Buraq Di Malam Israa’ Mi’raj – Makhluk Gaib Apakah Itu?

Lukisan Muhammad SAW menunggangi Al BuraqDipetik sebagian dari blackfiles.mywapblog.com

Tak dapat dihindari bahwa ulama Muslim pun akan mempertanyakan apa itu Buraq? Apakah benar mahkluk tersebut eksis sebagai ciptaan Allah? Sirat Ibn Ishaq mencatat bahwa binatang ini telah ditunggangi oleh pelbagai nabi sebelum Muhammad. Lalu sejak kapan binatang tersebut telah diciptakan Allah dan, ditampilkan untuk ditunggangi oleh nabi-nabi manakah? Dan dapat dikonfirmasi dalam Kitabullah manakah? Bukankah binatang ajaib itu hanya muncul didongengkan (awas, bukan diwahyukan!) satu kali itulah diabad ke-7 bagi Muhammad?

Kalau dilihat dalam kamus bahasa, maka kita akan menemukan istilah “buraq” yang diartikan “Binatang kendaraan Nabi Muhammad SAW”, dia berbentuk kuda bersayap kiri kanan. Dalam pemakaian umum “buraq” itu berarti burung cendrawasih yang oleh kamus diartikan burung dari sorga (bird of paradise).

Sebenarnya “buraq” itu adalah istilah yang dipakai dalam AlQur’an dengan arti “kilat” termuat pada ayat 2/19, 2/20 dan 13/2 dengan istilah aslinya “Barqu”. Para sarjana telah melakukan penyelidikan dan berkesimpulan bahwa kilat atau sinar bergerak sejauh 186.000 mil atau 300 Kilometer perdetik. Dengan penyelidikan yang memakai sistem paralax, diketahui pula jarak matahari dari bumi sekitar 93.000.000 mil dan dilintasi oleh sinar dalam waktu 8 menit.

Jarak sedemikian besar disebut 1 AU atau satu Astronomical Unit, dipakai sebagai ukuran terkecil dalam menentukan jarak antar benda angkasa. Dan kita sudah membahas bahwa Muntaha itu letaknya diluar sistem galaksi bimasakti kita, dimana jarak dari satu galaksi menuju ke galaksi lainnya saja sekitar 170.000 tahun cahaya. Sedangkan Muntaha itu sendiri merupakan bumi atau planet yang berada dalam galaksi terjauh dari semua galaksi yang ada di ruang angkasa.

Amatlah janggal jika kita mengatakan bahwa buraq tersebut dipahami sebagai binatang atau kuda bersayap yang dapat terbang ke angkasa bebas. Orang tentu dapat mengetahui bahwa sayap hanya dapat berfungsi dalam lingkungan atmosfir planet dimana udara ditunda ke belakang untuk gerak maju kemuka atau ditekan kebawah untuk melambung keatas.

Udara begitu hanya berada dalam troposfir yang tingginya 6 hingga 16 Km dari permukaan bumi, padahal buraq itu harus menempuh perjalanan menembusi luar angkasa yang hampa udara dimana sayap tak berguna malah menjadi beban. Dengan kecepatan kilat maka binatang kendaraan itu, begitu juga Nabi yang menaiki, akan terbakar dalam daerah atmosfir bumi, sebaliknya ketiadaan udara untuk bernafas dalam menempuh jarak yang sangat jauh sementara itu harus mengelakkan diri dari meteorities yang berlayangan di angkasa bebas.

Semua itu membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw bukanlah melakukan perjalanan MI’RAJ-Nya dengan menggunakan binatang ataupun hewan bersayap sebagaimana yang diyakini oleh orang selama ini…

Menurut akal pikiran kita sehari-hari yang tetap tinggal di bumi, jarak yang demikian jauhnya tidak mungkin dapat dicapai hanya dalam beberapa saat saja. Untuk menerobos garis tengah jagat raya saja memerlukan waktu 10 milyar tahun cahaya melalui galaksi-galaksi yang oleh Garnow disebut sebagai fosil-fosil jagad raya dan selanjutnya menuju alam yang sulit digambarkan jauhnya oleh akal pikiran dan panca indera manusia dengan segala macam peralatannya, karena belum atau bahkan tidak diketahui oleh para Astronomi, galaksi yang lebih jauh dari 20 bilyun tahun cahaya. …

Dalam AlQur’an kita jumpai betapa hitungan waktu yang diperlukan oleh para malaikat dan ruh-ruh orang yang meninggal kembali kepada Tuhan:

Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepadaNya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. Ukuran waktu dalam ayat diatas, ada para ahli yang menyebut bahwa angka 50 ribu tahun itu menunjukkan betapa lamanya waktu yang diperlukan penerbangan malaikat dan Ar-Ruh untuk sampai kepada Tuhan…

Kembali pada peristiwa Mi’raj Rasulullah bahwa jarak yang ditempuh oleh Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dengan Buraq menurut ukuran di bumi sejauh radius jagad raya ditambah jarak Sidratul Muntaha pulang pergi ditempuh dalam waktu maksimal 1/2 hari waktu bumi (semalam) atau 1/100.000 waktu Jibril atau sama dengan 10-5 tahun cahaya, yaitu kira-kira sama dengan 9,46 x 10 -23 cm/detik dirasakan oleh Jibril bersama Nabi Muhammad (bandingkan dengan radius sebuah elektron dengan 3 x 19-11 cm) atau kira-kira lebih pendek dari panjang gelombang sinar gamma.

Nah, Barkah yang disebut dalam Qur’an yang melingkupi diri Nabi Muhammad Saw adalah berupa penjagaan total yang melindungi beliau dari berbagai bahaya yang dapat timbul baik selama perjalanan dari bumi atau juga selama dalam perjalanan di ruang angkasa, termasuk pencukupan udara bagi pernafasan Rasulullah Saw selama itu dan lain sebagainya. Jadi, sekarang kita bisa mendeskripsikan tentang kendaraan bernama Buraq ini sedemikian rupa, apakah dia berupa sebuah pesawat ruang angkasa yang memiliki kecepatan diatas kecepatan sinar dan kecepatan UFO?

Ataukah dia berupa kekuatan yang diberikan Allah kepada diri Rasulullah Saw sehingga Rasul dapat terbang di ruang angkasa dengan selamat dan sejahtera, bebas melayang seperti seorang Superman?

▪ KOMENTAR KRITIS:

Nah, itulah para pakar Islam yang berkutat diseputar misteri tak terpahami dari peristiwa Mikraj. Karena tak terpahami lalu dianggap oleh umat Islam dengan gampang menempatkannya sebagai mukjizat terbesar dari Nabinya. Namun segera tampak bahwa ada banyak isu teologis dan science yang bisa melecehkan otoritas Islam dan “kebenaran Quran” yang dianggap mutlak tanpa salah.

Pertama, bilamana itu “mukjizat dahsyat” kebanggaan Islam, mengapa tidak ada ayat dan nama Mi’raj yang dimunculkan di dalam wahyu Allah sendiri (Quran)? Sementara peristiwa dan istilah Israa’ yang kalah penting itu justru ada diabadikan di Quran Sura 17?

Seperti diulaskan diatas, tak terhindarkan bahwa ulama Muslim pun akan mempertanyakan apa itu Buraq? Apakah benar mahkluk tersebut eksis sebagai ciptaan Allah? Sirat Ibn Ishaq mencatat bahwa binatang ini telah ditunggangi oleh pelbagai nabi sebelum Muhammad. Lalu sejak kapan binatang tersebut telah diciptakan Allah dan, ditampilkan untuk ditunggangi oleh nabi-nabi manakah? Dan dapat dikonfirmasi dalam Kitabullah manakah? Bukankah binatang ajaib itu hanya muncul didongengkan (awas, bukan diwahyukan!) satu kali itulah di abad ke-7 bagi Muhammad? Dimana Muhammad menambahi lagi bumbu-bumbu dongengnya dengan melibatkan malaikat Jibril yang memuja diri Nabi, yaitu sambil mengusap bulu leher Buraq tersebut ia menegor Buraq yang agak ragu-ragu itu: “Apakah engkau tidak malu dengan perlakuanmu ini, O Buraq? Demi Allah tidak ada yang lebih terhormat dihadapan Allah selain Muhammad yang telah menunggangimu”.

Ya, apakah mungkin binatang tersebut eksis, bisa hidup sekaligus di dunia dan di surga? Spesies Buraq itu apakah termasuk burung atau kuda terbang atau bagaimana? Muhammad tidak terkesima dengan keajaiban Buraq. Ia tidak berkomunikasi dengan binatang-ajaib yang berjasa besar itu. Lihat apa yang dikatakannya,

“Kemudian aku diberi seekor hewan tunggangan putih yang lebih kecil dari pada baghal namun lebih besar dibanding keledai bernama al-Buraq. Maka aku berangkat bersama Jibril Alaihissalam, hingga sampai di langit dunia.” (Sahih Bukhari, Vol 4, Buku 54, Hadith 429)

“Kemudian aku didatangkan seekor hewan tunggangan berwarna putih yang lebih kecil dari pada baghal namun lebih besar dibanding keledai.” Al Jarud berkata kepadanya; “Apakah itu yang dinamakan al Buraq, wahai Abu Hamzah?”. Anas menjawab; “Ya. Al Buraq itu meletakan langkah kakinya pada pandangan mata yang terjauh”.”Lalu aku menungganginya kemudian aku berangkat bersama Jibril ‘alaihis salam hingga sampai di langit dunia.”. (Sahih Bukhari, Vol. 5, Buku 58, Hadith 227)

“Diriwayatkan atas otoritas Anas bin Malik bahwa Rasul Allah berkata: Saya diangkat al-buraq binatang putih dan panjang, lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari kuda, yang dapat menempatkan tapak tumitnya menurut pelbagai jarak yang berbeda. Saya naik keatasnya dan sampai kepada BaitNya (Baitul Maqdis di Yerusalem)”. (Sahih Muslim, Buku 1, Hadith 309)

Semua dongengnya tanpa saksi dan bukti, yang melebihi cerita fiktif 1001 malam, namun tetap harus dipercayai sebagai mukjizat otentik dan terbesar dari Allah Ta’ala. Kami ada berbincang-bincang dengan teman Muslim yang ngotot menerima kisah ini sebagai “nikmat Allah” yang khusus menghadirkan Buraq bagi Muhammad demi untuk menerima message Allah yang terpenting bagi peribadatan Muslim. Yaitu hukum wajib menegakkan sholat 5-waktu setiap hari selama hidup…

Teman Muslim ini memang mengakui sulitnya kisah ini dipercayai, namun tetap mendalilkan bahwa bilamana kisah Mi’raj dan Buraq itu ditolak, maka shalat Islam harus kembali kepada aturan Quran zaman sebelumnya di Mekah, tanpa ditetapkan shalat 5-waktu seperti yang diatur-atur pada Hadist…

AWAS: Quran mengklaim sebagai Kitab yang jelas (5:15), mudah dimengerti (44;58, 54:22, 32; 54:40), diterangkan secara terperinci (6:114), buku yang tak ada keraguan padanya (2:1). Dan peristiwa mikraj ini telah dianggap sebagai mukjizat terbesar dari Muhammad. Lalu kenapa Mikraj, Buraq, dan keharusan shalat 5-waktu itu tersembunyi dari Quran yang utuh-sempurna (khususnya untuk hukum peribadatan)? Sehingga malah membatalkan seluruh klaim dirinya karena samasekali tidak rinci, tidak jelas, tidak dimengerti akal dan penuh dengan keraguan? Faktanya Quran samasekali tidak berurusan dengan Mik’raj dan Buraq dan 5 shalat, melainkan hanya memerintahkan shalat pagi, petang/tengah dan malam (lihat QS 24:58; 11:114; 20:130; 2:238), yang kini menjadi ajang pencocok-cocokkan dan plintiran kata-kata dari para ulama agar hukum Quran jangan tampak berselisih dengan aturan Hadist!?

Disinilah Muslim kembali terjebak dalam otoritas hukum Islam yang tidak terselesaikan: lebih mengikuti aturan Hadist ataukah otoritas perintah Quran? •

AnsweringIslam.org

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • koko  On 3 May 2014 at 07:26

    Kisah Isra’ Mi’raj
    Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu
    peristiwa yang agung dalam perjalanan
    hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
    wa sallam . Sebagian orang meyakini kisah
    yang menakjubkan ini terjadi pada Bulan
    Rajab. Benarkah demikian? Bagaimanakah
    cerita kisah ini? Kapan sebenarnya
    terjadinya kisah ini? Bagaimana pula
    hukum merayakan perayaan Isra’ Mi’raj ?
    Simak pembahasannya dalam tulisan yang
    ringkas ini.
    Pengertian Isra’ Mi’raj
    Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro ’
    bermakna perjalanan di malam hari. Adapun
    secara istilah, Isra` adalah perjalanan
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
    bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul
    Maqdis (Palestina ), berdasarkan firman
    Allah :
    ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﺳْﺮَﻯ ﺑِﻌَﺒْﺪِﻩِ ﻟَﻴْﻼً ﻣِّﻦَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ
    ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻷَﻗْﺼَﻰ
    “Maha Suci Allah, yang telah
    memperjalankan hamba-Nya pada suatu
    malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil
    Aqsha “ (Al Isra’:1)
    Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang
    dipakai untuk naik. Adapun secara istilah,
    Mi’raj bermakna tangga khusus yang
    digunakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa
    sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas
    langit, berdasarkan firman Allah dalam surat
    An Najm ayat 1-18. [1]
    Kisah Isra’ Mi’raj
    Secara umum, kisah yang menakjubkan ini
    disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam
    Al-Qur`an dalam firman-Nya:
    ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﺳْﺮَﻯ ﺑِﻌَﺒْﺪِﻩِ ﻟَﻴْﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ
    ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺄَﻗْﺼَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﺎﺭَﻛْﻨَﺎ ﺣَﻮْﻟَﻪُ ﻟِﻨُﺮِﻳَﻪُ ﻣِﻦْ
    ﺀَﺍﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﺇِﻧَّﻪ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﺍﻟْﺒَﺼِﻴﺮ
    “Maha Suci Allah, yang telah
    memperjalankan hamba-Nya pada suatu
    malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil
    Aqsha yang telah Kami berkahi
    sekelilingnya agar Kami perlihatkan
    kepadanya sebagian dari tanda-tanda
    (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia
    adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
    (QS. Al-Isra` : 1)
    Juga dalam firman-Nya:
    ﻭَﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ ﺇِﺫَﺍ ﻫَﻮَﻯ . ﻣَﺎ ﺿَﻞَّ ﺻَﺎﺣِﺒُﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻏَﻮَﻯ. ﻭَﻣَﺎ
    ﻳَﻨْﻄِﻖُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯ . ﺇِﻥْ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺣْﻲٌ ﻳُﻮﺣَﻰ . ﻋَﻠَّﻤَﻪُ
    ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻘُﻮَﻯ. ﺫُﻭ ﻣِﺮَّﺓٍ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮَﻯ . ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﺎﻟْﺄُﻓُﻖِ ﺍﻟْﺄَﻋْﻠَﻰ .
    ﺛُﻢَّ ﺩَﻧَﺎ ﻓَﺘَﺪَﻟَّﻰ. ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻗَﺎﺏَ ﻗَﻮْﺳَﻴْﻦِ ﺃَﻭْ ﺃَﺩْﻧَﻰ. ﻓَﺄَﻭْﺣَﻰ
    ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺒْﺪِﻩِ ﻣَﺎ ﺃَﻭْﺣَﻰ. ﻣَﺎ ﻛَﺬَﺏَ ﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩُ ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻯ.
    ﺃَﻓَﺘُﻤَﺎﺭُﻭﻧَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻳَﺮَﻯ. ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺭَﺁﻩُ ﻧَﺰْﻟَﺔً ﺃُﺧْﺮَﻯ. ﻋِﻨْﺪَ
    ﺳِﺪْﺭَﺓِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻬَﻰ. ﻋِﻨْﺪَﻫَﺎ ﺟَﻨَّﺔُ ﺍﻟْﻤَﺄْﻭَﻯ. ﺇِﺫْ ﻳَﻐْﺸَﻰ ﺍﻟﺴِّﺪْﺭَﺓَ
    ﻣَﺎ ﻳَﻐْﺸَﻰ . ﻣَﺎ ﺯَﺍﻍَ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮُ ﻭَﻣَﺎ ﻃَﻐَﻰ. ﻟَﻘَﺪْ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻦْ
    ﺀَﺍﻳَﺎﺕِ ﺭَﺑِّﻪِ ﺍﻟْﻜُﺒْﺮَﻯ
    “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu
    (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula
    keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu
    (Al Qur’an) menurut kemauan hawa
    nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
    hanyalah wahyu yang diwahyukan
    (kepadanya), yang diajarkan kepadanya
    oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang
    mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril
    itu) menampakkan diri dengan rupa yang
    asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi.
    Kemudian dia mendekat, lalu bertambah
    dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada
    Muhammad sejarak) dua ujung busur panah
    atau lebih dekat (lagi). Lalu dia
    menyampaikan kepada hamba-Nya
    (Muhammad) apa yang telah Allah
    wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa
    yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu
    (musyrikin Mekah) hendak membantahnya
    tentang apa yang telah dilihatnya? Dan
    sesungguhnya Muhammad telah melihat
    Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
    waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil
    Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat
    tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika
    Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang
    meliputinya. Penglihatannya (Muhammad)
    tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan
    tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya
    dia telah melihat sebahagian tanda-tanda
    (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”.
    (QS. An-Najm : 1-18)
    Adapun rincian dan urutan kejadiannya
    banyak terdapat dalam hadits yang shahih
    dengan berbagai riwayat. Syaikh Al Albani
    rahimahullah dalam kitab beliau yang
    berjudul Al Isra` wal Mi’raj menyebutkan 16
    shahabat yang meriwayatkan kisah ini.
    Mereka adalah: Anas bin Malik, Abu Dzar,
    Malik bin Sha’sha’ah, Ibnu ‘Abbas, Jabir,
    Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Buraidah
    ibnul Hushaib Al-Aslamy, Hudzaifah ibnul
    Yaman, Syaddad bin Aus, Shuhaib,
    Abdurrahman bin Qurath, Ibnu ‘Umar, Ibnu
    Mas’ud, ‘Ali, dan ‘Umar radhiallahu ‘anhum
    ajma’in .
    Di antara hadits shahih yang menyebutkan
    kisah ini adalah hadits yang diriwayatkan
    oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari
    sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik
    radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah
    shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    “ Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu
    yaitu hewan putih yang panjang, lebih
    besar dari keledai dan lebih kecil dari
    baghal, dia meletakkan telapak kakinya di
    ujung pandangannya (maksudnya
    langkahnya sejauh pandangannya). Maka
    sayapun menungganginya sampai tiba di
    Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di
    tempat yang digunakan untuk mengikat
    tunggangan para Nabi. Kemudian saya
    masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat
    kemudian keluar . Kemudian datang
    kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan
    membawa bejana berisi khamar dan bejana
    berisi air susu. Aku memilih bejana yang
    berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “
    Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.
    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit
    (pertama) dan Jibril meminta dibukakan
    pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa
    engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan
    lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia
    menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah
    dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah
    diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu
    langit) dan saya bertemu dengan Adam.
    Beliau menyambutku dan mendoakan
    kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke
    langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam
    meminta dibukakan pintu, maka dikatakan
    (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia
    menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa
    yang bersamamu?” Dia
    menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah
    dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah
    diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu
    langit kedua) dan saya bertemu dengan
    Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin
    Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau
    berdua menyambutku dan mendoakan
    kebaikan untukku.
    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit
    ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu,
    maka dikatakan (kepadanya):“Siapa
    engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan
    lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia
    menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah
    dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah
    diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu
    langit ketiga) dan saya bertemu dengan
    Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah
    diberi separuh dari kebagusan(wajah).
    Beliau menyambutku dan mendoakan
    kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik
    bersamaku ke langit keempat dan Jibril
    meminta dibukakan pintu, maka dikatakan
    (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia
    menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa
    yang bersamamu?” Dia menjawab:
    “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah
    diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”.
    Maka dibukakan bagi kami (pintu langit
    keempat) dan saya bertemu dengan Idris
    alaihis salaam. Beliau menyambutku dan
    mendoakan kebaikan untukku. Allah
    berfirman yang artinya : “Dan Kami telah
    mengangkatnya ke martabat yang
    tinggi” (Maryam:57).
    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit
    kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu,
    maka dikatakan (kepadanya):“Siapa
    engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan
    lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia
    menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah
    dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah
    diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu
    langit kelima) dan saya bertemu dengan
    Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku
    dan mendoakan kebaikan untukku.
    Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit
    keenam dan Jibril meminta dibukakan
    pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa
    engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan
    lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia
    menjawab: “Muhammad” Dikatakan:
    “Apakah dia telah diutus?” Dia
    menjawab:“Dia telah diutus”. Maka
    dibukakan bagi kami (pintu langit) dan
    saya bertemu dengan Musa. Beliau
    menyambutku dan mendoakan kebaikan
    untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku
    ke langit ketujuh dan Jibril meminta
    dibukakan pintu, maka dikatakan
    (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia
    menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa
    yang bersamamu?” Dia menjawab,
    “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah
    diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”.
    Maka dibukakan bagi kami (pintu langit
    ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim.
    Beliau sedang menyandarkan punggunya ke
    Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul
    Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang
    tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi
    bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata
    daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah
    dan buahnya seperti tempayan besar.
    Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah,
    diapun berubah sehingga tidak ada
    seorangpun dari makhluk Allah yang
    sanggup mengambarkan keindahannya
    Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang
    Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku
    50 shalat sehari semalam. Kemudian saya
    turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu
    dia bertanya: “Apa yang diwajibkan
    Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab:
    “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah
    kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan,
    karena sesungguhnya ummatmu tidak akan
    mampu mengerjakannya. Sesungguhnya
    saya telah menguji dan mencoba Bani
    Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun
    kembali kepada Tuhanku seraya berkata:
    “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk
    ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat.
    Kemudian saya kembali kepada Musa dan
    berkata:“Allah mengurangi untukku 5
    shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya
    ummatmu tidak akan mampu
    mengerjakannya, maka kembalilah kepada
    Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka
    terus menerus saya pulang balik antara
    Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa
    ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah
    berfirman:“Wahai Muhammad,
    sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari
    semalam, setiap shalat (pahalanya) 10,
    maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa
    yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak
    mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa
    baginya) sedikitpun. Jika dia
    mengerjakannya, maka ditulis(baginya)
    satu kejelekan”. Kemudian saya turun
    sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis
    salaam seraya aku ceritakan hal ini
    kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah
    kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”,
    maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah
    kembali kepada Tuhanku sampai sayapun
    malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)
    Untuk lebih lengkapnya, silahkan merujuk
    ke kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2968
    dan 3598 dan Shahih Muslim nomor
    162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya
    yang menyebutkan kisah ini. Terdapat pula
    tambahan riwayat tentang kisah ini yang
    tidak disebutkan dalam hadits di atas.
    Kapankah Isra` dan Mi’raj ?
    Sebagian orang meyakini bahwa peristiwa
    ini terjadi pada tanggal 27 Rajab. Padahal,
    para ulama ahli sejarah berbeda pendapat
    tentang tanggal kejadian kisah ini. Ada
    beberapa perbedaan pendapat mengenai
    penetapan waktu terjadinya Isra’ Mi’raj ,
    yaitu[2] :
    1. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun
    tatkala Allah memuliakan Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
    nubuwah (kenabian). Ini adalah
    pendapat Imam Ath Thabari
    rahimahullah.
    2. Perisitiwa tersebut terjadi lima tahun
    setelah diutus sebagai rasul. Ini
    adalah pendapat yang dirajihkan oleh
    Imam An Nawawi dan Al Qurthubi
    rahimahumallah .
    3. Peristiwa tersebut terjadi pada
    malam tanggal dua puluh tujuh
    Bulan Rajab tahun kesepuluh
    kenabian. Ini adalah pendapat Al
    Allamah Al Manshurfuri rahimahullah.
    4. Ada yang berpendapat, peristiwa
    tersebut terjadi enam bulan sebelum
    hijrah, atau pada bulan Muharram
    tahun ketiga belas setelah kenabian.
    5. Ada yang berpendapat, peristiwa
    tersebut terjadi setahun dua bulan
    sebelum hijrah, tepatnya pada bulan
    Muharram tahun ketiga belas setelah
    kenabian.
    6. Ada yang berpendapat, peristiwa
    tersebut terjadi setahun sebelum
    hijrah, atau pada bulan Rabi’ul
    Awwal tahun ketiga belas setelah
    kenabian.
    Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri
    hafidzahullah menjelaskan : “Tiga pendapat
    pertama tertolak. Alasannya karena
    Khadijah radhiyallahu ‘anha meninggal
    dunia pada bulan Ramadhan tahun
    kesepuluh setelah kenabian, sementara
    ketika beliau meninggal belum ada
    kewajiban shalat lima waktu. Juga tidak
    ada perbedaan pendapat bahwa
    diwajibkannya shalat lima waktu adalah
    pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj .
    Sedangakan tiga pendapat lainnya, aku
    tidak mengetahui mana yang lebih rajih.
    Namun jika dilihat dari kandungan surat Al
    Isra’ menunjukkan bahwa peristiwa Isra’
    Mi’raj terjadi pada masa-masa akhir
    sebelum hijrah.”
    Dapat kita simpulkan dari penjelasan di
    atas bahwa Isra ` dan Mi’raj tidak diketahui
    secara pasti pada kapan waktu terjadinya.
    Ini menunjukkan bahwa mengetahui kapan
    waktu terjadinya Isra’ Mi’raj bukanlah suatu
    hal yang penting. Lagipula, tidak terdapat
    sedikitpun faedah keagamaan dengan
    mengetahuinya. Seandainya ada faidahnya
    maka pasti Allah akan menjelaskannya
    kepada kita. Maka memastikan kejadian
    Isra’ Mi’raj terjadi pada Bulan Rajab adalah
    suatu kekeliruan. Wallahu ‘alam ..
    Sikap Seorang Muslim Terhadap Kisah Isra’
    Mi’raj
    Berita-berita yang datang dalam kisah Isra’
    Miraj seperti sampainya beliau ke Baitul
    Maqdis, kemudian berjumpa dengan para
    nabi dan shalat mengimami mereka, serta
    berita-berita lain yang terdapat dalam
    hadits- hadits yang shahih merupakan
    perkara ghaib. Sikap ahlussunnah wal
    jama’ah terhadap kisah-kisah seperti ini
    harus mencakup kaedah berikut :
    1. Menerima berita tersebut.
    2. Mengimani tentang kebenaran berita
    tersebut.
    3. Tidak menolak berita tersebut atau
    mengubah berita tersebut sesuai
    dengan kenyataannya.
    Kewajiban kita adalah beriman sesuai
    dengan berita yang datang terhadap
    seluruh perkara-perkara ghaib yang Allah
    Ta’ala kabarkan kepada kita atau
    dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu
    ‘alaihi wa sallam . [3]
    Hendaknya kita meneladani sifat para
    sahabt radhiyallahu ‘anhum terhadap berita
    dari Allah dan rasul-Nya. Dikisahkan dalam
    sebuah riwayat bahwa setelah peristiwa
    Isra’ Mi’raj , orang-orang musyrikin datang
    menemui Abu Bakar As Shiddiq
    radhiyallahu ‘anhu. Mereka mengatakan :
    “Lihatlah apa yang telah diucapkan
    temanmu (yakni Muhammad shallallahu
    ‘alaihi wa sallam )!” Abu Bakar berkata :
    “Apa yang beliau ucapkan?”. Orang-orang
    musyrik berkata : “Dia menyangka
    bahwasanya dia telah pergi ke Baitul
    Maqdis dan kemudian dinaikkan ke langit,
    dan peristiwa tersebut hanya berlangsung
    satu malam”. Abu Bakar berkata : “Jika
    memang beliau yang mengucapkan, maka
    sungguh berita tersebut benar sesuai yang
    beliau ucapkan karena sesungguhnya beliau
    adalah orang yang jujur”. Orang-orang
    musyrik kembali bertanya: “Mengapa
    demikian?”. Abu Bakar menjawab: “Aku
    membenarkan seandainya berita tersebut
    lebih dari yang kalian kabarkan. Aku
    membenarkan berita langit yang turun
    kepada beliau, bagaimana mungkin aku
    tidak membenarkan beliau tentang
    perjalanan ke Baitul Maqdis ini?” (Hadits
    diriwayakan oleh Imam Hakim dalam Al
    Mustadrak 4407 dari ‘Aisyah
    radhiyallahu’anha ). [4]
    Perhatikan bagaimana sikap Abu Bakar
    radhiyallahu ‘anhu terhadap berita yang
    datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
    sallam . Beliau langsung membenarkan dan
    mempercayai berita tersebut. Beliau tidak
    banyak bertanya, meskipun peristiwa
    tersebut mustahil dilakukan dengan
    teknologi pada saat itu. Demikianlah
    seharusnya sikap seorang muslim terhadap
    setiap berita yang shahih dari Allah dan
    rasul-Nya.
    Hikmah Terjadinya Isra`
    Apakah hikmah terjadinya Isra` , kenapa
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
    Mi’raj langsung dari Mekkah padahal hal
    tersebut memungkinkan? Para ulama
    menyebutkan ada beberapa hikmah
    terjadinya peristiwa Isra` , yaitu:
    1. Perjalanan Isra’ di bumi dari Mekkah
    ke Baitul Maqdis lebih memperkuat
    hujjah bagi orang-orang musyrik.
    Jika beliau langsung Mi’raj ke
    langit, seandainya ditanya oleh
    orang-orang musyrik maka beliau
    tidak mempunyai alasan yang
    memperkuat kisah perjalanan yang
    beliau alami. Oleh karena itu ketika
    orang-orang musyrik datang dan
    bertanya kepada beliau, beliau
    menceritakan tentang kafilah yang
    beliau temui selama perjalanan Isra’ .
    Tatkala kafilah tersebut pulang dan
    orang-orang musyrik bertanya
    kepada mereka, orang-orang musyrik
    baru mengetahui benarlah apa yang
    disampaikan oleh Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam .
    2. Untuk menampakkan hubungan
    antara Mekkah dan Baitul Maqdis
    yang keduanya merupakan kiblat
    kaum muslimin. Tidaklah pengikut
    para nabi menghadapkan wajah
    mereka untuk beribadah keculali ke
    Baitul Maqdis dan Makkah Al
    Mukarramah. Sekaligus ini
    menujukkan keutamaan beliau
    melihat kedua kiblat dalam satu
    malam.
    3. Untuk menampakkan keutamaan Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam
    dibandingkan para nabi yang
    lainnya. Beliau berjumpa dengan
    mereka di Baitul Maqdis lalu beliau
    shalat mengimami mereka. [5]
    Faedah Kisah
    Kisah yang agung ini sarat akan banyak
    faedah, di antaranya :
    1. Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-
    tanda kebesaran dan kekuasaan Allah
    ‘Azza wa Jalla.
    2. Peristiwa ini juga menunjukkan
    keutamaan Nabi Muhammad
    shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas
    seluruh nabi dan rasul’alaihimus
    shalatu wa salaam
    3. Peristiwa yang agung ini
    menunjukkan keimanan para sahabat
    radhiyallahu’anhum. Mereka meyakini
    kebenaran berita tentang kisah ini,
    tidak sebagaimana perbuatan orang-
    orang kafir Quraisy.
    4. Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad
    dan ruh beliau, dalam keadaan
    terjaga. Ini adalah pendapat jumhur
    (kebanyakan) ulama, muhadditsin ,
    dan fuqaha, serta inilah pendapat
    yang paling kuat di kalangan para
    ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala
    berfirman yang artinya : “Maha Suci
    Allah, yang telah memperjalankan
    hamba-Nya pada suatu malam dari
    Al Masjidil Haram ke Al Masjidil
    Aqsha yang telah Kami berkahi
    sekelilingnya agar Kami perlihatkan
    kepadanya sebagian dari tanda-
    tanda (kebesaran) Kami.
    Sesungguhnya Dia adalah Maha
    Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.
    Al-Isra` : 1)
    Penyebutan kata ‘hamba’ digunakan untuk
    ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah
    yang terdapat dalam hadits-hadits Bukhari
    dan Muslim dengan riwayat yang beraneka
    ragam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa
    salaam melakukan Isra` dan Mi’raj dengan
    jasad beliau dalam keadaan terjaga.
    Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata
    dalam Lum’atul I’tiqad “… Contohnya hadits
    Isra` dan Mi’raj , beliau mengalaminya dalam
    keadaan terjaga, bukan dalam keadaan
    tidur, karena (kafir) Quraisy mengingkari
    dan sombong terhadapnya (peristiwa itu),
    padahal mereka tidak mengingkari mimpi” [6]
    Imam Ath Thahawi rahimahullah berkata :
    “Mi’raj adalah benar. Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa salaam telah melakukan Isra` dan
    Mi’raj dengan tubuh beliau dalam keadaan
    terjaga ke atas langit…” [7]
    1. Penetapan akan ketinggian Allah
    Ta’ala dengan ketinggian zat-Nya
    dengan sebenar-benarnya sesuai
    dengan keagungan Allah, yakni Allah
    tinggi berada di atas langit ketujuh,
    di atas ‘arsy-Nya. Ini merupakan
    akidah kaum muslimin seluruhnya
    dari dahulu hingga sekarang.
    2. Mengimani perkara-perkara ghaib
    yang disebutkan dalam hadits di
    atas, seperti: Buraaq , Mi’raj , para
    malaikat penjaga langit, adanya
    pintu-pintu langit, Baitul Ma’mur ,
    Sidratul Muntaha beserta sifat-
    sifatnya, surga, dan selainnya.
    3. Penetapan tentang hidupnya para
    Nabi ‘alaihimus salaam di kubur-
    kubur mereka, akan tetapi dengan
    kehidupan barzakhiah , bukan seperti
    kehidupan mereka di dunia. Oleh
    karena itulah, di sini tidak ada dalil
    yang membolehkan seseorang untuk
    berdoa, bertawasul, atau meminta
    syafa’at kepada para Nabi dengan
    alasan mereka masih hidup. Syaikh
    Shalih Alu Syaikh rahimahullah
    menjelaskan bahwa Nabi Muhammad
    shalallahu ‘alaihi wa salaam dalam
    Mi’raj menemui ruh para Nabi kecuali
    Nabi Isa ‘alaihis salaam . Nabi
    menemui jasad Nabi Isa karena
    jasad dan ruh beliau dibawa ke langit
    dan beliau belum wafat. [8]
    4. Banyaknya jumlah para malaikat dan
    tidak ada yang mengetahui jumlah
    mereka kecuali Allah.
    5. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
    wa sallam juga adalah kalimur
    Rahman (orang yang diajak bicara
    langsung oleh Ar Rahman).
    6. Allah Ta’ala memiliki sifat kalam
    (berbicara) dengan pembicaraan
    yang sebenar-benarnya.
    7. Tingginya kedudukan shalat wajib
    dalam Islam, karena Allah langsung
    yang memerintahkan kewajiban ini.
    8. Kasih sayang dan perhatian Nabi
    Musa’alaihis salaam terhadap umat
    Islam, ketika beliau menyuruh Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
    diringankan kewajiban shalat.
    9. Penetapan adanya nasakh
    (penghapusan hukum) dalam syariat
    Islam, serta bolehnya me- nasakh
    suatu perintah walaupun belum
    sempat dikerjakan sebelumnya, yakni
    tentang kewajiban shalat yang
    awalnya lima puluh rakaat menjadi
    lima rakaat.
    10. Surga dan neraka sudah ada
    sekarang, karena Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam telah melihat
    keduanya ketika Mi’raj .
    11. Para ulama berbeda pendapat apakah
    Nabi melihat Allah pada saat Mi’raj .
    Ada tiga pendapat yang populer :
    Nabi melihat Allah dengan
    penglihatan, Nabi melihat Allah
    dengan hati, dan Nabi tidak melihat
    Allah namun hanya mendengar kalam
    Allah.
    12. Pendapat yang benar bahwa
    peristiwa Isra’ Mi’raj hanya
    berlangusng satu kali saja dan tidak
    berulang.
    13. Barangsiapa yang mengingkari Isra` ,
    maka dia telah kafir, karena dia
    berarti menganggap Allah berdusta.
    Barangsiapa yang mengingkari Mi’raj
    maka tidak dikafirkan kecuali setelah
    ditegakkan padanya hujjah serta
    dijelaskan padanya kebenaran.
    Hukum Mengadakan Perayaan Isra` Mi’raj
    Bagaimana hukum mengadakan perayaan
    Isra’ Mi’raj ? Berdasarkan dari penjelasan di
    atas, nampak jelas bagi kita bahwa
    perayaan Isra` Mi’raj tidak boleh dikerjakan,
    bahkan merupakan perkara bid’ah , karena
    dua alasan :
    1. Malam Isra` Mi’raj tidak diketahui
    secara pasti kapan terjadinya.
    Banyaknya perselisihan di kalangan
    para ulama, bahkan para sahabat
    dalam penentuan kapan terjadinya
    Isra` dan Mi’raj , merupakan dalil
    yang sangat jelas menunjukkan
    bahwa mereka tidaklah menaruh
    perhatian yang besar tentang waktu
    terjadinya. Jika waktu terjadinya saja
    tidak disepakati, bagaimana mungkin
    bisa dilakukan perayaan Isra’ Mi’raj ?
    2. Dari sisi syari’at, perayaan ini juga
    tidak memiliki landasan. Seandainya
    perayaan tersebut adalah bagian dari
    syariat Allah, maka pasti akan
    dikerjakan oleh Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam dan para
    sahabatnya, atau minimal beliau
    sampaikan kepada ummatnya.
    Seandainya beliau dan para sahabat
    mengerjakannya atau
    menyampaikannya, maka ajaran
    tersebut akan sampai kepada kita.
    Jadi, tatkala tidak ada sedikitpun dalil
    tentang hal tersebut, maka perayaan Isra’
    Mi’raj bukan bagian dari ajaran Islam. Jika
    dia bukan bagian dari agama Islam, maka
    tidak boleh bagi kita untuk beribadah dan
    bertaqarrub kepada Allah Ta’ala dengan
    perbuatan tersebut. Bahkan merayakannya
    termasuk perbuatan bid’ah yang tercela.
    Berikut di antara fatwa ulama dalam
    masalah ini. Syaikh Muhammad bin Shalih
    Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya :
    ”Pertanyaan ini tentang perayaan malam
    Isra’ Mi’raj yang terjadi di Sudan. Kami
    merayakan malam Isra’ Mi’raj rutin setiap
    tahun, Apakah perayaan tersebut memiliki
    sumber dari Al Qur’an dan As Sunnah atau
    pernah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin
    atau pada zaman tabi’in? Berilah petunjuk
    kepadaku karena saya bingung dalam
    masalah ini. Terimakasih atas jawaban
    Anda.”
    Jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
    rahimahullah : “Perayaan seperti itu tidak
    memiliki dasar dari Al Qur’an dan As
    Sunnah dan tidak pula pada zaman
    Khulafaur Rasyidin . Petunjuk yang ada
    dalam Al Qur’an dan sunnah rasul-Nya
    justru menolak perbuatn bid’ah tersebut
    karena Allah Ta’ala mengingkari orang-
    orang yang menjadikan syariat bagi
    mereka selain syariat Allah termasuk
    perbuatan syirik, sebagaimana firman
    Allah :
    ﺃَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺷُﺮَﻛَﺎﺀ ﺷَﺮَﻋُﻮﺍ ﻟَﻬُﻢ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺫَﻥ ﺑِﻪِ
    ﺍﻟﻠَّﻪ
    “Apakah mereka mempunyai sembahan-
    sembahan selain Allah yang mensyariatkan
    untuk mereka agama yang tidak diizinkan
    Allah? ” (Asy Syuura:21)
    Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
    sallam bersabda :
    ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﻋﻤﻼً ﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
    “ Barangsiapa yang melakukan suatu
    amalan yang tidak ada perintahnya dari
    Allah dan rasul-Nya maka amalan tersebut
    tertolak “.
    Perayaan malam Isra’ Mi’raj bukan
    merupakan perintah Allah dan rasul-Nya
    shallallahu ‘alaihi wa sallam . Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam
    memperingatkan ummatnya dalam setiap
    khutbah Jum’at melalui sabda beliau :
    ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ ﻓﺈﻥ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺧﻴﺮ ﺍﻟﻬﺪﻱ
    ﻫﺪﻱ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺷﺮ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﻣﺤﺪﺛﺎﺗﻬﺎ ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ
    “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik
    perkataan adalah firman Allah dan sebaik-
    baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad
    shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek
    perkara adalah perkara baru dalam agama,
    dan setiap bid’ah adalah sesat.” [9]
    Semoga paparan ringkas ini dapat
    menambah ilmu dan wawsan kita, serta
    dapat menambah keimanan kita. Wa
    shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad
    Penyusun : Adika M.
    Artikel Muslim.Or.Id
    [1] Lihat Syarh Lum’atil I’tiqaad li Syaikh
    Ibnu ‘Utsaimin 58-59
    [2] Lihat pembahsan ini dalam Ar Rahiqul
    Makhtum 108
    [3] Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah li
    Syaikh Shalih Alu Syaikh 444
    [4] Lihat Syarh Al Ushuul Ats Tsalatsah li
    Syaikh Shalih Fauzan 201
    [5] Lihat Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah
    li Syaikh Shalih Alu Syaikh 451-452
    [6] Lihat dalam Syarh Lum’atil I’tiqad li
    Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 58
    [7] Matan ‘Al Aqidah Ath Thahawiyah
    [8] Lihat dalam Syarh Al ‘Aqidah Ath
    Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 454
    [9] Penggalan dari fatwa Syaikh Muhammad
    bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam
    Fatawa Nuur ‘alaa Ad Darb. Diakses dari
    http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/
    article_675.shtml )

  • pemimpi  On 27 May 2014 at 21:42

    ditipu muhmaad masih saja ngak sadar.

  • 72bidadari  On 30 September 2014 at 22:13

    Waduhhh..kaget gini!!! Dlm hadis pun ada dongeng-dongengannya? Kalau gitu sah lah quran dan hadis itu palsu ciptaan manusia muhammad.

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: