Moral Diajarkan Al-Quran

Oleh: Apollinaris Darmawan

Bab 1. Pendahuluan

Banyak orang mengatakan bahwa agama mengajarkan moral tetapi kejadian sehari-hari yang dipertontonkan kepada masyarakat belakangan ini bukan hanya tindakan yang tidak bermoral atau tidak berperikemanusiaan malahan sudah dapat dikatakan tindakan yang tidak berperadaban dan yang memprihatinkan tindakan tersebut dilakukan olah orang-orang yang mengaku beragama, sehingga perlu dipertanyakan apakah benar bahwa agama mengajarkan moral.

Selama ini segala ajaran yang berkaitan dengan menyembah Tuhan dimasukkan ke dalam kelompok agama sehingga tidak dapat dibedakan mana agama yang mengajarkan moral dan mana agama yang mengajarkan kejahatan. Seharusnya yang dijadikan ukuran dalam menentukan agama atau bukan agama adalah apa yang diajarkan. Perlu diketahui bahwa di atas moral ada hukum dan di atas hukum ada kemanusiaan. Orang yang bermoral tidak akan melanggar hukum dan orang yang dihukum tidak boleh diperlakukan tidak berperikemanusiaan. Agama yang mengajarkan moral tidak perlu mengajarkan hukum dan agama yang mengajarkan moral, pasti tidak mengajarkan tindakan yang tidak berperikemanusiaan. Dengan melihat moral apa yang diajarkan agama, kita dapat membedakan mana agama yang mengajarkan kebaikan dan mana agama yang mengajarkan kejahatan.

Secara sederhana moral dapat dikatakan sebagai tindakan atau sikap dari seorang manusia yang menghormati manusia lain. Tindakan atau sikap yang merugikan orang lain atau tidak menghormati orang lain dapat disebut sebagai tindakan yang tidak bermoral. Moral sama sekali tidak berhubungan dengan Tuhan karena orang yang dapat menghormati orang lainnya seharusnya sudah menghormati Tuhan karena Tuhan berada di belakang manusia serta semua makhluk lain yang hidup di dunia. Moral dapat dikatakan sebagai tindakan atau sikap manusia dalam bingkai kemuliaan manusia.

Dalam ajaran Hindu, moral tercermin dalam hukum kharma. Segala perbuatan baik yang dilakukan manusia akan mendapat akibat baik dari sesama manusia dan segala perbuatan jahat dari manusia akan mendapat akibat jahat dari sesama manusia. Tidak ada campur tangan Tuhan dalam hukum kharma selama manusia hidup di dunia. Tuhan akan berperan dalam menentukan kehidupan berikutnya. Orang yang budi baiknya belum mencapai kualitas tertentu, akan dikembalikan ke dunia untuk menjalani periode kehidupan berikutnya dan awal hidup seperti apa yang akan diterima disesuaikan dengan segala perbuatan baik dan buruk pada periode kehidupan yang sudah dilalui. Ukuran baik dan buruk ditentukan berdasarkan sebab dan akibat yang diekspresikan oleh manusia sehingga moral yang diajarkan dalam agama Hindu dapat dikatakan berorientasi pada manusia atau dari manusia untuk manusia.

Dalam ajaran Hindu ada juga ajaran melakukan tindakan yang dapat dikategorikan tidak bermoral, yaitu perang. Tetapi perang yang boleh dijalankan hanya atas nama negara dengan tujuan menyelamatkan orang banyak dari dirugikan atau dimusnahkan oleh musuh sehingga perang itu pun masih dalam rangka menghormati hak hidup manusia.

Ajaran Buddha juga menerapkan hukum kharma dengan sedikit perbedaan. Buddha tidak mengajarkan perang dan juga tidak mengajarkan penyiksaan badan. Moral yang diajarkan Buddha tetap sama, yaitu untuk kemuliaan manusia.

Baik dalam ajaran Hindu maupun dalam ajaran Buddha tidak ada kewajiban menyembah Tuhan dan tidak ada permintaan atau perintah dari Tuhan agar umat menyembah Tuhan. Menyembah Tuhan atau membawa persembahan kepada Tuhan dilakukan atas inisiatif manusia dan bukan bersifat kewajiban yang harus dihukum jika tidak dilaksanakan.

Dalam budaya Israel, ajaran moral bersendi pada dua hukum Taurat. Pertama “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ulangan 6:5), dan kedua “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Imamat 9:18). Tuhan dalam Taurat adalah Pemimpin Tertinggi Bangsa Israel yang mengeluarkan hukum sehingga dapat diartikan bahwa mengasihi Tuhan berarti tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum dan segala hukum yang tidak boleh dilanggar tertulis di dalam Taurat. Tindakan yang melanggar hukum, harus diselesaikan berdasarkan proses peradilan yang diatur di dalam Taurat, antara lain harus menghadirkan minimal dua saksi dan perkaranya diputus oleh hakim yang bertindak atas nama Tuhan. Ruang lingkup tugas hakim diatur di dalam Taurat. Berperang juga diatur dalamTaurat yaitu harus dijalankan atas nama negara untuk keselamatan bangsa Israel. Orang Israel diajarkan untuk tidak melanggar hukum dan hidup bermoral, yaitu menerapkan perintah kasihi sesama manusia. Artinya ajaran moral menurut Taurat dari manusia untuk kemuliaan manusia yang hidup dalam tertib hukum.

Tuhan di dalam Taurat tidak minta disembah tetapi memberi kewajiban membawa persembahan yang disebut persepuluhan, dengan ketentuan sepersepuluh dari hasil panen harus dipersembahkan kepada Tuhan dan digunakan untuk membiayai kehidupan imam sehingga dapat dikatakan bahwa persepuluhan dalam tradisi Israel tidak berbeda dengan pajak di jaman sekarang.

Yesus memisahkan antara Kerajaan Allah (Hak Allah) dan Kerajaan Dunia (Hak Kaisar). Hukum Taurat dimasukkan ke dalam Hak Kaisar atau Hak Pemerintah di jaman sekarang dan di dalam dunia modern kekuasaan membuat UU ada di tangan Presiden bersama DPR. Mengasihi sesama manusia dimasukkan ke dalam wilayah Kerajaan Allah tetapi Allah yang diajarkan Yesus bukan Allah yang mengeluarkan hukum melainkan Bapak Yang Baik yaitu Tuhan yang tidak minta disembah, Tuhan yang tidak mengeluarkan kewajiban apa-apa kepada manusia, selain menganjurkan menjalani hidup sebagai manusia yang baik yang selalu siap menolong mereka yang memerlukan pertolongan serta siap memaafkan kesalahan orang lain tanpa orang yang bersalah lebih dahulu meminta maaf. Moral yang diajarkan oleh Yesus adalah perbuatan manusia yang mengasihi sesama manusia yang pasti tidak melanggar hukum.

Alquran memang beda. Alquran tidak mengajarkan moral tetapi mengajarkan akhlak yaitu perbuatan baik yang sesuai dengan kehendak Allah SWT. Akhlak tidak berpusat pada kemuliaan manusia tetapi pada kemuliaan Allah SWT. Untuk melihat perbedaan antara moral yang berpusat pada kemuliaan manusia dibandingkan dengan akhlak yang berpusat pada kemuliaan Allah SWT, mari kita pelajari isi Alquran yang berkaitan dengan sikap hidup yang harus dijalankan oleh mereka yang menjadikan Alquran sebagai pegangan hidup.

Berikutnya, untuk menyederhanakan, Allah SWT ditulis Allah saja.

Agar Anda dapat lebih mudah memahami isi tulisan berikut, ada baiknya dibaca dua tulisan yang mendahului tulisan ini, yaitu:

  1. Alquran menurut Alquran, silahkan klik DI SINI
  2. Muhammad menurut Alquran, silahkan klik DI SINI

Bab 2. Menyembah Allah

Bahwa Allah di dalam Alquran minta disembah disebutkan di dalam ayat Thaahaa (20):14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Permintaan disembah tidak hanya dicantumkan di satu ayat, berikut masih ada 28 ayat yang menyatakan bahwa Allah minta disembah atau harus disembah.

Al Baqarah (2):21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
.
Maryam (19):65. Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?
.
Fushshilat (41):37. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.
.
Al Mu’min (40):65. Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
.
Huud (11):123. Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.
.
An Najm (53):62. Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).
.
Al Mu’min (40):14. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).
.
Az Zumar (39):15. Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
.
Az Zumar (39):2. Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.
.
Al ‘Ankabuut (29):56. Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.
.
Al ‘Ankabuut (29):17. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.
.
Al Mu’minuun (23):32. Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).
.
Al Hajj (22):77. Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
.
Al Anbiyaa’ (21):92. Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.
.
Al Anbiyaa’ (21):25. Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”
.
An Nahl (16):36. Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
.
Al Hijr (15):97. Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
.
Huud (11):84. Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).”
.
Huud (11):61. Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”
.
Huud (11):50. Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.
.
Yunus (10):3. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
.
Al A’raaf (7):29. Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.” Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya).”
.
Al An’aam (6):102. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.
.
Al Maa’idah (5):117. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
.
An Nisaa’ (4):36. Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
.
Ali ‘Imran (3):51. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”
.
Al Maa’idah (5):72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

Selanjutnya masih ada 8 ayat yang menyatakan bahwa Allah juga meminta disembah kepada umat yang terdahulu. Di ayat berikut Allah mengutus Nuh agar menyerukan menyembah Allah padahal cerita Nuh berasal dari Dongeng bangsa Messopotamia yang diambil oleh bangsa Israel lalu dimasukan ke dalam Taurat.

Al Mu’minuun (23):23. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”

Berita tersebut diulangi pada ayat Al A’raaf (7):59. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

Berita bahwa Allah minta disembah juga terjadi pada jaman Ibrahim dan beberapa kaum lainnya seperti tertuang di ayat-ayat berikut.

Al ‘Ankabuut (29):16. Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
.
An Naml (27):45. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah.” Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan.
.
Al A’raaf (7):73. Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.”
.
Al ‘Ankabuut (29):36. Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan.”
.
Al A’raaf (7):85. Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”
.
Al A’raaf (7):65. Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

Di samping Allah minta disembah, Alquran juga menyebutkan tentang permintaan taat kepada Nuh seperti dijelaskan di dalam ayat Nuh (71):2-4. Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.”

Alquran juga mencantumkan ayat serupa yang memerintahkan taat kepada Isa. Padahal dalam cerita Yesus, orang yang tidak berterima kasih setelah disembuhkan dari sakit kusta tidak dimarahi bahkan Yudas Iskariot yang menjadi penghianat juga dibiarkan. Perhatikan ayat berikut:

Az Zukhruf (43):63-64. Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku.” Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.

Dua ayat di atas menjadi alasan dilantunkan ayat-ayat yang memerintahkan untuk taat kepada Muhammad. Tiga ayat berikut adalah sebagian dari ayat-ayat yang memerintahkan untuk taat kepada Muhammad.

Al Maa’idah (5):92. Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.
.
At Taghaabun (64):12. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.
.
Asy Syu’araa’ (26):107-108. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Bab 3. Akhlak Mulia

Akhlak mulia menurut Alquran bukan sikap hormat kepada sesama manusia tetapi taqwa kepada Allah yang berarti mampu bersikap sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah yaitu selain menyembah Allah juga melaksanakan segala keinginan Allah. Akhlak mulia dijelaskan di dalam ayat Al Hujuraat (49):13. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.

Mereka yang mau memenuhi permintaan Allah yaitu menyembah-nyembah Allah disebut sebagai orang yang beriman dan sebagai balasan terhadap orang beriman, segala dosa akan diampuni dan segala kesalahan akan dihapuskan, selain itu dilepaskan dari azab yang pedih serta siksa neraka. Janji itu dijelaskan di dalam ayat-ayat berikut.

Al Ahqaaf (46):31. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.
.
Al ‘Ankabuut (29):7. Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
.
Ali ‘Imran (3):16. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”
.
Ali ‘Imran (3):193. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.

Kepada orang yang selain beriman juga bertaqwa kepada Allah, balasannya akan ditambah, yaitu dijauhkan dari kesalahan serta mendapat karunia yang besar seperti dijelaskan di dalam ayat Al Anfaal (8):29. Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Mereka yang beriman serta bertaqwa kepada Allah dan juga mau mencintai Allah dan bersedia mengikuti Muhammad maka Allah di samping mengampuni dosa-dosanya juga akan mencintainya seperti dijalaskan di dalam ayat Ali ‘Imran (3):31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Mereka yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, mencintai Allah, bersedia mengikuti Muhammad dan juga mau taat kepada Allah dan Muhammad, balasannya ditambah lagi yaitu mendapat kemenangan yang besar seperti dijelaskan di dalam ayat Al Ahzab (33):70-71. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Akhlak Mulia dalam memenuhi kebutuhan hidup

Tidak ada satu pun ayat di dalam Alquran yang mengajarkan mendapatkan hidup dari sumber yang halal seperti mendapatkan hasil panen yang baik. Sumber hidup yang dijelaskan di dalam Alquran adalah harta rampasan seperti yang dijelaskan di dalam ayat Al Anfaal (8):69. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Banyak Muslim menyangka bahwa harta rampasan yang dihalalkan didapat karena Muslim diperangi lalu balas memerangi lalu mendapat rampasan perang. Pemahaman seperti itu keliru karena perintah yang ada di dalam Alquran adalah “Perangilah” seperti tertulis di ayat Al Baqarah (2):193. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Dengan adanya perintah “Perangilah” maka harta rampasan bukan hasil sampingan dari perang melainkan menjadi tujuan dari perang. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya masalah dalam pembagian harta rampasan seperti diungkap di dalam ayat Al Anfaal (8):1. Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”

Walaupun mereka sudah menyatakan taat kepada Allah dan Rasul-Nya tetapi jawaban terhadap masalah rampasan tersebut tidak memuaskan. Lalu muncul tuduhan kepada Muhammad dan tuduhan tersebut direkam di dalam ayat Ali ‘Imran (3):161. Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.

Jawaban tersebut tetap tidak memuaskan. Lalu dijelaskan rencana memanfaatkan harta rampasan tersebut seperti tertulis di dalam ayat Al Hasyr (59):7. Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Beriman, bertaqwa, dan taat saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah harta rampasan sampai akhirnya ditentukan bagian yang pasti untuk Allah dan Rasul-Nya dan bagian yang pasti untuk para pengikut seperti yang direkam di dalam ayat Al Anfaal (8):41. Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tidak cukup hidup dari harta rampasan, akhlak mulia dalam memenuhi kebutuhan hidup dikembangkan dengan meminta uang keamanan yang disebut jizyah yang tertuang di dalam perintah perang di dalam ayat At Taubah (9):29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Bukti bahwa perang yang dilakukan bertujuan mendapatkan rampasan diperkuat pada ayat Al Fath (48):20. Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.

Akhlak Mulia dalam ber-Zakat

Hidup dari rampasan menjadi tidak nyaman lalu dilantunkan ayat Zakat sebagai jalan untuk mensucikan harta yang tidak halal. Zakat berbeda dengan persepuluhan dalam tradisi Israel, karena persepuluhan dipungut dari hasil panen atau dari hasil keringat sedangkan Zakat dipungut dari harta yang bisa jadi sumbernya adalah rampasan. Ketentuan Zakat dijelaskan di dalam ayat At Taubah (9):103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sepintas Zakat digunakan untuk orang miskin tetapi sesungguhnya juga untuk menjaring mu’allaf seperti dijelaskan di dalam ayat At Taubah (9):60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Yang berhak menerima zakat ialah:

  1. Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.
  2. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
  3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
  4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
  5. Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
  6. Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
  7. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.
  8. Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Akhlak Mulia dalam menghadapi pencuri

Harta rampasan dihalalkan tetapi mencuri termasuk tindakan yang tidak berakhlak dan harus dihukum dengan hukuman yang melampuai batas kemausiaan, yaitu dipotong tangannya seperti dijelaskan di dalam ayat Al Maa’idah (5):38. Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Akhlak Mulia terhadap perempuan

Alquran tidak mengajarkan menikah berdasarkan saling mencintai bahkan juga tidak mengajarkan menikah atas dasar saling menghormati. Dasar menikah yang dijelaskan di dalam Alquran adalah pemenuhan kebutuhan seksual laki-laki. Contohnya, Muslim dilarang mengawini wanita bersuami kecuali budak perempuan, seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Di ayat di atas selain dihalalkan mengawini budak perempuan yang sudah bersuami juga dihalalkan menikmati perempuan dengan jalan membayar dan pembayaran-(mahar)nya dilakukan setelah perempuan itu dinikmati.

Alternatif lain jika tidak cukup uang untuk membayar mas kawin wanita merdeka, dihalalkan mengawini budak yang ada di rumah sendiri seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):25. Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Alquran juga tidak mengajarkan membangun rumah tangga bahagia di mana satu laki-laki hidup bersama satu perempuan. Alquran mengajarkan, jika uang yang dimiliki sudah cukup untuk mengwini wanita merdeka dan ternyata pemuasan kebutuhan seks tidak dapat dicukupi dengan satu istri, Alquran membolehkan mencari tambahan istri hingga berjumlah empat. Jika keinginan menambah istri disertai rasa takut tidak dapat berlaku adil, jalan keluar yang diberikan Alquran adalah mencari tambahan istri dari budak yang dimiliki seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Ketika Muhammad sudah mempunyai empat istri ternyata masih tidak cukup untuk memuaskan nafsu seksualnya lalu anak angkatnya disuruh menyelesaikannya keperluannya terhadap istrinya. Perempuan itu disuruh pindah ke ranjang bapak angkat sehingga jumlah istri Muhammad menjadi lima dan persoalan pindah ranjang tersebut dilakukan atas persetujuan Allah seperti dijelaskan di dalam ayat Al Ahzab (33):37. Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

Setelah mempunyai banyak istri tentu perlakuan terhadap istri-istri harus disesuaikan dan istri-istri boleh dijadikan sebagai tempat bercocok-cocok seperti dijelaskan di dalam ayat Al Baqarah (2):223. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

Mengelola banyak istri memang tidak mudah dan jika ada salah satu yang diragukan kesetiannya, wanita itu harus dipisahkan dari yang lain lalu dipukul seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):34. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Wanita yang harus hidup bersama istri-istri lain untuk mengabdi pada satu suami, mungkin saja menjadi tidak setia dan jika ketidaksetiaan itu teruangkap maka wanita itu harus dikurung sampai mati seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):15. Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya.

Bab 4. Musuh Allah

Semua orang yang tidak bersedia menyembah-nyembah Allah dijadikan musuh Allah dan semua Muslim dilarang menjalin pertemanan dengan musuh Allah seperti dijelaskan di dalam ayat Al Mumtahanah (60):1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

Mereka yang dijadikan musuh Allah disebut kafir seperti dijelaskan di dalam ayat Al Baqarah (2):98. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.

Tidak mau menyembah-nyembah Allah adalah dasar utama untuk menentukan kekafiran seseorang. Di samping itu ada beberapa tindakan yang akan menambah kekafiran menurut pandangan Allah seperti dijelaskan di dalam ayat-ayat berikut.

An Nisaa’ (4):48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
.
An Nisaa’ (4):116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
.
An Nisaa’ (4):50. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).
.
An Nahl (16):24-25. Dan apabila dikatakan kepada mereka “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu”,(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.
.
Ali ‘Imran (3):11. (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.
.
Thaahaa (20):100-101. Barangsiapa berpaling dari pada Al qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat,
.
Yunus (10):17. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.
.
Al Maa’idah (5):49. dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Anggota keluarga

Siapa yang harus dimasukkan sebagai musuf Allah bisa jadi anggota keluarga sendiri seperti dicontohkan dalam hubungan Ibrahim dengan ayahnya yang tercantum di dalam ayat At Taubah (9):114. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.

Bab 5. Akhlak Mulia dalam menghadapi kafir

Cara Allah memperlakukan kafir setelah mati dijelaskan di dalam Alquran dan sikap Allah tersebut menjadi contoh bagi Muslim dalam pembentukan akhlak mulia ketika menghadapi kafir yang masih hidup di dunia. Semua kafir yang sudah berstatus sebagai musuh Allah akan dimasukkan ke dalam neraka seperti dijelaskan di dalam ayat Fushshilat (41):19. Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah di giring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya.

Sekali masuk neraka, musuh-musuh Allah tidak mungkin dapat keluar lagi seperti dijelaskan di dalam ayat Fushshilat (41):28. Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami.

Bersikap keras

Akhlak mulia yang paling dasar yang harus diperlihatkan oleh Muslim ketika menghadapi kafir adalah berjihad dengan menunjukkan sikap keras seperti diperintahkan di dalam ayat At Taubah (9):73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.

Berjihad dengan bersikap keras juga diartikan memerangi dengan bersikap keras seperti dijelaskan di dalam ayat At Tahrim (66):9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Memerangi kafir dengan bersikap keras dimulai dengan memerintahkan nabi, seperti dijelaskan di dalam ayat At Tahrim (66):9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Kafir yang harus diperangi dengan bersikap keras harus dimulai dari orang-orang yang ada di sekitar seperti dijelaskan di dalam ayat At Taubah (9):123. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.

Menghinakan

Akhlak mulia yang lebih keras dari bersikap keras adalah menghinakan seperti diperintahkan di dalam ayat Al Hajj (22):18. Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Menghinakan kafir bukan hanya berlaku di dunia tetapi setelah mati pun kafir akan dihinakan di neraka seperti dijelaskan di dalam ayat Asy Syuura (42):45. Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang- orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal.

Menentang Allah dan Rasul-Nya serta menyombongkan diri termasuk tindakan kafir yang harus dibalas dengan menghinakan seperti dijelaskan di dalam ayat Al Mujaadilah (58):20. Sesungguhnya orang-orang yang menetang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. Dan ayat Al Mu’min (40):60. Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Menajiskan

Kata najis sesungguhnya diperuntukan bagi benda-benda yang kotor tetapi orang yang berakhlak mulia ketika menghadapi kafir harus berani menajiskan manusia yang dituduh menjadi musuh Allah seperti dijelaskan dalam ayat At Taubah (9):28. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Mereka yang sudah menjadi penyembah Allah kemudian berpaling juga termasuk yang harus dinajiskan, seperti dijelaskan di dalam ayat At Taubah (9):95. Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

Allah sangat takut disekutukan, karena itu akhlak mulia juga harus termasuk keberanian menajiskan berhala-berhala yang menjadi saingan Allah sebagai objek yang disembah. Menajiskan berhala dijelaskan di dalam ayat Al Hajj (22):30. Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.

Untuk memudahkan membangun akhlak mulia dalam menghadapi kafir, Alquran mengajarkan cara melihat kafir yang sedang makan yaitu seperti melihat binatang sedang makan. Hal itu dijelaskan di dalam ayat Muhammad (47):12. Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.

Tidak cukup memandang kafir yang sedang makan seperti binatang yang sedang makan, akhlak mulia yang lebih tinggi harus mampu melihat kafir seperti melihat binatang. Hal itu dijelaskan di dalam ayat Al Anfaal (8):55. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.

Memerangi

Jika bersikap keras, menghinakan, dan manajiskan kafir masih tidak berhasil membuat kafir berhenti dari kekafirannya maka akhlak mulia harus ditingkatkan dengan memerangi secara fisik seperti diperintahkan di dalam ayat Al Anfaal (8):39. Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Agar lebih bersemangat memerangi kafir secara fisik, mereka yang berakhlak mulia harus melihat kafir sebagai kawan dari setan seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):76. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.

Orang yang berakhlak mulia harus percaya bahwa di dalam memerangi kafir mendapat dukungan dari Allah seperti dijelaskan di dalam ayat At Taubah (9):14. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.

Perintah memerangi kafir adalah sesuai dengan ajaran agama yang lurus seperti dijelaskan di dalam ayat At Taubah (9):36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Membunuh

Jika sudah sampai berani memerangi kafir secara fisik, orang yang berakhlak mulia harus berani membunuh kafir. Membunuh kafir dicontohkan oleh Muhammad ketika melakukan pengusiran terhadap Yahudi di Yatrib, dua suku pertama berhasil diusir tanpa boleh membawa harta benda mereka dan suku ketiga dibunuh. Pembunuhan itu direkam di dalam ayat Al Ahzab (33):26. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.

Membunuh yang boleh dilakukan oleh orang yang berakhlak mulia hanya terhadap kafir karena membunuh mukmin dilarang seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):92. Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Orang yang berakhlak mulia harus dapat membedakan jiwa yang dihalalkan dibunuh dan jiwa yang diharamkan dibunuh seperti dijelaskan di dalam ayat Al Israa’ (17):33. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

Jika terjadi pembunuhan dengan sengaja terhadap mukmin maka pembunuhan tersebut akan ditangani oleh Allah dengan memasukkan pelakunya ke neraka jahanam seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.

Salah satu alasan pembunuhan yang dihalalkan adalah membunuh mereka yang melakukan fitnah karena sesungguhnya fitnah menurut Allah lebih kejam dari membunuh. Hal itu dijelaskan di dalam ayat Al Baqarah (2):191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

Membunuh kafir dalam jumlah banyak tentu harus diperhitungkan waktunya, jika sudah datang waktu yang tepat, pembunuhan itu dapat dilaksanakan seperti dijelaskan di dalam ayat At Taubah (9):5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Orang yang berakhlak mulia juga harus waspada terhadap lingkungannya sendiri, jika melihat ada potensi mengajak menjadi kafir dari lingkungan sendiri maka diambil tindakan dengan jalan membunuh seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):89. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,

Menghadapi golongan lain juga harus waspada. Jika golongan lain tersebut berpura-pura bersahabat padahal hanya mencari selamat, maka tindakan menawan lalu membunuh juga dihalalkan seperti dijelaskan di dalam ayat An Nisaa’ (4):91. Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Orang yang berakhlak mulia tidak boleh ragu untuk membunuh kafir karena jiwanya sudah dibeli oleh Allah dengan imbalan mendapat surga seperti dijelaskan di dalam ayat At Taubah (9):111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Menyiksa

Walaupun sudah banyak kafir yang dibunuh ternyata masih banyak yang tetap mempertahankan kekafirannya bahkan tidak sedikit yang kembali menjadi kafir, karena itu orang yang berakhlak mulia harus berani memancung leher kafir seperti dijelaskan di dalam ayat Muhammad (47):4. Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Untuk memberikan efek jera agar yang sudah berani meninggalkan kekafiran tidak kembali menjadi kafir, mereka yang mempunyai akhlak mulia harus berani melakukan penyiksaan terbuka yang dipertontonkan, dan jalan untuk melakukan penyiksaan dibukakan oleh Allah seperti dijelaskan di dalam ayat Al Anfaal (8):12. (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Contoh penyiksaan abadi di dalam neraka diberikan oleh Allah sehingga semua Muslim yang ingin mencapai tahap akhlak paling mulia dapat menerapkan contoh tersebut kepada para kafir yang masih hidup di dunia. Contoh-contoh penyiksaan abadi oleh Allah dijelaskan pada ayat-ayat berikut.

Ali ‘Imran (3):10. Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka,
.
Al Hajj (22):8. Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya, dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar.
.
Al Hajj (22):22. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini.”
.
Al Buruuj (85):10. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.
.
Al Humazah (104):5. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.
.
Al Anfaal (8):50. Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).
.
An Nisaa’ (4):56. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Bab 6. Uji kebenaran

Dari apa yang sudah diuraikan menjadi jelas bahwa Alquran tidak mengajarkan moral dalam pengertian perilaku baik seperti yang dipahami masyarakat. Tulisan ini membuktikan bahwa Alquran mengajarkan akhlak mulia yang sama sekali berbeda dengan moral karena dasar dari akhlak mulia adalah kehendak Allah SWT yang berperilaku bukan hanya tidak bermoral serta tidak berperikemanusiaan bahkan tidak berperadaban. Pembentukan akhlak mulia berdasarkan Alquran bukan hanya merusak kepribadian seseorang tetapi juga dapat menghancurkan peradaban bangsa.

Atas kesimpulan tersebut, pasti banyak yang tidak percaya atau setidaknya meragukan kebenaran isi tulisan ini. Karena itu, harus ditindaklanjuti dengan melakukan uji kebenaran secara terbuka dan melibatkan masyarakat luas. Pertama yang harus diuji adalah apakah ayat-ayat Alquran yang dikutip valid. Kedua apakah ayat-ayat yang digunakan secara keseluruhan mewakili kebenaran Alquran. Ketiga dilakukan uji empiris, salah satu cara yang dapat ditempuh, membandingkan akhlak yang paling mulia menurut Alquran dengan perilaku ISIS.

Jika benar bahwa perilaku ISIS adalah representasi yang paling tepat tentang akhlak paling mulia yang diajarkan oleh Alquran pasti masih akan memunculkan pertanyaan karena mudah dilihat bahwa tidak semua Muslim berperilaku seperti ISIS bahkan lebih banyak Muslim yang berprilaku baik. Adanya Muslim yang berperilaku baik harus dijelaskan penyebabnya.

Kita ketahui bahwa Muslim yang baik memengang Alquran yang sama dengan Muslim ISIS, sehingga dapat dikatakan bahwa adanya Muslim yang baik bukan karena ada perbedaan dalam Alquran yang digunakan. Untuk melihat di mana perbedaannya dapat diungkap kasus video porno yang menimpa Nazril Irham atau yang dikenal dengan nama Ariel yang divonis penjara 3 tahun 6 bulan pada tanggal 31 Januari 2011. Pada waktu digelar sidang di Pengadilan Negeri Bandung sejumlah anggota Ormas Islam berteriak-teriak agar Ariel dijatuhi hukuman yang berat. Para anggota ormas tersebut dengan tepat meneriakkan suara Allah SWT yang membenci kafir seperti dijelaskan di Alquran. Di dalam bukunya yang diterbitkan kemudian diceritakan bagaimana Ariel sholat di dalam penjara. Ini menunjukkan bahwa Ariel melihat Tuhan yang berbeda dibandingkan dengan para anggota ormas yang meneriakkan agar Ariel dihukum berat. Tuhan yang ada di kepala Ariel pasti bukan Allah SWT yang tidak berperadaban. Ada kemungkinan Tuhan yang dilihat Ariel adalah Tuhan Yang Maha Baik, yaitu Tuhan yang sama dengan Tuhan Yang Maha Esa menurut Pancasila, Tuhan yang tidak memerintahkan penggal kepala kafir. Kesalahannya Ariel sholat mengikuti perintah Allah SWT tanpa menyadari bahwa Tuhan Yang Baik atau Tuhan Yang Maha Esa menurut Pancasila tidak minta disembah. Kesalahan yang dilakukan Ariel juga terjadi pada kebanyakan Muslim yang baik yang jumlahnya banyak.

Bahwa banyak Muslim memegang Alquran yang sama dan terbukti dapat menjadi orang yang baik jangan dijadikan pembenaran untuk membiarkan Alquran dijadikan dasar mengajarkan akhlak mulia karena orang-orang yang sudah menjadi penyembah Allah SWT sangat mudah diajak meningkatkan kualitas akhlaknya sehingga berani melakukan jihad di jalan Allah SWT. Fakta menunjukkan bahwa teroris Islam kebanyakan datang dari keluarga Muslim baik-baik karena itu kesalahpahaman yang dialami oleh Muslim baik-baik harus dijelaskan di mana letak salahnya dengan jalan mengajak mereka membaca Alquran dengan benar.

Di luar kelompok Muslim baik yang disebabkan karena salah paham tentang Allah SWT, ada juga Muslim yang menjadi baik atau sementara berpura-pura baik karena kesempatan untuk mengekspresikan akhlak mulia seperti yang diajaran oleh Alquran belum ada atau sudah terbatas.

Untuk menjelaskan bahwa kesempatan yang terbuka bagi Muslim untuk mengeksprsikan akhlak mulia menurut ajaran Alquran menjadi terbatas, kita dapat membuka kembali kasus yang dialami oleh Arswendo Atmowiloto yang terpaksa mendekam di dalam penjara selama 5 tahun sejak tahun 1990. Jika masalah itu terjadi sekarang, hampir dapat dipastikan kasusnya tidak akan disidangkan di pengadilan, mungkin cukup dengan permintaan maaf secara terbuka. Artinya masyarakat Indonesia sudah berubah, masyarakat Indonesia tidak mau lagi memberi ruang kepada Muslim untuk mengekspresikan akhlak mulia seperti yang diajarkan oleh Alquran, masyarakat sudah memahami bahwa segala persoalan harus diselesaikan berdasarkan hukum yang berlaku sehingga pengadilan sesat seperti yang dialami oleh Arswendo, kecil kemungkinannya akan terulang lagi.

Contoh lain bahwa Muslim tidak lagi leluasa memperjuangkan keinginan Allah SWT dapat dilihat dari perbedaan sikap NU yang sekarang dibandingkan dengan NU pada saat sidang Konstituante digelar. Pada waktu itu NU menuntut agar Piagam Jakarta dimasukkan sebagai bagian dari UUD. Tetapi sekarang tidak ada lagi orang NU yang mau memperjuangakan negara Islam. Perubahan sikap NU bukan karena Alquran berubah karena Alquran tidak pernah berubah dan tidak akan pernah berubah, melainkan yang berubah adalah situasi politik yang tidak lagi memberi ruang bagi siapa pun untuk memperjuangkan negara Islam. Namun demikian tidak berarti bahwa peluang mendirikan negara Islam di Indonesia sudah tidak ada lagi. Selama Alquran masih digunakan seperti sekarang, keinginan mendirikan negara Islam tidak akan pernah padam melainkan menunggu datangnya kesempatan seperti yang terjadi di Afganistan di mana ketidakstabilan politik yang berkepanjangan ahirnya membuka peluang bagi Taliban untuk mengambilalih kekuasaan. Hal yang sama akan terjadi di Indonesia jika terjadi ketidakstabilan politik yang berkepanjangan.

Sementara bahaya ajaran akhlak mulia di dalam Alquran masih hidup seperti api di dalam sekam, pemerintah sekarang disibukkan dengan penanggulangan bahaya teroris Islam dan belakangan ditambah dengan adanya sejumlah orang Indonesia yang bergabung menjadi pengikut ISIS. Menghadapi masalah tersebut, Wakapolri mengatakan bahwa selama mereka tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum, polisi sulit mengambil tindakan pencegahan. Pernyataan tersebut memang banar, orang yang meledakkan bom jelas melanggar hukum dan pelakunya dapat ditangkap oleh polisi tetapi orang yang mengaji melantunkan ayat-ayat Alquran tidak termasuk kegiatan yang melanggar hukum malah dianggap kegiatan yang mendatangkan pahala padahal dasar tindakan meledakkan bom adalah akhlak mulia yang diajarkan di dalam Alquran.

Selama ini kegiatan mengaji dianggap mendatangkan pahala hanya karena yang mengaji tidak paham arti ayat yang dilantunkannya. Perhatikan ibu-ibu yang mengaji Alquran sampai khatam, tidak menyadari bahwa ayat yang dilantunkannya merendahkan perempuan seperti ayat QS 2:223 tentang memperlakukan wanita sebagai tempat bercocok-cocok. Guru agama di sekolah tidak menyadari bahwa Alquran yang diajarkannya mendorong tindak perampasan. Walau ada kasus murid menjadi begal motor, tetap tidak mau dicoba dilihat ada korelasi antara ayat Alquran yang dibaca murid dengan tindakan kejahatan tersebut, padahal sangat mungkin ayat yang dibaca oleh murid adalah ayat QS 8:69 halal makan rampasan.

Selama masih banyak yang percaya bahwa mengaji mendatangkan pahala, tentu tidak mungkin pemerintah melarang mengaji atau polisi menetapkan bahwa menyebarkan ajaran Alquran adalah tindakan kriminal. Pada tahun 1923 Kemal Ataturk di Turki mungkin sudah menyadari bahaya yang ditumbulkan oleh Alquran tetapi tidak berani melarang mengaji Alquran dan yang dilakukan hanyalah membuat negara Turki menjadi negara sekuler. Status negara sekuler tersebut sudah berlangsung hampir satu abad tetapi terbukti tidak menihilkan bahaya yang ditimbulkan oleh Alquran, Turki sekarang ini malah kesulitan menghadapi ISIS.

Walaupun sudah sangat jelas ada korelasi antara ISIS dengan ajaran Alquran tetapi masih banyak yang ingin mempertahankan Alquran dengan dalih bahwa kekerasan terjadi pada hampir semua kelompok agama. Kenyataan seperti itu tidak dapat dibantah, bahwa dengan mengajarkan moral yang baik sekali pun kejahatan tidak dapat dihapuskan, apalagi jika yang dimasukkan ke dalam masyarakat adalah akhlak mulia sesuai Alquran, kejahatan mungkin akan bertambah-tambah sampai tahap munculnya ISIS. Menghapus kejahatan tidak mungkin dan yang dapat dilakukan hanyalah mengurangi kejahatan tetapi menghapus ajaran jahat sangat mungkin dan harus dilakukan agar kejahatan dapat dikurangi.

Agar bahaya yang ditimbulkan oleh Alquran dapat dihilangkan secara permanen, jalan yang terbaik yang dapat dilakukan pemerintah adalah mengajak seluruh masyarkat memahami isi Alquran yang sebenarnya dan tulisan ini dapat dijadikan permulaan yang perlu ditindaklajuti dengan penyebarluasan agar dibaca oleh sebanyak mungkin orang Indonesia. Di samping itu perlu diselenggarakan diskusi-diskusi terbuka yang dapat memberi pencerahan.

Orang yang menjadi sadar bahwa perintah sholat dikeluarkan oleh Allah SWT yang bukan hanya tidak bermoral dan tidak berperikemanusiaan juga tidak berperadaban pasti akan berhenti sholat setidaknya tidak berani lagi memperlihatkan keterlibatannya dalam menyembah-nyembah Allah SWT. Perempuan yang menjadi sadar bahwa perintah berjilbab dikeluarkan oleh Allah SWT yang mengajarkan ayat bercocok-cocok pasti akan berhenti berjilbab.

Dengan mengajak masyarakat memahami isi Alquran dengan benar akan muncul kesadaran untuk membangun bangsa menjadi bangsa yang tidak lagi mudah dibodohi sehingga Indonesia akan cepat menjadi bangsa yang maju.

Bab 7. Apa yang harus dilakukan?

Jika pemahaman masyarakat tentang isi Alquran yang benar meluas, pasti akan terjadi perubahan yang sangat besar dan agar perubahan tersebut tidak menimbulkan gejolak sosial yang merugikan bangsa dan negara, pemerintah perlu secepatnya membentuk Tim pengendali perubahan yang melibatkan Panglima TNI dan Kapolri.

Tugas Tim yang pertama adalah memfasilitasi diskusi-diskusi terbuka dan penyebaran informasi agar masyarakat cepat dapat memahami isi Alquran yang sebenarnya tanpa menimbulkan gejolak sosial.

Tugas Tim berikutnya adalah penyusun program perubahan agar Madrasah, IAIN, UIN dan sebagainya dapat beralih menjadi lembaga pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat dan para pengajarnya tidak kehilangan pekerjaan. Mereka harus diberi pelatihan atau pendidikan ulang.

Selanjutnya tentu masih banyak yang harus dikerjakan termasuk mengalih-fungsikan masjid dan mushola agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan orang banyak.

Sudah saatnya Indonesia Merdeka dari segala macam penjajahan termasuk penjajahan berkedok agama. Mari kita sambut Indonesia baru yang 100% Merdeka!!! ⦁

Sumber: Six Ways Toward God

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: