang tersebut taat kepada) Allah dan (3) benci
    kembali kepada kekafiran setelah Allah
    menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana rasa
    bencinya jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR.
    Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
    Seorang muslim senantiasa mencintai dan
    mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.
    Di antara wujud mencintai dan mengagungkan beliau
    adalah:
    1. Membenarkan wahyu Al-Qur’an dan as-sunnah
    (hadits nabawi) yang beliau terima dari Allah ta’ala.
    2. Melaksanakan perintah-perintah beliau, baik hal yang
    wajib maupun yang sunah.
    3. Menjauhi larangan-larangan beliau, baik hal yang
    haram maupun yang makruh.
    4. Mempelajari, mengajarkan, mendakwahkan dan
    memperjuangkan ajaran agama Islam yang beliau bawa.
    5. Menjadikan syariat beliau, Al-Qur’an dan as-sunnah,
    sebagai satu-satunya pedoman hidup dalam kehidupan
    pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
    6. Mengorbankan jiwa raga, harta, tenaga, pikiran dan
    waktunya untuk memperjuangkan tegaknya syariat
    beliau.
    7. Memanjatkan shalawat kepada beliau dan memohon
    kepada Allah agar kelak di hari kiamat diperkenankan
    menerima syafaat beliau.
    8. Memusuhi dan membenci orang-orang yang
    membenci, memusuhi, mencaci maki dan melecehkan
    beliau.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam adalah pribadi
    agung dan manusia pilihan yang paling dicintai dan
    diagungkan oleh Allah Ta’ala. Oleh karenanya,
    mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam
    adalah bagian dari mengagungkan syiar-syiar agama
    Allah Ta’ala. Sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala,
    ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻌَﻈِّﻢْ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺗَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ
    “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa
    mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya
    itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj [22]: 32)
    ***
    Tuntunan Islam dalam menyikapi pelecehan terhadap
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam
    Islam memandang penghinaan, pelecehan dan caci
    makian kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam
    sama artinya dengan penghinaan, pelecehan dan caci
    makian kepada Allah Ta’ala dan agama Islam. Sebab,
    Allah Ta’ala-lah Yang telah mengutus beliau sebagai
    penutup seluruh nabi dan rasul dengan membawa agama
    Islam.
    Demikian pula penghinaan, pelecehan dan caci makian
    kepada agama Islam sama artinya dengan penghinaan,
    pelecehan dan caci makian kepada Allah Ta’ala dan
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Tentu saja,
    penghinaan, pelecehan dan caci makian kepada Allah
    Ta’ala juga merupakan penghinaan, pelecehan dan caci
    makian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam
    dan agama Islam.
    Allah Ta’ala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan
    agama Islam adalah tiga hal yang saling berkait erat dan
    tidak bisa dipisahkan. Ketiganya wajib diagungkan oleh
    seorang muslim. Penghinaan, pelecehan dan caci
    makian kepada salah satunya berarti penghinaan,
    pelecehan dan caci makian kepada dua perkara lainnya.
    Seorang muslim akan mengikuti tuntunan Al-Qur’an, as-
    sunnah dan ijma’ ulama dalam menyikapi tindakan dan
    orang yang melakukan penghinaan, pelecehan dan caci
    makian kepada Allah Ta’ala, atau Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wa salam atau agama Islam. Lantas bagaimana
    Al-Qur’an, as-sunnah dan ijma’ ulama memandang
    penghinaan, pelecehan dan caci makian kepada Allah
    Ta’ala, atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam atau
    agama Islam?
    Dalil-dalil Al-Qur’an
    Ayat-ayat Al-Qur’an secara tegas telah menerangkan
    bahwa orang yang menghina, melecehkan dan mencaci
    maki Allah Ta’ala, atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
    salam atau agama Islam adalah orang yang kafir murtad
    jika sebelumnya ia adalah seorang muslim. Kekafiran
    orang tersebut adalah kekafiran yang berat, bahkan lebih
    berat dari kekafiran orang kafir asli seperti Yahudi,
    Nasrani dan orang-orang musyrik.
    Adapun jika sejak awal ia adalah orang kafir asli, maka
    tindakannya menghina, melecehkan dan mencaci maki
    Allah Ta’ala, atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam
    atau agama Islam tersebut telah menempatkan dirinya
    sebagai gembong kekafiran dan pemimpin orang kafir. Di
    antara dalil dari Al-Qur’an yang menegaskan hal ini
    adalah:
    [1] Firman Allah Ta’ala:
    ‏) ﻭَﺇِﻥْ ﻧَﻜَﺜُﻮﺍ ﺃَﻳْﻤَﺎﻧَﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻋَﻬْﺪِﻫِﻢْ ﻭَﻃَﻌَﻨُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺩِﻳﻨِﻜُﻢْ ﻓَﻘَﺎﺗِﻠُﻮﺍ
    ﺃَﺋِﻤَّﺔَ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮِ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻻ ﺃَﻳْﻤَﺎﻥَ ﻟَﻬُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﻨْﺘَﻬُﻮﻥَ ‏(
    “Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)nya
    sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama
    kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-
    orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah
    orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar
    supaya mereka berhenti.” (QS. At-Taubah [9]: 12)
    Dalam ayat yang mulia ini, Allah menyebut orang kafir
    yang mencerca dan melecehkan agama Islam sebagai
    aimmatul kufri, yaitu pemimpin-pemimpin orang-orang
    kafir. Jadi ia bukan sekedar kafir biasa, namun gembong
    orang-orang kafir. Tentang hal ini, imam Al-Qurthubi
    berkata, “Barangsiapa membatalkan perjanjian damai dan
    mencerca agama Islam niscaya ia menjadi pokok dan
    pemimpin dalam kekafiran, sehingga berdasar ayat ini ia
    termasuk jajaran pemimpin orang-orang kafir.” (Al-Jami’
    li-Ahkamil Qur’an, 8/84)
    Imam Al-Qurthubi berkata, “Sebagian ulama berdalil
    dengan ayat ini atas wajibnya membunuh setiap orang
    yang mencerca agama Islam karena ia telah kafir.
    Mencerca ( ath-tha’nu ) adalah menyatakan sesuatu yang
    tidak layak tentang Islam atau menentang dengan
    meremehkan sesuatu yang termasuk ajaran Islam, karena
    telah terbukti dengan dalil yang qath’i atas kebenaran
    pokok-pokok ajaran Islam dan kelurusan cabang-cabang
    ajaran Islam.
    Imam Ibnu Al-Mundzir berkata, “Para ulama telah
    berijma’ (bersepakat) bahwa orang yang mencaci maki
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam harus dibunuh. Di
    antara yang berpendapat demikian adalah imam Malik
    (bin Anas), Laits (bin Sa’ad), Ahmad (bin Hambal) dan
    Ishaq (bin Rahawaih). Hal itu juga menjadi pendapat
    imam Syafi’i.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/82)
    Imam Ibnu Katsir berkata, “Makna firman Allah mereka
    mencerca agama kalian adalah mereka mencela dan
    melecehkan agama kalian. Berdasar firman Allah ini
    ditetapkan hukuman mati atas setiap orang yang
    mencaci maki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam
    atau mencerca agama Islam atau menyebutkan Islam
    dengan nada melecehkan. Oleh karena itu Allah
    kemudian berfirman maka perangilah pemimpin-
    pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya
    mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat
    dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti,
    maksudnya mereka kembali dari kekafiran, penentangan
    dan kesesatan mereka.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim,
    4/116)
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Allah Ta’ala
    menamakan mereka pemimpin-pemimpin orang-orang
    kafir karena mereka mencerca agama Islam…Maka telah
    tetaplah bahwa setiap orang yang mencerca agama
    Islam adalah pemimpin orang-orang kafir. Jika seorang
    kafir dzimmi mencerca agama Islam maka ia telah
    menjadi seorang pemimpin bagi orang-orang kafir, ia
    wajib dibunuh berdasar firman Allah Ta’ala “ maka
    perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu “.
    (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 17)
    Beliau juga mengatakan: “Sesungguhnya mencaci maki
    Allah atau mencaci maki Rasul-Nya adalah kekafiran
    secara lahir dan batin. Sama saja apakah orang yang
    mencaci maki itu meyakini caci makian itu sebenarnya
    haram diucapkan, atau ia meyakini caci makian itu boleh
    diucapkan, maupun caci makian itu keluar sebagai
    kecerobohan bukan karena keyakinan. Inilah pendapat
    para ulama fiqih dan seluruh ahlus sunnah yang
    menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan.”
    (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 512)
    Beliau juga mengatakan: “Jika orang yang mencaci maki
    (Allah Ta’ala) tersebut adalah seorang muslim maka ia
    wajib dihukum bunuh berdasar ijma’ (kesepakatan
    ulama) karena ia telah menjadi orang kafir murtad dan ia
    lebih buruk dari orang kafir asli. Seorang kafir asli
    sekalipun akan mengagungkan Rabb dan meyakini
    agama batil yang ia anut tersebut bukanlah sebuah
    olok-olokan dan caci makian kepada Allah Ta’ala.”
    (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 546)
    [2]. Firman Allah Ta’ala:
    ‏) ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ
    ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ . ﻻ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢْ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ ﺇِﻥْ
    ﻧَﻌْﻒُ ﻋَﻦْ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔٍ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻧُﻌَﺬِّﺏْ ﻃَﺎﺋِﻔَﺔَ ﺑِﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣُﺠْﺮِﻣِﻴﻦَ ‏(
    “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa
    yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan
    menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda
    gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah
    dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian
    selalu berolok-olok?”
    Tidak usah kalian meminta maaf, karena kalian telah
    kafir sesudah kalian beriman. Jika Kami memaafkan
    segolongan daripada kalian (lantaran mereka tobat),
    niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain)
    disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu
    berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9]: 65-66)
    Tentang sebab turunnya ayat ini, para ulama tafsir
    seperti imam Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Ibnu Abi
    Hatim, Ibnu Mundzir dan Jalaluddin As-Suyuthi telah
    meriwayatkan hadits dari lbnu Umar, Muhammad bin
    Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah bahwa dalam perang
    Tabuk ada orang yang berkata, “ Kita belum pernah
    melihat orang-orang seperti para ahli baca Al-Qur`an
    ini. Mereka adalah orang yang lebih buncit perutnya,
    lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam
    peperangan.” Para ahli baca Al-Qur’an yang mereka
    olok-olok tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
    wa sallam dan para sahabat yang ahli baca Al-Qur`an.
    Mendengar ucapan itu, Auf bin Malik berkata: “ Bohong
    kau. Justru kamu adalah orang munafik. Aku akan
    memberitahukan ucapanmu ini kepada Rasulullah
    Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”
    Auf bin Malik segera menemui Rasulullah Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam untuk melaporkan hal tersebut kepada
    beliau. Tetapi sebelum ia sampai, wahyu Allah (QS. At-
    Taubah [9]: 65-66) telah turun kepada beliau.
    Ketika orang yang ucapannya dilaporkan itu datang
    kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
    telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya.
    Maka orang itu berkata kepada Rasulullah: “ Wahai
    Rasulullah! Sebenarnya kami tadi hanya bersenda-garau
    dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang
    bepergian jauh untuk menghilangkan kepenatan dalam
    perjalanan jauh kami .”
    Ibnu Umar berkata, “Aku melihat dia berpegangan pada
    sabuk pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
    sallam, sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung
    batu sambil berkata: “Sebenarnya kami hanya bersenda-
    gurau dan bermain-main saja.”
    Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik
    bertanya kepadanya: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-
    Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok ?” Beliau
    hanya mengatakan hal itu dan tidak memberikan
    bantahan lebih panjang lagi. (Jami’ul Bayan fi Ta’wili
    Ayyil Qur’an, 14/333-335, Tafsir Ibnu Abi Hatim,
    6/1829-1830 dan Ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil
    Ma’tsur, 4/230-231)
    Ayat di atas menegaskan bahwa orang tersebut menjadi
    orang kafir murtad, padahal sebelumnya ia seorang
    muslim yang beriman, karena ia mengucapan olok-
    olokan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam
    dan para sahabat. Padahal olok-olokan tersebut menurut
    pengakuannya sekedar gurauan dan obrolan biasa
    sekedar pengusir kepenatan dalam perjalanan jauh
    perang Tabuk. Maka bagaimana lagi dengan caci makian,
    pelecehan dan ejekan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
    salam secara terang-terangan? Tak diragukan lagi, hal
    tersebut merupakan kemurtadan dan kekafiran.
    Imam Abu Bakar Al-Jashash Al-Hanafi berkata, “Ayat ini
    menunjukkan bahwa orang yang bercanda dan orang
    yang serius itu hukumnya sama saat ia mengucapkan
    kalimat kekufuran secara terang-terangan tanpa adanya
    paksaan (siksaan berat terhadapnya untuk
    mengucapkannya). Karena orang-orang munafik tersebut
    menyatakan bahwa ucapan yang mereka ucapkan
    tersebut hanyalah sendau gurau belaka. Maka Allah
    memberitahukan kepada mereka bahwa mereka telah
    kafir dengan sendau gurauan mereka itu.
    Diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri dan Qatadah bahwa
    orang-orang tersebut mengatakan dalam perang Tabuk:
    “Apakah orang ini (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
    wa salam) berharap bisa menaklukkan istana-istana dan
    benteng-benteng di negeri Syam? Mustahil, mustahil .”
    Maka Allah memberitahukan bahwa ucapan tersebut
    adalah sebuah kekafiran mereka, baik mereka
    mengucapkannya dengan bercanda maupun serius. Maka
    ayat ini menunjukkan kesamaan hukum (kekafiran) atas
    orang yang mengucapkan kalimat kekufuran secara
    terang-terangan, baik ia bercanda maupun serius. Ayat
    ini juga menunjukkan bahwa mengolok-olok ayat-ayat
    Allah atau sebagian dari syariat (ajaran) agama-Nya
    menyebabkan pelakunya kafir.” (Ahkamul Qur’an,
    4/348-349)
    Dari ayat di atas dan uraian sebab turunnya ayat
    tersebut, bisa diketahui bahwa Allah Ta’ala menganggap
    olok-olokan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
    salam atau olok-olokan terhadap generasi sahabat
    sebagai olok-olokan terhadap Allah Ta’ala dan ayat-ayat
    Allah Ta’ala. Hal itu karena Allah Ta’ala dalam banyak
    ayat Al-Qur’an telah memuji dan meridhai generasi
    sahabat (lihat misalnya QS. Al-Fath [48]: 18 dan 29, At-
    Taubah [9]: 110 dan Al-Hasyr [59]: 8-10). Mengolok-
    olok Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam atau generasi
    sahabat berarti melecehkan, meremehkan dan
    mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut; sekaligus
    melecehkan, meremehkan dan mendustakan Allah Ta’ala
    yang telah menurunkan ayat-ayat tersebut.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Ayat ini
    merupakan dalil yang tegas bahwa mengolok-olok Allah
    atau ayat-ayat-Nya atau rasul-Nya adalah perbuatan
    kekafiran. Sehingga mencaci maki lebih layak untuk
    menjadi perbuatan kekafiran. Ayat ini telah menunjukkan
    bahwa setiap orang yang melecehkan Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wa salam,secara serius maupun
    bercanda, adalah orang yang telah kafir.” (Majmu’
    Fatawa, 7/272)
    [3] Firman Allah Ta’ala:
    ‏) ﻳَﺤْﻠِﻔُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻛَﻠِﻤَﺔَ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮِ ﻭَﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺳْﻼﻣِﻬِﻢْ
    ‏(
    “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan
    nama Allah bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu
    yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah
    mengucapkan perkataan kekafiran, dan mereka telah
    menjadi kafir sesudah Islam. ” (QS. At-Taubah [9]: 74)
    Para ulama tafsir menyebutkan sejumlah riwayat tentang
    sebab turunnya ayat ini. Di antaranya riwayat yang
    menyebutkan bahwa ketika pada perang Tabuk banyak
    ayat Al-Qur’an yang turun membongkar kebusukan
    orang-orang munafik dan mencela mereka, maka Julas
    bin Suwaid bin Shamit dan Wadi’ah bin Tsabit berkata:
    “Jika memang Muhammad benar atas (ayat-ayat Al-
    Qur’an yang turun mencela) saudara-saudara kita,
    sementara saudara-saudara kita adalah para pemimpin
    dan orang-orang terbak di antara kita, tentulah kita ini
    lebih buruk dari seekor keledai .”
    Mendengar ucapan kedua orang itu, sahabat Amir bin
    Qais berkata, “ Tentu saja, demi Allah, Muhammad itu
    orang yang berkata benar dan ucapannya dibenarkan,
    dan sungguh engkau ini lebih buruk dari seekor
    keledai .”
    Amir bin Qais lalu melaporkan ucapan kedua orang itu
    kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Julas bin
    Suwaid segera mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa
    salam dan bersumpah dengan nama Allah bahwa Amir
    telah berbohong. Amir pun balas bersumpah bahwa
    Julas telah benar-benar telah mengucapkan ucapan yang
    dilaporkan tersebut. Amir berdoa, “Ya Allah, turunkanlah
    sebuah wahyu kepada nabi-Mu.” Ternyata Allah
    kemudian menurunkan ayat tersebut.
    Riwayat lain menyebutkan bahwa ayat ini turun
    berkenaan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul yang
    mengatakan, “Perumpamaan kita dengan Muhammad
    tidak lain seperti perkataan “Gemukkanlah anjingmu,
    niscaya ia akan memakanmu!” Jika kita telah kembali ke
    Madinah, niscaya orang yang mulia di antara kita (yaitu
    kelompok kita) akan mengusir orang yang hina
    (Muhammad dan para sahabatnya).”
    Perkataan ini didengar oleh sebagian sahabat dan
    dilaporkan kepada kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
    salam. Maka Abdullah bin Ubay bin Salul tergopoh-
    gopoh mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan
    bersumpah tidak mengucapkan ucapan tersebut. Maka
    turunlah ayat tersebut. (Fathul Qadir, 2/436 dan Al-
    Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/206)
    Riwayat manapun yang lebih kuat, semuanya
    menunjukkan bahwa orang-orang tersebut divonis kafir
    murtad setelah beriman, disebabkan ucapan mereka
    yang bernada olok-olokan dan merendahkan Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa salam. Hal ini menunjukkan bahwa
    caci makian dan pelecehan secara terang-terangan
    terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam lebih berat
    kekafirannya, sehingga menjadikan pelakunya kafir
    murtad setelah beriman.
    Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani berkata, “Maksud
    dari firman Allah Sesungguhnya mereka telah
    mengucapkan perkataan kekafiran” adalah perkataan-
    perkataan (olok-olokan) yang disebutkan dalam
    beragam riwayat tadi . Adapun maksud dari firman Allah
    “dan mereka telah menjadi kafir sesudah Islam” adalah
    mereka menjadi kafir dengan ucapan tersebut setelah
    sebelumnya mereka menampakkan keislaman, jika
    sebelumnya dalam hati mereka kafir. Maknanya, mereka
    melakukan perkara yang menyebabkan kekafiran mereka,
    jika keislaman mereka dianggap sah.” (Fathul Qadir,
    2/436) .
    Imam Al-Qurthubi berkata: “Imam Al-Qusyairi
    menyatakan: “Makna dari perkataan kekafiran adalah
    mencaci maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan
    mencerca agama Islam. Adapun makna dari “dan mereka
    telah menjadi kafir sesudah Islam” adalah mereka
    menjadi kafir setelah mereka dianggap sebagai orang-
    orang Islam.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/206)
    Imam Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri berkata:
    “Kesimpulannya barangsiapa mengucapkan ucapan
    kekafiran baik secara sendau gurau maupun bermain-
    main, niscaya ia telah kafir menurut semua ulama, tanpa
    mempertimbangkan keyakinan dia. Hal ini seperti telah
    ditegaskan dalam kitab Al-Fatawa Al-Khaniyah dan
    Raddul Mukhtar .” (Ikfarul Mulhidin fi Dharuriyatid Dien,
    hlm. 59)
    [4]. Firman Allah Ta’ala:
    ‏) ﻭَﻗَﺪْ ﻧَﺰَّﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃَﻥْ ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻢْ ﺁﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳُﻜْﻔَﺮُ ﺑِﻬَﺎ
    ﻭَﻳُﺴْﺘَﻬْﺰَﺃُ ﺑِﻬَﺎ ﻓَﻼ ﺗَﻘْﻌُﺪُﻭﺍ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺨُﻮﺿُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺣَﺪِﻳﺚٍ ﻏَﻴْﺮِﻩِ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ
    ﺇِﺫﺍً ﻣِﺜْﻠُﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺟَﺎﻣِﻊُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﻓِﻲ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺟَﻤِﻴﻌﺎً ‏(
    “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu
    wahyu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu
    mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-
    olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu
    duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki
    pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya kalau
    kamu tetap duduk bersama mereka, tentulah kamu
    serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan
    mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di
    dalam neraka Jahanam.” (QS. An-Nisa’ [4]: 140)
    Ayat ini menunjukkan kekafiran orang yang mengolok-
    olok ayat-ayat Allah Ta’ala dan juga menunjukkan
    kekafiran orang yang duduk-duduk bersama orang-
    orang yang mengolok-olok ayat-ayat Allah,
    mendengarkan dan mendiamkan saja olok-olokan
    mereka tersebut. Ayat ini memvonis orang yang duduk
    bersama dan mendengarkan olok-olokan tersebut
    sebagai orang kafir, meskipun ia tidak ikut mengolok-
    olok. Tentu saja orang yang mencaci maki dan
    melecehkan Allah, ayat-ayat-Nya, rasul-Nya atau ajaran
    agama-Nya lebih jelas lagi kekafirannya.
    Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh berkata,
    “Makna ayat ini adalah sesuai zhahirnya. Yaitu, jika
    seseorang mendengarkan ayat-ayat Allah dikufuri dan
    diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), lalu ia
    duduk-duduk bersama orang-orang kafir yang
    mengolok-olok tersebut padahal ia tidak dipaksa untuk
    duduk mendengarkan (melalui siksaan yang berat) dan
    ia pun tidak melakukan pengingkaran serta tidak
    beranjak meninggalkan mereka sampai mereka
    membicarakan urusan lainnya; niscaya ia telah kafir
    seperti orang-orang kafir tersebut. Meskipun ia tidak
    melakukan seperti perbuatan mereka, karena sikapnya
    (duduk, diam dan mendengarkan) tersebut mengandung
    makna ridha dengan kekafiran, sementara ridha dengan
    kekafiran merupakan sebuah kekafiran.
    Jika ia mengklaim bahwa ia membencinya dengan
    hatinya, niscaya klaim tersebut tidak bisa diterima,
    karena penilaian didasarkan kepada aspek lahiriah
    dirinya. Sementara ia telah menampakkan kekafiran,
    sehingga ia pun menjadi orang kafir.” (Majmu’atut
    Tauhid, hlm. 48)
    Imam Al-Qurthubi berkata: “Barangsiapa tidak menjauhi
    mereka, berarti ia rela dengan perbuatan mereka.
    Sementara rela dengan kekafiran merupakan sebuah
    kekafiran. Maka barangsiapa duduk dalams ebuah majlis
    kemaksiatan dan ia tidak mengingkari perbuatan mereka,
    niscaya dosanya sama dengan dosa mereka. Jika ia
    tidak mampu mengingkari mereka, maka ia selayaknya
    beranjak pergi agar tidak termasuk dalam golongan yang
    terkena ayat ini.” (Al-Jami’ fi Ahkamil Qur’an, 5/418)
    Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i dalam kitabnya,
    Al-I’lam bi-Qawathi’il Islam pada bahasan kekufuran
    yang disepakati oleh para ulama , mengutip dari kitab
    para ulama madzhab Hanafi yang menyebutkan:
    “Barangsiapa mengucapkan ucapan kekafiran, maka ia
    telah kafir. Setiap orang yang menganggap baik ucapa
    kekafiran tersebut atau rela dengannya juga telah kafir.”
    Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i juga mengutip dari
    kitab Al-Bahr bahwa seseorang yang secara sukarela
    mengucapkan ucapan kekafiran sementara hatinya masih
    meyakini keimanan, maka status dirinya adalah ia telah
    kafir dan di sisi Allah ia bukanlah orang yang beriman.
    Demikian pula disebutkan dalam Fatawa Qadhi Khan, Al-
    Fatawa Al-Hindiyah dan Jami’ul Fushulain.” (Ikfarul
    Mulhidin fi Dharuriyatid Dien, hlm. 59)
    ***
    Dalil-dalil dari as-sunnah
    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam diutus
    sebagai rahmatan lil ‘alamien. Beliau terkenal luas
    sebagai seorang yang sabar, santun, pemaaf, dan
    penyayang. Seluruh ucapan dan perbuatan beliau adalah
    pelaksanaan dari wahyu Al-Qur’an. Beliau adalah “Al-
    Qur’an yang berjalan”. Seluruh ucapan dan perbuatan
    beliau adalah akhlak mulia yang wajib dicontoh oleh
    kaum muslimin.
    Lantas bagaimana teladan ucapan dan perbuatan Nabi
    shallalalhu ‘alaihi wa salam dalam menyikapi orang-
    orang yang mencaci maki, melecehkan dan mengolok-
    olok Allah atau ajaran Islam atau diri beliau sendiri?
    Jawabannya bisa kita dapatkan dari hadits-hadits
    shahih berikut ini:
    [1] Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
    ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ، ﺃَﻥَّ ﺃَﻋْﻤَﻰ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻟَﻪُ ﺃُﻡُّ ﻭَﻟَﺪٍ ﺗَﺸْﺘُﻢُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ
    ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ، ﻭَﺗَﻘَﻊُ ﻓِﻴﻪِ ، ﻓَﻴَﻨْﻬَﺎﻫَﺎ ، ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻨْﺘَﻬِﻲ ، ﻭَﻳَﺰْﺟُﺮُﻫَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻨْﺰَﺟِﺮُ ،
    ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺫَﺍﺕَ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ ، ﺟَﻌَﻠَﺖْ ﺗَﻘَﻊُ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
    ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ، ﻭَﺗَﺸْﺘُﻤُﻪُ ، ﻓَﺄَﺧَﺬَ ﺍﻟْﻤِﻐْﻮَﻝَ ﻓَﻮَﺿَﻌَﻪُ ﻓِﻲ ﺑَﻄْﻨِﻬَﺎ ، ﻭَﺍﺗَّﻜَﺄَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ
    ﻓَﻘَﺘَﻠَﻬَﺎ ، ﻓَﻮَﻗَﻊَ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻬَﺎ ﻃِﻔْﻞٌ ، ﻓَﻠَﻄَّﺨَﺖْ ﻣَﺎ ﻫُﻨَﺎﻙَ ﺑِﺎﻟﺪَّﻡِ ،
    Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ada
    seorang laki-laki buta yang memiliki seorang budak
    perempuan yang hamil dari hubungan dengannya (ummu
    walad). Budak perempuan itu biasa mencaci maki dan
    merendahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Sebagai
    tuan, laki-laki buta itu telah memperingatkan budak
    perempuannya untuk menghentikan perbuatan buruknya
    itu, namun perempuan itu tidak mau menuruti
    peringatannya. Laki-laki buta itu telah memerintahkan
    budak perempuannya menghentikan perbuatan buruknya
    itu, namun perempuan itu tidak mau berhenti.
    Pada suatu malam, budak perempuan itu kembali
    mencaci maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Maki
    laki-laki buta itu mengambil belati dan menusukkannya
    ke perut perempuan serta menekannya dengan kuat
    sampai budak perempuan itu tewas. Tiba-tiba seorang
    bayi laki-laki keluar dari perut perempuan itu di antara
    kedua kakinya, dan darahnya menodai ranjang.
    ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﺫُﻛِﺮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ، ﻓَﺠَﻤَﻊَ
    ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ‏« ﺃَﻧْﺸُﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﻟِﻲ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺣَﻖٌّ ﺇِﻟَّﺎ ﻗَﺎﻡَ ‏» ،
    ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺍﻟْﺄَﻋْﻤَﻰ ﻳَﺘَﺨَﻄَّﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﺘَﺰَﻟْﺰَﻝُ ﺣَﺘَّﻰ ﻗَﻌَﺪَ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻱِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ
    ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﺃَﻧَﺎ ﺻَﺎﺣِﺒُﻬَﺎ ، ﻛَﺎﻧَﺖْ
    ﺗَﺸْﺘُﻤُﻚَ ، ﻭَﺗَﻘَﻊُ ﻓِﻴﻚَ ، ﻓَﺄَﻧْﻬَﺎﻫَﺎ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻨْﺘَﻬِﻲ ، ﻭَﺃَﺯْﺟُﺮُﻫَﺎ ، ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻨْﺰَﺟِﺮُ ، ﻭَﻟِﻲ
    ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍﺑْﻨَﺎﻥِ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟﻠُّﺆْﻟُﺆَﺗَﻴْﻦِ ، ﻭَﻛَﺎﻧَﺖْ ﺑِﻲ ﺭَﻓِﻴﻘَﺔً ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﺒَﺎﺭِﺣَﺔَ
    ﺟَﻌَﻠَﺖْ ﺗَﺸْﺘُﻤُﻚَ ، ﻭَﺗَﻘَﻊُ ﻓِﻴﻚَ ، ﻓَﺄَﺧَﺬْﺕُ ﺍﻟْﻤِﻐْﻮَﻝَ ﻓَﻮَﺿَﻌْﺘُﻪُ ﻓِﻲ ﺑَﻄْﻨِﻬَﺎ ،
    ﻭَﺍﺗَّﻜَﺄْﺕُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻗَﺘَﻠْﺘُﻬَﺎ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: ‏«ﺃَﻟَﺎ
    ﺍﺷْﻬَﺪُﻭﺍ ﺃَﻥَّ ﺩَﻣَﻬَﺎ ﻫَﺪَﺭٌ ‏»
    Keesokan paginya, berita pembunuhan terhadap budak
    perempuan yang hamil itu dilaporkan kepada Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wa salam. Maka beliau mengumpulkan
    para sahabat dan bersabda, “ Aku bersumpah dengan
    nama Allah, hendaknya orang yang melakukan
    pembunuhan itu berdiri sekarang juga memenuhi
    panggilanku!”
    Maka laki-laki yang buta itu berdiri, berjalan di antara
    orang-orang dan maju ke depan sehingga ia bisa duduk
    di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Laki-laki itu
    berkata: “ Wahai Rasulullah, akulah yang telah
    membunuhnya. Dia selalu mencaci maki dan
    merendahkan Anda. Aku telah memperingatkannya,
    namun ia tidak mau peduli. Aku telah melarangnya,
    namun ia tidak mau berhenti. Aku memiliki dua orang
    anak seperti intan pertama darinya. Ia adalah kawan
    hidupku. Ketika tadi malam ia kembali mencaci maki dan
    merendahkan Anda, maka aku pun mengambil belati,
    menusukkan ke perutnya dan menekannya dengan kuat
    sampai ia tewas.”
    Mendengar pengakuan laki-laki buta itu, Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “ Hendaklah kalian
    semua menjadi saksi, bahwa darah perempuan itu telah
    sia-sia .” (HR. Abu Daud no. 4361, An-Nasai no. 4070,
    Al-Baihaqi no. 13375, sanadnya dishahihkan oleh
    syaikh Al-Albani)
    Imam Syamsul Haq ‘Azhim Abadi berkata: “Beliau
    bersabda “darah perempaun itu telah sia-sia” barangkali
    karena berdasar wahyu, beliau telah mengetahui
    kebenaran pengakuan laki-laki itu. Hadits ini
    menunjukkan bahwa jika orang kafir dzimmi tidak
    menahan lisannya dari (mencaci maki atau melecehkan)
    Allah dan rasul-Nya, niscaya ia tidak memiliki dzimmah
    (jaminan keamanan bagi orang kafir dzimmi) sehingga ia
    halal dibunuh. Demikian dikatakan oleh imam
    (Muhammad Hayat) As-Sindi
    Imam Al-Mundziri berkata: Hadits ini juga diriwayatkan
    oleh An-Nasai. Hadits ini menunjukkan bahwa orang
    yang mencaci maki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
    salam dijatuhi hukuman mati.
    Dikatakan (oleh para ulama): Tidak ada perbedaan
    pendapat bahwa jika orang yang mencaci maki tersebut
    adalah seorang muslim, maka ia wajib dihukum mati.
    Perbedaan pendapat terjadi ketika orang yang mencaci
    maki adalah orang kafir dzimmi. Imam Syafi’i
    berpendapat ia harus dihukum bunuh dan ikatan
    dzimmahnya telah batal. Imam Abu Hanifah berpendapat
    ia tidak dihukum mati, sebab dosa kesyirikan yang
    mereka lakukan masih lebih besar dari dosa mencaci
    maki. Imam Malik berpendapat jika orang yang mencaci
    maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam adalah orang
    Yahudi atau Nasrani, maka ia wajib dihukum mati,
    kecuali jika ia masuk Islam. Demikian penjelasan dari
    imam Al-Mundziri. (‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu
    Daud, 12/11)
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Hadits ini
    merupakan dalil yang tegas tentang bolehnya
    membunuh perempuan tersebut karena ia telah mencaci
    maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Tentu saja,
    hadits ini juga menjadi dalil lebih bolehnya membunuh
    orang kafir dzimmi dan membunuh seorang muslim atau
    muslimah yang mencaci maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa
    salam.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul, hlm.
    62)
    [2] Hadits Jabir bin Abdullah tentang kisah pembunuhan
    terhadap pemimpin Yahudi, Ka’ab bin Asyraf:
    ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ: ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
    ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ، ﻗَﺎﻝَ: ‏« ﻣَﻦْ ﻟِﻜَﻌْﺐِ ﺑْﻦِ ﺍﻷَﺷْﺮَﻑِ ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻗَﺪْ ﺁﺫَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ‏» ،
    ﻗَﺎﻝَ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﻣَﺴْﻠَﻤَﺔَ : ﺃَﺗُﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﺃَﻗْﺘُﻠَﻪُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ؟ ﻗَﺎﻝَ: ‏« ﻧَﻌَﻢْ ‏» ،
    Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya
    Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda, “Siapakah
    yang mau “membereskan” Ka’ab bin Asyraf?
    Sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan rasul-Nya.”
    Muhammad bin Maslamah bertanya, “Apakah Anda
    senang jika aku membunuhnya, wahai Rasulullah?”
    Beliau bersabda, “Ya”…” (HR. Bukhari no. 3031 dan
    Muslim no. 1801)
    Imam Bukhari telah menyebutkan kisah pembunuhan
    Ka’ab bin Asyraf tersebut dalam beberapa hadits (no.
    2510, 3031, 4037). Kisah pembunuhan oleh regu suku
    Aus tersebut juga disebutkan dalam semua kitab sirah
    nabawiyah (sejarah hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa
    salam).
    [3] Hadits Barra’ bin Azib tentang kisah satu regu suku
    Khazraj yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
    wa salam untuk membunuh tokoh Yahudi Khaibar, Abu
    Rafi’ Salam bin Abil Huqaiq karena ia sering mencaci
    maki dan melecehkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.
    Hadits tersebut diriwayatkan beberapa kali oleh imam
    Bukhari dalam kitab shahihnya dan kisahnya juga
    disebutkan dalam semua kitab sirah nabawiyah. Di
    antara lafal hadits tersebut dalam shahih Bukhari adalah
    sebagai berikut:
    ﻋَﻦِ ﺍﻟﺒَﺮَﺍﺀِ ﺑْﻦِ ﻋَﺎﺯِﺏٍ ، ﻗَﺎﻝَ: ﺑَﻌَﺚَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
    ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺑِﻲ ﺭَﺍﻓِﻊٍ ﺍﻟﻴَﻬُﻮﺩِﻱِّ ﺭِﺟَﺎﻟًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِ ، ﻓَﺄَﻣَّﺮَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦَ
    ﻋَﺘِﻴﻚٍ ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺑُﻮ ﺭَﺍﻓِﻊٍ ﻳُﺆْﺫِﻱ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
    ﻭَﻳُﻌِﻴﻦُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺣِﺼْﻦٍ ﻟَﻪُ ﺑِﺄَﺭْﺽِ ﺍﻟﺤِﺠَﺎﺯِ
    Dari Barra’ bin Azib berkata: Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wa salam mengirim beberapa orang sahabat
    Anshar untuk (membunuh) pemimpin Yahudi, Abu Rafi’.
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengangkat
    Abdullah bin Atik sebagai komandan regu untuk tugas
    tersebut. Abu Rabi’ adalah pemimpin Yahudi yang sering
    menyakiti dan memusuhi beliau. Ia tinggal di sebuah
    benteng miliknya di daerah Hijaz…” (HR. Bukhari no.
    4039, Al-Baihaqi no. 18100)
    ﻋَﻦِ ﺍﻟﺒَﺮَﺍﺀِ ﺑْﻦِ ﻋَﺎﺯِﺏٍ ، ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ، ﻗَﺎﻝَ: ‏« ﺑَﻌَﺚَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ
    ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺭَﻫْﻄًﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺑِﻲ ﺭَﺍﻓِﻊٍ ، ﻓَﺪَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ
    ﻋَﺘِﻴﻚٍ ﺑَﻴْﺘَﻪُ ﻟَﻴْﻠًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺎﺋِﻢٌ ﻓَﻘَﺘَﻠَﻪُ ‏»
    Dari Barra’ bin Azib berkata: Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wa salam mengirim beberapa orang sahabat
    Anshar untuk (membunuh) pemimpin Yahudi, Abu Rafi’.
    Maka Abdullah bin Atik memasuki (benteng dan rumah)
    Abu rafi’ pada malam hari saat ia tengah terlelap tidur,
    maka Abdullah bin Atik pun segera membunuhnya.” (HR.
    Bukhari no. 4038, Al-Baihaqi no. 18100)
    Imam Bukhari memasukkan hadits-hadits kisah
    pembunuhan Abu Rafi’ Al-Yahudi tersebut dalam bab
    “membunuh orang musyrik yang sedang tidur” (no.
    hadits 3022 dan 3023) dan bab “pembunuhan atas Abu
    Rafi’ Abdullah bin Abil Huqaiq” (no. hadits 4038, 4039,
    4040). Kisah pembunuhan atas Abu Rafi’ Al-Yahudi juga
    diriwayatkan oleh imam Abdur Razzaq Ash-Shan’ani, Al-
    Baihaqi, Abu Ya’la Al-Maushili, Ath-Thabarani dan lain-
    lain dari jalur Abdullah bin Atik, Abdullah bin Unais dan
    Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab.
    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Hadits ini
    menunjukkan kebolehan membunuh orang-orang mereka
    (kafir) yang sangat menyakiti Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wa salam. Abu Rafi’ adalah orang yang sangat
    memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan ia
    memprokovasi manusia untuk hal itu.” (Fathul Bari Syarh
    Shahih Bukhari, 6/156)
    ***
    Sikap para khulafa’ rasyidin dan generasi sahabat
    [1] Imam Saif bin Umar At-Tamimi dalam kitab Ar-Riddah
    wal Futuh menyebutkan bahwa ada dua orang wanita
    yang ditangkap dan dihadapkan kepada Muhajir bin Abi
    Rabi’ah, gubernur wilayah Yamamah dan sekitarnya.
    Wanita pertama menyanyikan lagu caci makian kepada
    Nabi shallallahu aIaihi wa salam. Wanita kedua
    menyanyikan lagu caci makian kepada kaum muslimin.
    Maka Muhajir bin Abi Umayyah menjatuhkan hukuman
    potong tangan dan pencabutan gigi seri kedua wanita
    tersebut.
    Ketika berita itu sampai kepada khalifah Abu Bakar Ash-
    Shidiq, maka khalifah segera menulis surat kepada
    Muhajir bin Abi Rabi’ah tentang wanita yang
    menyanyikan lagu cacian kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi
    wa salam,
    ﻟﻮﻻ ﻣﺎ ﺳﺒﻘﺘﻨﻲ ﻓﻴﻬﺎ ﻷﻣﺮﺗﻚ ﺑﻘﺘﻠﻬﺎ ، ﻷﻥ ﺣﺪ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻟﻴﺲ ﻳﺸﺒﻪ
    ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ، ﻓﻤﻦ ﺗﻌﺎﻃﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻬﻮ ﻣﺮﺗﺪ ﺃﻭ ﻣﻌﺎﻫﺪ ﻓﻬﻮ
    ﻣﺤﺎﺭﺏ ﻏﺎﺩﺭ
    “Seandainya engkau tidak mendahuluiku menjatuhkan
    hukuman kepada wanita itu, tentulah aku akan
    memerintahkanmu untuk membunuh wanita itu. Sebab
    hukuman (mencaci maki) para nabi tidak sama dengan
    hukuman-hukuman lainnya. Jika caci makian kepada
    nabi itu diucapkan oleh seorang muslim, maka ia telah
    murtad. Dan jika caci makian kepada nabi itu diucapkan
    oleh seorang kafir yang terlibat perjanjian damai maka ia
    telah menjadi orang yang memerangi Islam dan
    mencederai perjanjian damai secara sepihak.” (Ikfarul
    Mulhidin fi Dharuriyatid Dien, hlm. 104 dan Ash-
    Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 200)
    [2]. Laits bin Abi Sulaim meriwayatkan dari Mujahid bin
    Jabr berkata: “Seorang laki-laki yang mencaci maki Nabi
    shallallahu aIaihi wa salam dihadapkan kepada khalifah
    Umar bin Khathab, maka khalifah membunuhnya.
    Khalifah Umar berkata:
    ﻣﻦ ﺳﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻭ ﺳﺐ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻓﺎﻗﺘﻠﻮﻩ
    “Barangsiapa mencaci maki Allah atau mencaci maki
    salah seorang nabi-Nya, maka bunuhlah dia!” (Ikfarul
    Mulhidin fi Dharuriyatid Dien, hlm. 104 dan Ash-
    Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 201)
    [3]. Hukuman mati untuk orang-orang yang mencaci
    maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam juga diriwayatkan
    dari perkataan para ulama sahabat seperti Ibnu Abbas
    dan Ibnu Umar, dan para komandan perang dan gubernur
    di kalangan sahabat seperti Muhammad bin Maslamah,
    Khalid bin Walid dan Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhum.
    (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul, hlm. 202-205)
    [4]. Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata: “Ia harus
    dibunuh, karena orang yang mencaci maki Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa salam telah murtad dari Islam, dan
    seorang muslim tidak akan mencaci Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa salam.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir
    Rasul, hlm. 5)
    ***
    Pendapat para ulama madzhab
    [1] Madzhab Hanafi
    Imam Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri Al-Hanafi
    berkata: “Seluruh ulama telah bersepakat bahwa orang
    yang mencaci maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam
    dijatuhi hukuman mati. Imam Ath-Thabari juga mengutip
    pendapat dari imam Abu Hanifah dan murid-muridnya
    tentang kemurtadan orang yang melecehkan Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa salam, atau berlepas diri dari
    beliau atau menuduh beliau berdusta.” (Ikfarul Mulhidin
    fi Dharuriyatid Dien, hlm. 64)
    [2]. Madzhab Maliki
    Imam Muhammad bin Sahnun Al-Maliki berkata:
    “Seluruh ulama telah bersepakat bahwa orang yang
    mencaci maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan
    melecehkan beliau adalah orang yang kafir, dan
    barangsiapa meragukan kekafirannya dan bahwa ia
    diadzab niscaya telah kafir pula.” (Ikfarul Mulhidin fi
    Dharuriyatid Dien, hlm. 64)
    Al-Qadhi Iyadh bin Musa Al-Yahshibi Al-Maliki berkata:
    “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang yang
    mencaci maki Allah Ta’ala dari kalangan kaum muslimin
    telah menjadi orang kafir yang halal darahnya. Demikian
    pula orang yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa salam sengaja berdusta dalam menyampaikan
    atau mengabarkan wahyu, atau ia meragukan kejujuran
    beliau, atau ia mencaci maki beliau, atau ia mengatakan
    bahwa beliau belum menyampaikan wahyu, atau ia
    meremehkan beliau atau meremehkan salah seorang
    nabi lainnya, atau ia mengejek mereka, atau ia menyakiti
    mereka, atau ia membunuh seorang nabi, atau ia
    memerangi seorang nabi, maka ia telah kafir berdasar
    ijma’ ulama .” (Asy-Syifa fit Ta’rif bi-Huquqil Musthafa,
    hlm. 582)
    [3]. Madzhab Syafi’i
    Imam Abu Sulaiman Al-Khathabi Asy-Syafi’i berkata,
    “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dari
    seorang muslim pun tentang kewajiban membunuhnya
    (orang yang mencaci maki nabi).” (Ash-Sharim Al-
    Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 2)
    Imam Abu Bakr Al-Farisi dari kalangan ulama madzhab
    Syafi’i telah menyebutkan ijma’ seluruh kaum muslimin
    bahwa hukuman untuk orang yang mencaci maki Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa salam adalah hukuman mati. (Ash-
    Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 2)
    Imam Ibnu Al-Mundzir Asy-Syafi’i berkata, “Para ulama
    telah berijma’ (bersepakat) bahwa orang yang mencaci
    maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam harus dibunuh. Di
    antara yang berpendapat demikian adalah imam Malik
    (bin Anas), Laits (bin Sa’ad), Ahmad (bin Hambal) dan
    Ishaq (bin Rahawaih). Hal itu juga menjadi pendapat
    imam Syafi’i.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/82)
    Imam Al-Mundziri Asy-Syafi’i berkata: “ Tidak ada
    perbedaan pendapat bahwa jika orang yang mencaci
    maki tersebut adalah seorang muslim, maka ia wajib
    dihukum mati . Perbedaan pendapat terjadi ketika orang
    yang mencaci maki adalah orang kafir dzimmi. Imam
    Syafi’i berpendapat ia harus dihukum bunuh dan ikatan
    dzimmahnya telah batal. Imam Abu Hanifah berpendapat
    ia tidak dihukum mati, sebab dosa kesyirikan yang
    mereka lakukan masih lebih besar dari dosa mencaci
    maki. Imam Malik berpendapat jika orang yang mencaci
    maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam adalah orang
    Yahudi atau Nasrani, maka ia wajib dihukum mati,
    kecuali jika ia masuk Islam.” (‘Aunul Ma’bud Syarh
    Sunan Abu Daud, 12/11)
    [4]. Madzhab Hambali
    Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Barangsiapa mencaci
    maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam atau melecehkan
    beliau, baik ia orang muslim atau orang kafir, maka ia
    wajib dibunuh. Aku berpendapat ia dijatuhi hukuman
    mati dan tidak perlu diberi tenggang waktu untuk
    bertaubat.” (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-
    Rasul, hlm. 4)
    Imam Ishaq bin Rahawaih berkata: “Kaum muslimin telah
    bersepakat bahwa barangsiapa mencaci maki Allah atau
    mencaci maki Rasul-Nya atau menolak sebagian wahyu
    yang Allah turunkan atau membunuh salah seorang nabi
    yang diutus Allah, maka ia telah kafir dengan
    perbuatannya itu sekalipun ia mengakui seluruh wahyu
    yang Allah turunkan.” (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala
    Syatim Ar-Rasul, hlm. 3)
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
    “Sesungguhnya mencaci maki Allah atau mencaci maki
    Rasul-Nya adalah kekafiran secara lahir dan batin. Sama
    saja apakah orang yang mencaci maki itu meyakini caci
    makian itu sebenarnya haram diucapkan, atau ia
    meyakini caci makian itu boleh diucapkan, maupun caci
    makian itu keluar sebagai kecerobohan bukan karena
    keyakinan. Inilah pendapat para ulama fiqih dan seluruh
    ahlus sunnah yang menyatakan bahwa iman adalah
    ucapan dan perbuatan.” (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala
    Syatim Ar-Rasul, hlm. 512)
    [5] Madzhab Zhahiri
    Imam Muhammad bin Hazm Azh-Zhahiri berkata:
    “Berdasar dalil-dalil yang kami uraikan di atas maka
    benarlah bahwa setiap orang yang mencaci maki Allah
    atau mengolok-olok Allah, atau mencaci maki seorang
    malaikat atau mengolok-oloknya, atau atau mencaci
    maki seorang nabi atau mengolok-oloknya, atau
    mencaci maki sebuah ayat Allah atau mengolok-oloknya,
    padahal semua ajaran syariat Islam dan seluruh ayat Al-
    Qur’an adalah bagian dari ayat Allah, niscaya ia telah
    kafir murtad, atas dirinya harus diterapkan hukuman
    bagi seorang murtad. Inilah pendapat yang kami
    pegangi.” (Al-Muhalla, 12/438)
    ***
    Logika iman dan logika kekuasaan
    Inilah tuntunan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, tuntunan
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits shahih,
    tuntunan khulafaur rasyidin dan pendapat seluruh ulama
    Islam dari seluruh madzhab di kalangan ahlus sunnah
    dalam menyikapi orang-orang yang melecehkan,
    mengejek, merendahkan, mengolok-olok atau mencaci
    maki Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.
    Kita bersyukur bahwa kaum muslimin di Benghazi,
    Libya, telah memberikan contoh keteladanan bagi kaum
    muslimin sedunia dalam membela kehormatan Nabi
    Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Semoga kaum
    muslimin lainnya bisa membuktikan pembelaannya
    kepada kehormatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
    wa salam yang dilecehkan oleh orang-orang Yahudi,
    Nasrani dan orang-orang kafir lainnya.
    Orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang kafir
    lainnya pasti tidak akan pernah berhenti melecehkan,
    mengejek, mengolok-olok dan mencaci maki Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa salam. Secara lahiriah, mulut
    mereka mengatas namakan “kebebasan seni, kebebasan
    berekspresi, demokrasi dan HAM. Adapun seca batin, isi
    hati mereka telah ditelanjangi oleh Allah Ta’ala dengan
    firman-Nya,
    ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺨِﺬُﻭﺍ ﺑِﻄَﺎﻧَﺔً ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻧِﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﻟُﻮﻧَﻜُﻢْ ﺧَﺒَﺎﻟًﺎ
    ﻭَﺩُّﻭﺍ ﻣَﺎ ﻋَﻨِﺘُّﻢْ ﻗَﺪْ ﺑَﺪَﺕِ ﺍﻟْﺒَﻐْﻀَﺎﺀُ ﻣِﻦْ ﺃَﻓْﻮَﺍﻫِﻬِﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺗُﺨْﻔِﻲ ﺻُﺪُﻭﺭُﻫُﻢْ
    ﺃَﻛْﺒَﺮُ ﻗَﺪْ ﺑَﻴَّﻨَّﺎ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺂﻳَﺎﺕِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian
    mengambil menjadi teman kepercayaan kalian orang-
    orang yang di luar kalanganmu (yaitu orang-orang kafir)
    karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan
    kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang
    menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut
    mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka
    lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada
    kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.” (QS.
    Ali Imran [3]: 118)
    Firman Allah di atas sangat jelas dan begitu mudah
    dipahami. Seorang muslim yang mengimani Allah dan
    Rasul-Nya, mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
    wa salam dan merindukan syafaatnya kelak di hari
    kiamat sudah tentu akan berpikir dengan logika
    keimanan. Mereka akan bangkit memberikan pembelaan
    dengan waktu, tenaga, pikiran, harta dan bahkan nyawa
    mereka manakala kehormatan Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wa salam dilecehkan.
    Adapun para politikus yang sibuk mencari kursi
    kekuasaan atau rakus mempertahankan kursi kekuasaan
    akan berpikir dengan logika politik. Mereka rela jika
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dilecehkan. Bagi
    mereka, pelecehan itu masalah kecil belaka, lupakan
    saja, tak perlu dipikirkan, tak perlu marah. Bagi mereka,
    pelecehan itu tidak ada kaitannya dengan keimanan dan
    keislaman sama sekali.
    Mereka tak akan melakukan pembelaan karena khawatir
    tuan besar AS dan Barat marah. Mereka khawatir jika
    media massa internasional yang dikendalikan Yahudi
    dan Nasrani melabeli mereka dengan label “muslim
    fundamentalis”, “muslim ekstrimis”, atau bahkan
    “muslim teroris”. Mereka khawatir jika dituding “anti
    HAM”, “anti demokrasi”, “anti kebebasan berkespresi”,
    atau “anti kebebasan seni”. Mereka khawatir jika
    dikeluarkan dari kelompok elit “muslim moderat”.
    Bagi mereka, tidak apa-apa kehormatan Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wa salam dilecehkan, asal bukan
    presiden, mentri, DPR/MPR, partai politik kita atau
    organisasi massa kita yang dilecehkan. Bagi mereka,
    tidak apa-apa kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
    wa salam dilecehkan asalkan “kursi” kita tidak hilang,
    asalkan konstituen kita tidak hilang. Na’udzu billah min
    dzalika !!!

    • bejoutomo  On 17 July 2015 at 08:44

      Islam memang benar2 ajaran dari iblis dan kepala gerombolan iblis adalah muhammad si nabi bajingan tengik.

    • Ikben  On 21 July 2015 at 11:41

      Keimanan yang tanpa disadari telah lebih mengutamakan manusia Muhammad dari pada Allahnya.

      Karena pengikutnya baru dapat dikatakan beriman bila lebih mencintai sang Muhammad daripada bapaknya sendiri, anaknya sendiri dan seluruh manusia.

      Seharusnya manusia beriman kepada Allah, bukan kepada manusia, sebab manusia tidak luput dari kesalahan bahkan dosa.

      Sungguh malang para pengikut Muhammad yang tanpa disadari mengidolakan manusia Muhammad daripada Allah,..tidaklah heran bila mereka sampai sekarang selalu mendoakan Muhammad.

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: