Peranan Kuil di Mekah dalam Agama Jin di Jazirah Arab

Kuil Kabah di Mekah

Kuil Kabah di Mekah, Arab Saudi

Oleh: Dr. Rafat Amari •

Kabah adalah sebuah kuil tempat diletakkannya kedua tugu Asaf dan Naelah, Kuhhan [pendeta/dukun] terkenal agama jin. Ibadah haji dimulai disana dan diteruskan ke tugu-tugu jin Angin. Tiruan tugu-tugu Asaf dan Naelah ditempatkan di atas bukit-bukit Safa dan Marwa. Tidak seorangpun yang tidak mengetahui peranan kuil di Mekah sebagai sebuah tempat pemujaan bagi agama jin, sebagaimana juga menjadi sebuah tempat pemujaan Keluarga Bintang jazirah Arab.

Elemen lain yang membantu kita memahami peranan kuil Mekah adalah bahwa ia menyatukan kedua agama utama jazirah Arab: agama jin dan agama Keluarga Bintang. Dalam agama Keluarga Bintang, Allah adalah bintang terbesar. Istrinya adalah matahari, dan putri-putrinya adalah Manat dan al-‘Uzza, masing-masing melambangkan sebuah planet. Para Kuhhan yang mewakili agama jin bagi orang-orang Arab yang menganut agama-agama pagan lainnya, seperti penyembahan Keluarga Bintang jazirah Arab, diterima oleh masyarakat yang menganggap para Kuhhan sebagai dewa-dewa. Suku Quraish menganggap iblis – nama lain setan – dan Allah adalah saling bersaudara.[1] Mereka mengatakan bahwa di antara Allah dan jin, ada suatu hubungan yang agung.[2] Mereka mempercayai bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah, dan bahwa ibu-ibu dari para malaikat adalah putri-putri dari “Tuhannya jin”.[3] Kaum Jin dilihat sebagai lebih hebat dari para malaikat. Orang-orang Arab pagan memberikan posisi yang ditinggikan bagi kaum jin karena mereka percaya kaum jin berada dalam hubungan dan kesamaan dengan Allah. Karena kaum jin menggantikan para malaikat, mereka meninggalkan sidik jari mereka pada Quran.

Jin-setan menggantikan Para Malaikat dalam Quran, seperti Mereka menggantikan Para Malaikat dalam literatur dan Syair Agama Jin jazirah Arab

Quran melambangkan sebuah literatur Arab yang dikembangkan sebelum Muhammad; suatu literatur pekerjaan-pekerjaan akreditasi artistik bagi kaum jin.[4] Dalam Quran, kita menemukan kekuatan agama jin jazirah Arab. Kita melihat setan-setan sebagai pekerja-pekerja cerdas bagi Sulaiman dalam Surah al-Anbiya’. Dikutip dari Surah 21, ayat 81 dan 82:

81. Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. 82. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu,

Bagi Sulaiman, angin yang berhembus kencang dengan perintahnya menuju daratan yang Kami berkahi, karena kami sungguh mengetahui segalanya. Dan di antara setan-setan ada yang menyelam ke dalam lautan baginya, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya, dan kami melindungi mereka.

Ayat 81 merujuk kepada Sulaiman yang mengklaim bahwa dia mempunyai angin sebagai pembantunya. Di bawah perintahnya, angin akan pergi ke daratan yang diberkahi Allah, disebut Harran/Haran, sebagaimana yang kita pahami dari sumber-sumber lainnya. Sang angin sebagai pembantu dewa-dewa yang hebat dan raja-raja kudus adalah suatu premis umum dalam agama-agama kuno Timur Tengah.

Al-Sabuni, seorang komentator modern di Arab Saudi, memberikan komentar atas ayat 82:

Kaum setan menyelam bagi Sulaiman, ke dalam lautan untuk mendapatkan permata-permata dan mutiara-mutiara. Mereka membangunkan bangunan yang hebat bagi Sulaiman, termasuk membangunkan istana-istananya.

Kaum setan digambarkan dalam Quran sebagai agen yang sangat berguna bagi Sulaiman dan para nabi. Mereka digambarkan sebagai agen yang benar yang berasal dari Tuhan, yang Tuhan tempatkan sebagai pelayanan bagi Sulaiman.[5] Ajaran ini berasal dari agama jin yang meninggikan kaum setan di mata orang-orang Arab sehingga kaum setan akan menjadi dihormati dan disembah. Ayat-ayat Quran ini menyatakan secara tidak langsung sebuah hubungan antara Tuhan dalam Perjanjian Lama dan setan-setan, pada suatu titik bahwa Tuhan akan melindungi mereka.

Ayat-ayat lain dari Quran juga menunjukkan pengaruh agama jin terhadap Quran. Surah 38, disebut Surat S’ad/Shaad, dalam ayat 37-39, ditujukan bagi Sulaiman: “Kaum setan, yang termasuk setiap jenis pembangun dan penyelam, adalah pemberian kami, maka berterimakasihlah kepada kami, dan tiada penjelasan akan diminta.”

Kaum setan digambarkan sebagai pemberian Tuhan kepada Sulaiman, yang memerlukan untuk berterimakasih kepada Tuhan karenanya. Pengakuan palsu ini diambil langsung dari agama jin jazirah Arab yang memberikan kaum setan sebuah posisi yang tinggi dan memperlakukan mereka sebagai pemberian berharga bagi para nabi dari Perjanjian Lama. Pengakuan seperti ini bertentangan dengan ajaran Bible. Bible memperingatkan kita mengenai kaum setan, dan menampilkan mereka sebagai suatu kutukan dan sebagai musuh Tuhan dan manusia. Bible memperingatkan kita untuk tidak mempunyai hubungan apapun dengan kaum setan.

Tidak hanya di dalam Quran kami menemukan ide bahwa kaum setan bekerja bagi Sulaiman, tetapi kami melihatnya dalam syair-syair sebelum Islam oleh orang-orang yang diketahui mempunyai suatu hubungan dengan jin. Sebagai contoh, kami menemukan syair-syair al-Nabighah النابغة, bahwa jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kota Tadmur di padang pasir Syria baginya[6]. Contoh lainnya ditemukan dalam tulisan-tulisan Al-Aasha’, seorang Arab penyair masa sebelum Islam. Al-Aasha’ menyebut jin-setan yang menginspirasi syairnya. Dia menyebut jin-setan, Musahhal المسحل, dan menggambarkannya sebagai “yang dikasihi”nya. Al-Aasha’ mengatakan: “saudaraku, jin, telah menyalamiku. Jiwaku didedikasikan baginya.”[7] Ini menunjukkan al-Aasha’ adalah salah satu dari banyak penyair yang mendedikasikan diri pada agama jin jazirah Arab. Syair-syair ini menganggap jin sebagai saudara-saudara, dan mereka mencoba menyatukan manusia dengan jin. Muhammad juga mengekspresikan pemikiran-pemikiran yang sama. Dia mengklaim pergi ke surga di mana dia bertemu dengan Allah yang menugaskannya untuk suatu misi bagi manusia dan bagi kaum jin. Muhammad mendefinisikan masyarakatnya berasal dari jin dan manusia.[8] Dia sering mengklaim bahwa jin menjadi muslim,[9] dan dia merujuk mereka sebagai saudara-saudara.[10]

Al-Aasha’ menulis di dalam salah satu syairnya bahwa ‘kaum jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kurva-kurva.”[11] Muhammad menjiplak ide yang sama ke dalam Surah Saba 34, ayat 12-13, Membicarakan Sulaiman, dia menulis:

Di antara kaum jin yang bekerja dengannya, sepeninggal Tuhannya, mereka bekerja baginya sebagaimana dia kehendaki, membangun kurva-kurva, tugu-tugu dan kolam-kolam sebesar dam-dam dan kawah-kawah kokoh di tempat-tempatnya. Bekerjalah engkau anak Daud dengan berterimakasih.

Quran menggambarkan Tuhan sebagai meminta anak-anak Daud, seperti Sulaiman, untuk berterimakasih kepada Tuhan karena Dia mengirimkan kaum jin untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang begitu artistic. hal. ini merupakan pernyataan palsu melecehkan Tuhan. Ide menempatkan kaum jin ditempat tinggi yang terhormat sebagai pekerja-pekerja yang baik yang dikirimkan oleh Tuhan merupakan sebuah ide yang dipromosikan oleh Kuhhan di jazirah Arab, untuk membuat kaum jin dihargai dan dihormati oleh orang-orang Arab. hal. itu dimaksudkan lebih lanjut untuk orang-orang Arab supaya mendatangi Kuhhan sebagai perwakilan2 kaum jin dan meminta bimbingan dari mereka.

Akar-akar kuno jin-setan jazirah Arab yang sangat Dirujuk sebagai datang dari Dewa-dewa

Ajaran-ajaran orang-orang Arab mengenai jin-setan yang dihubungkan dengan Allah, dan putri-putri mereka menjadi ibu-ibu para malaikat, mempunyai akar-akar kuno di jazirah Arab. Kaum Akkadian, yang datang dari jazirah Arab ke Mesopotamia, mengklaim tujuh setan adalah anak laki-laki dari dewa Mesopotamia “An”, yang melambangkan langit dan istrinya “Kai,” yang melambangkan bumi. Menurut orang-orang Summeria, An dan Kai telah menikah. Kaum Akkadian memperkenalkan ide bahwa kaum setan berhubungan dengan dewa-dewa utama Mesopotamia dan membantu mereka dalam penciptaan dan memerintah alam semesta[12]. Kaum Akkadian menyembah setan bernama Girru, yang mereka klaim segaris dengan dewa, “An”, dan dibuat dari api.[13] Dalam Quran kita menemukan jin-setan juga dibuat dari api.

Akar-akar kuno jazirah Arab menunjukkan bahwa ribuan tahun sebelum Muhammad agama jin-setan memberikan mereka posisi yang ditinggikan, membuat mereka menjadi suatu kekuatan luarbiasa dalam penyembahan pagan di kuil-kuil di jazirah arab, khususnya dalam penyembahan Keluarga Bintang. Para Kuhhan menjadi kelas keagamaan, sebuah hirarki yang bertanggungjawab bagi berbagai kuil di jazirah Arab. hal. ini memudahkan para Kuhhan untuk memperkenalkan ritual-ritual agama jin jazirah Arab ke dalam kuil-kuil, seperti peribadahan haji Umra yang berputar di sekitar jin dan abdi-abdi jin terkenal, Asaf dan Naelah. Kita melihat bagaimana peribadahan haji ini menjadi sebuah peribadahan haji resmi yang dimulai pada Kabah di Mekah. Para Kuhhan membuat figur-figur yang dihormati dari agama jin menjadi elemen suci yang difokuskan di dalam kuil. Tugu-tugu Asaf dan Naelah ditempatkan di atas batu-batu utama di kuil Mekah.

Sejak di awal pembangunan kuil Mekah, para Kuhhan jin adalah pendeta-pendetanya yang resmi. Ini menjelaskan bagaimana mereka membuat peribadahan okultis haji mereka ke dalam sebuah perayaan di kuil.

Kuil di Mekah dikuasai para Kuhhan jin. Kita melihat ini dari kehadiran dua tugu Kuhhan pada batu-batu yang, tanpa keraguan, menjadi suci karena kedua tugu ditempatkan di sana. Fakta bahwa tugu tersebut terus menerus berada di sana untuk suatu periode waktu yang panjang memberitahu kita bahwa hirarki kuil dikontrol dalam barisan Para Kuhhan. Mereka menganggap Asaf dan Naelah sebagai abdi perintis di kuil.

Kami menyimpulkan bahwa ritual-ritual di dalam Kabah Mekah dilakukan oleh Para Kuhhan jin, dan mereka bertanggungjawab dalam fungsi-fungsi keagamaannya. Ada Kuhhan terkenal lainnya yang diketahui bertanggungjawab atas Kabah di Mekah. Di antara mereka adalah Wake’a Zuhair al-Iyadi. Ibn al-Kalbi, seorang sejarawan Arab dan penulis yang menulis mengenai masa sebelum Islam, mengatakan bahwa Wake’a bertanggung jawab sebagai Kahen di Kabah pada masa-masa itu.[14] Menurut para penulis-penulis kuno Arab, Wake’a diketahui mempunyai syair prosa seperti dari para Kuhhan.[15] hal. ini mengkonfirmasi hubungannya dengan Kuhhan agama jin. Syair prosanya dianggap sama dengan Quran. Kita juga menemukan banyak frase-frasenya yang dijiplak Muhammad dan dimasukkan ke dalam Quran. Kumpulan perkataan Wake’a dapat ditemukan dalam literature Arab kuno, seperti Majma’ al-Amthaal yang ditulis oleh al-Maydaani.[16]

Semua hal. ini mengkonfirmasi kuasa para Kuhhan jin di atas kuil di Mekah, membuat mereka kelas agama sesungguhnya dari kuil tersebut. hal. ini juga menjelaskan bagaimana ritual-ritual mereka, seperti peribadahan haji mereka menjadi elemen utama agama jin dalam kota, menjadi sebuah ritual utama kuil tersebut dan bagi penyembah Keluarga Bintang jazirah Arab.

Mereka menyembah seekor ULAR di dalam Kuil di Mekah, dan orang-orang Arab menganggapnya sebagai jin-setan.

Perayaan-perayaan sesungguhnya di Kabah, dan hubungan mereka dengan agama jin, ditunjukkan oleh penyembahan seekor ular di dalam Kabah. Tulisan Thabari, sejarawan Arab terkenal yang menulis mengenai masa sebelum Islam jazirah Arab, memberitahu kita bahwa seekor ular hidup di dalam sumur di Kabah, di mana para penghuni Mekah melemparkan pemberian-pemberian mereka.[17] Kelihatannya bahwa pemberian-pemberian dipersembahkan bagi sang ular.

Sejarawan Arab yang menulis mengenai masa sebelum Islam Mekah, mengatakan istilah “Allaha”, dari mana nama Allah berasal, diberikan pada “sang ular besar.”[18] Orang-orang Arab menyembah ular-ular, menganggap mereka sebagai ular-setan. Salah satu titel bagi setan di sekitar Mekah adalah “Azab”, yang dipercaya sebagai seekor ular.[19] Sejarawan-sejarawan juga mengatakan bahwa jin adalah seekor ular putih,[20] yang mereka percayai mendengarkan dan hebat di antara bahasa-bahasa. Syair, seperti al-Nabighah dan yang lain-lainnya yang diketahui memiliki hubungan dengan jin, seperti Umayya bin Abi al-Salt dan Adi bin Zayd, mempromosikan ide-ide demikian.[21]

Karena ular di dalam sumur kuil disembah, dan karena ia menerima pemberian-pemberian mereka, kita dapat melihat bahwa kuil Mekah adalah sebuah pusat yang penting bagi penyembahan jin. Mereka menyembah jin melalui penyembahan ular di dalam sumur Kabah, dan mereka menyebutnya “Allaha.” Ingatlah bahwa patung “Kozah” ditempatkan dalam Kabah. Masyarakat percaya dia membuat hujan dan guntur, tetapi banyak cendekiawan berpikir bahwa dia adalah setan.

Dalam struktur dan perayaan, Kabah dalam banyak cara adalah persis sama dengan kuil-kuil agama jin jazirah Arab.

Orang-orang Arab mempunyai kuil-kuil yang mereka namakan “Taghut” طاغوت, sebuah titel bagi Marid sang jin مارد الجن, yang berarti jin raksasa. Dalam masa-masa sesudahnya, para Kuhhan jin juga disebut sebagai Taghut,[22] menunjukkan pada kita bahwa Taghut adalah kuil-kuil agama jin. Para penulis yang menulis mengenai jazirah Arab dalam periode sebelum Islam menyebutkan kesamaan antara Kabah Mekah dengan Taghut. Taghut memiliki konstruksi yang sama seperti Kabah dari dalam, dan mereka memiliki perayaan-perayaan yang sama, seperti berjalan mengelilinginya seperti orang-orang Arab pagan yang mengelilingi Kabah.[23] Hal ini memberitahu kita bahwa kuil Mekah adalah sama dengan Taghut yang disatukan dengan berbagai kuil-kuil agama jin lainnya. Dalam perayaan-perayaan dan struktur, ada suatu kesamaan antara kuil-kuil yang dibangun bagi Keluarga Bintang jazirah Arab dan yang dibangun bagi agama jin. hal. ini dapat dipahami, sejak Para Kuhhan jin menguasai fungsi-fungsi agama pada hampir semua kuil-kuil yang dibangun bagi penyembahan Keluarga Bintang. Para Kuhhan mengatur penyembahan di kuil Keluarga Bintang dengan cara yang sama mereka mengatur kuil-kuil Taghut, yang didedikasikan untuk menyembah jin. Kuil di Mekah adalah salah satu dari kuil-kuil di jazirah Arab yang melaksanakan penyembahan kepada kedua agama pagan utama jazirah Arab.

Kedua pendeta jin, Asaf dan Naelah, diasumsikan dimakamkan dalam Kabah di Mekah. Kabah adalah sebuah tempat bagi perayaan-perayaan tidak bermoral, yang mendukung ide bahwa itu adalah sebuah tempat perlindungan bagi agama jin. Dalam masa sebelum Islam, makam-makam beberapa Kuhhan menjadi tempat-tempat suci di mana orang-orang Arab datang berkunjung untuk mendapatkan berkah. Orang-orang Arab pagan membuat perlindungan mereka menjadi suatu tempat-tempat yang aman dan untuk berlindung. Jika seseorang masuk ke dalam tempat-tempat perlindungan, dia akan menjadi tidak tersentuh, dan tidak seorangpun dapat membahayakannya.[24] hal. ini juga dilakukan pada kuil di Mekah. hal. ini dapat menjelaskan bahwa Kabah aslinya merupakan sebuah tempat di mana kedua Kuhhan, Asaf dan Naelah, dimakamkan. Kemudian suku-suku dari Yaman membangun sebuah kuil di sana, berbagi tujuan yang sama untuk Kabah di antara agama jin dan penyembahan Keluarga Bintang jazirah Arab yang dianut orang-orang Yaman.

Juga, para penulis tentang Mekah pra-Islam berbicara mengenai perayaan-perayaan yang terjadi dalam Kabah yang bisa dibandingkan dengan upacara-upacara masa kini dalam kuil-kuil aliran setan. Sebagai contoh, menurut Bukhari, ketika mereka mengelilingi Kabah, para peserta ibadah berada dalam keadaan telanjang bulat, termasuk para wanita.[25] Juga menurut kitab Halabiyah/Halabieh, Kabah merupakan sebuah tempat perzinahan. Jika seseorang hendak melakukan perzinahan, dia dapat melakukannya di Kabah.[26] Hal ini mengingatkan kita bahwa perzinahan yang terjadi di dalam kuil-kuil milik penyembahan setan, dan yang mendukung hubungan Kabah dengan agama jin jazirah Arab. Penulis-penulis Arab yang memberitahu kita mengenai Mekah menggambarkan perzinahan para wanita dalam kota tersebut.[27] Kelihatannya ketidak-bermoralan dalam Kabah ini telah mempengaruhi kota tersebut.

Sejarah praktek-praktek okultis dalam Kabah Mekah mendiskualifikasinya sebagai sebuah kuil yang benar, Tuhan yang Kudus, karena Dia menentang aliran setan dan setiap bentuk okultisme. Semua perayaan dan mereka yang mengatur perayaan-perayaan, termasuk patung-patung yang disembah dan batu-batuan yang dihormati, mengkonfirmasi Kabah adalah sebuah ekpresi pagan lokal dan penyembahan okultis di Mekah. Penajisan ini lebih buruk daripada apa yang terjadi di kuil-kuil pagan manapun yang dikenal di seluruh dunia kuno, apakah yang berada di Timur Tengah ataupun di Asia. Di dalam kuil Mekah kita hanya melihat okultisme dan tradisi pagan Keluarga Bintang. Bagaimana bisa Islam mengaku kuil Mekah sebagai pusat sejarah monotheisme untuk segala jaman? •

______________________
Footnote:
[1] Tafsir al-Thabari, 23, hal. 69
[2] Tafsir al-Thabari, 23, hal. 69
[3] Sahih al-Bukhari, 4, hal. 96
[4] Al-Jaheth, al-Haiwan, 6, hal. 187; dikutip oleh Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723
[5] Sabuni, Safwat al-Tafasir, 2, hal. 270
[6] Al-Jaheth, Al Haiwan, 6, hal. 223; dikutip oleh Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723
[7] Al-Tha’alibi, Abd al-Malik ibn Mohammed, Kitab Thimar al-qulub, hal. 69 dan 70
[8] Halabieh 2, hal. 130
[9] Sahih al-Bukhari, 5, hal. 227
[10] Halabieh 2, hal. 63
[11] Taj Al Aruss, 9, hal. 165
[12] Jeremy Black dan Anthony Green, gods demons dan symbols Ancient Mesopotamia, hal. 162
[13] Jeremy Black dan Anthony Green, gods demons dan symbols Ancient Mesopotamia, hal. 88
[14] Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma’rifat ahwal al-arab, 2, hal. 260
[15] Alusi al-Baghdadi Mamud Shukri, Bulugh al-arab fi ma’rifat ahwal al-arab, 2, hal. 260; Maydaani, Majma’ al-Amthaal, 2, hal. 81
[16] Maydaani, Majma’ al-Amthaal, 2, hal. 81
[17]Tarikh al-Tabari, I, hal. 525
[18] Taj Al Aruss, 9, 410
[19] Taj Al Aruss, I, hal. 147 dan 284
[20] Taj Al Aruss, 9, hal. 165
[21] Al-Jaheth, Al Haiwan, 4, 203; dikutip oleh Jawad Ali,vi, 726
[22] Raghib al-Isfahani, Abu al-Qasim al-Husayn ibn Muhammad, Mufradat al-Qur’an, hal. 307; al-Kalbi, al-Asnam, hal. 6; Taj al-Aruss, 10, hal. 225
[23] Ibn Hisham I, hal. 64 ; Hamish Ala Al Rauth Al Anf, I, hal. 64; dikutip oleh Jawad Ali, al Mufassal, vi, hal. 401 dan 402
[24] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, hal. 448
[25] Sahih al-Bukhari, 2, 164
[26] Halabieh 1, hal. 15
[27] Ibn Al Muja’wir, Descriptio, 1, 7; dikutip oleh Patricia Crone, Meccan Trade, Princeton University Press, 1987, hal. 106, 107
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • HAMBA YAHWEH ELOHIM  On 14 February 2014 at 12:26

    NAMA TUHAN YANG SEJATI DAN ASLI YANG MENYATAKAN DIRINYA KEPADA NEVIIM MOSES, NAMANYA ADALAH YAHWEH bukan allah swt yang ternyata adalah ular yang dinamai allaha yang disembah kaum pagan arab dan kaum mono pagan

  • pemimpi  On 24 February 2014 at 22:20

    kalau ular yang disembah kaum muslim berarti pantslah sudah tergenapi bahwa antri christ sebenarnya adalah muslim sinaga itu…..makanya tidak ada tempat damai dimana ada islam disitu pasti akan dimintakan darah dan kriminal

  • Andreas Harjito  On 12 March 2014 at 07:49

    kepercayaan pagan di arab tidak lepas dari ajaran hindu karena jazirah arab koloni India (dewa siwa dan wisnhu) lalu diubah oleh Muhammad menjadi monotheisme? sayangnya tidak 100% buktinya dalam ayat Quran diturunkan bukan saja kepada manusia tapi juga utk bangsa Jin ? Dan ritual haji masih meneruskan ritual kepercayaan pagan yg direvisi kedalam monotheisme?

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: