Islam Itu Teroris

IndonesianReview.com, Jakarta — Kaum fanatik selalu siap menebar teror di seantero bumi. Mereka ada yang suka mengagungkan kebesaran nama Tuhan sambil menyembelih manusia. Bagi mereka, membantai manusia adalah bagian dari tugas suci.

Menyembelih manusia di depan kamera video lalu disebarkan ke seluruh dunia melalui internet kini menjadi semacam ‘trade mark’ ISIS. Dalam video itu para pelakunya tampak bersuka ria karena yakin apa yang mereka lakukan sesuai dengan titah Allah SWT. Mereka tampaknya percaya, perilaku kebinatangan dilakukan akan memperlancar jalan mereka menuju surga.

Perasaan yang sama tentu juga dimiliki oleh para pejuang Thaliban yang beberapa waktu lalu membantai anak-anak sekolah di Pakistan. Demikian pula dengan para gerilyawan Boko Haram, yang kerap menebar maut dan suka menculik anak-anak gadis di seantero Nigeria. Para pelaku bom bunuh diri, yang juga pernah menghantam Jakarta beberapa tahun lalu, bukanlah pengecualian.

Demikian hebat aksi-aksi menebar maut yang dibuat oleh kaum teroris Islam tersebut, sehingga tak sedikit orang percaya bahwa Islam adalah agama yang identik dengan kekerasan. Bahkan banyak pula yang melihat Islam seperti kanibal. Ini karena hampir seluruh korban dari aksi-aksi teroris Islam adalah orang Islam sendiri, meski para pemimpin mereka kerap menyatakan bahwa musuh utama mereka adalah Amerika dan Yahudi!

Lihat saja di Irak. Sejak tumbangnya rezim Saddam Hussein, peledakan bom di tengah pasar yang sedang di puncak keramaian, membantai orang sedang sholat Jumat, atau meledakkan mesjid menjadi berita rutin. Situasi di Suriah, Afghanistan, Nigeria, Somalia, dan Pakistan kurang lebih sama. Runyamnya lagi, sampai sekarang tak jelas kapan aksi saling bantai di antara sesama umat Islam itu akan berakhir.

Demi kepentingan propaganda bahwa perjuangan mereka sesungguhnya tidak ditujukan kepada sesama umat Islam, mereka suka menangkap orang Barat. Lalu wajah para korban dipertontonkan ke seluruh dunia melalui jaringan TV dan internet sebelum dibantai bagai hewan. Tujuan dari propaganda ini adalah untuk mengesankan bahwa mereka tengah bertempur melawan hegemoni Barat yang sedang menghancurkan dunia Islam.

Sudah terbukti pula, propaganda semacam itu menimbulkan kebencian terhadap Islam alias Islamophobia di Barat, dan non Islam lainnya. Di Jerman misalnya, sejak Desember lalu setiap minggu selalu digelar demontrasi anti Islam. Di Swedia beberapa waktu lalu sebuah masjid dibakar. Di Swiss, sesuai dengan hasil jajak pendapat, pemerintah telah melarang keberadaan menara masjid.

Di Jerman, kelompok anti Islam bernama Pegida bahkan telah mencetak rekor mencengangkan. Kelompok yang baru muncul awal Desember lalu ini, popularitasnya langsung meroket, dan sukses untuk memaksa kaselir Angela Merkel ikut berbicara. Tingginya popularitas Pegida dibuktikan dengan kemampuannya mengerahkan ribuan orang Jerman melakukan demonstrasi anti Islam mingguan di berbagai kota.

Kini para tokoh anti Islam di Eropa tengah merencanakan koferensi pertama anti penyebaran Islam di Paris. Belum jelas kapan konferensi itu akan digelar. Tapi di tengah aksi-aksi berdarah yang makin sering dipertontonkan oleh kelompok-kelompok seperti ISIS, Boko Haram, dan Thaliban tak mengherankan bila konferensi itu akan berdampak sangat negatif terhadap Islam di Eropa. Salah satu isu utama yang akan dikembangkan oleh para perancang konferensi itu adalah ‘Islam itu teroris’.

Para tokoh itu tentu ingin memanfaatkan pembantaian Charlie Hebdo sebagai momentum untuk menggalang dukungan publik. Kenyataan bahwa kasus berdarah itu juga menunjukkan bahwa orang Islam ikut menjaga kemanan Perancis tampaknya bakal dihilangkan. Ingat, polisi Perancis yang ditembak kepalanya oleh penyerang Charlie Hebdo adalah seorang Muslim keturunan Aljazair.

Para pemimpin Islam di Barat sesungguhnya sudah berulang kali mengingatkan bahwa kelompok seperti ISIS, Boko Haram, dan Thaliban tidak mencerminkan apalagi mewakili Islam. Islam, kata mereka, adalah agama cinta damai. Mereka kerap mengungkapkan bahwa ada demikian banyak ayat-ayat suci dalam al-Quran yang menganjurkan cinta-kasih sesama umat manusia, termasuk terhadap kepada mereka yang berbeda agama.

Kesungguhan mereka untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama cinta damai antara lain ditunjukkan oleh para ulama di Michigan. Segera setelah mendengar kabar tentang pemenggalan kepala seorang wartawan Amerika bernama James Foley oleh ISIS pada Agustus lalu, mereka berkumpul di balai kota Dearborn, Michigan. Disana Imam Mohamad Elahi dari Islamic House of Wisdom menegaskan anggota ISIS sebagai “penjahat-penjahat gila yang menyalahgunakan agama kita….kalian cuma sekelompok penjahat…kalian tidak Islami!”

Bagi Presiden Palestina Mahmud Abbas lain lagi. Ia tak ingin gembar-gembor tentang Islam sebagai agama teroris dipakai untuk mengalihkan perhatian masyarakat dunia dari kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina. Apalagi gembar-gembor tersebut telah membangun opini publik di Barat bahwa penjajahan Israel atas Palestina adalah bagian dari upaya menjaga perdamaian dunia. Dengan alasan, Palestina sama dengan bangsa Islam lainnya, yaitu penyuka kekerasan.

Demi rakyatnya dan mengingatkan dunia bahwa terorisme tak hanya didominasi oleh orang-orang Islam garis keras, Mahmud Abas kini menanti hasil usahanya mendaftarkan Palestina menjadi anggota International Criminal Court (ICC) PBB. Pendaftaran ini dilatarbelakangi pembantaian besar-besaran dan berulang-ulang terhadap anak-anak, orang jompo, pasien rumah sakit, dan kaum sipil tak besenjata Palestina oleh Israel. Kekejaman ini terjadi karena Israel suka menggempur sasaran sipil dalam operasi militer di Palestina dan Lebanon.

Kesungguhan Abbas juga didukung oleh kenyataan bahwa tak cuma otoritas Palestina, para aktifis hak asasi manusia juga punya banyak bukti tentang aksi-aksi terorisme Israel. Mereka punya banyak bukti tentang pengeboman rumah sakit, kawasan padat penduduk, atau apartemen di tengah malam hari oleh Israel.

Seperti biasanya, pemerintah Amerika menentang upaya Mahmud Abbas. Washington telah menyatakan pendaftaran Palestina menjadi anggota ICC berdampak buruk terhadap upaya perdamaian Arab-Israel. Israel sendiri kini memberi respon Abbas dengan dengan menghentikan penyerahan hasil pemungutan pajak kepada otoritas Palestina. Artinya, para pegawai negeri dan anggota kabinet Palestina bakal tak terima gaji sampai Israel berubah pikiran.

Selama ini Amerika memang dikenal sebagai sekutu dekat Israel, dan selalu memveto semua resolusi PBB untuk mengecam kekerasan Israel terhadap Palestina. Amerika juga merupakan pemasok senjata dan dana utama bagi Israel, yang membuat militer negara ini superpower di Timur Tengah. Kedahsyatan militer Israel ini telah dibuktikan dalam berbagai pertempuran yang menyebabkan Mesir, Lebanon, dan Suriah kehilangan sebagian wilayah mereka.

Dukungan yang demikian hebat kepada Israel diberikan karena negara ini diperlukan sebagai simbol supremasi Barat mereka terhadap Arab. Melalui keberadaan Israel mereka mau mengatakan kepada dunia bahwa bangsa Arab boleh saja kaya-raya, tapi mereka tetap inferior di hadapan Barat.

Maka tak mengherankan bila sampai hari ini, meski puluhan pertemuan internasional telah digelar, kesepakatan tentang definisi teroris tak pernah tercapai. Terlalu banyak kepentingan di balik upaya pendefinisian tersebut, membuat teroris bagi sebuah bangsa malah bisa dianggap pahlawan bagi yang lain.

Dalam konteks Islam, pesaingan antara Arab Saudi dan Iran juga menjadi faktor utama kenapa perang terhadap terorisme selalu memakai standar ganda. Arab Saudi yang Islam Suni, kini menjadi pendukung utama pasukan pemberontak melawan rezim Presiden Hafez al-Assad. Inilah mengapa di daerah-daerah yang dikuasai pemberontak, diberlakukan hukum Islam ala Arab Saudi. Kini banyak kubu pemberontak Suriah melebur ke dalam ISIS karena kesamaan tujuan, yaitu mendirikan negara Islam sejati: Kekhalifahan.

Sebaliknya, Iran mendukung habis-habisan Hafez al-Assad karena sama-sama beraliran Syiah. Iran tentu juga merasa berkewajiban melindungi kaum Syiah di Suriah. Rusia, yang sedang berbulan madu dengan Iran dalam bisnis Migas dan senjata, pun berada di pihak yang sama dengan Hafez al-Assad. Apalagi rezim ini juga sudah lama menjadi sekutu Rusia di bidang militer.

Dalam konflik di Suriah dan Irak, yang dipicu persaingan Syiah-Suni ini, pembantaian terhadap penduduk sipil tak terhindarkan bahkan banyak yang disengaja. Masing-masing pihak pun menuding lawan sebagai teroris.

Di tengah kondisi seperti ini tentu tak gampang memerangi terorisme. Apalagi sejarah sudah lama mencatat, kebencian yang dilandasi oleh sentimen agama bisanya lebih berlarut-larut dan berdarah-darah. Indonesia sendiri mengalami ketika dua kelompok berbeda agama saling bantai selama bertahun-tahun di Poso dan Ambon. Sedangkan Eropa pernah dibuat berdarah-darah dalam perang Katolik-Protestan.

Dalam sebuah colloquium tentang hubungan Islam dan Yahudi, seorang pakar terorisme dari Inggris Paul Wilkinson menyebutkan, sekitar 20% kasus serangan teroris internasional, yang terkait dengan meningkatnya kekejaman terorisme, didorong oleh fanatisme keagamaan. Meningkatnya aksi teror yang didorong oleh kelompok-kelompok fanatik keagamaan, menurut catatan Wilkinson, terkait dengan kemajuan di bidang internet.

Peningkatan aksi teror yang cukup mencengangkan, menurut guru besar emeritus hubungan internasional dan mantan direkur St. Andrew Centre for The Study of Terorism and Political Violence itu, dilakukan oleh Aum Shinrikyo di Jepang. Kelompok teroris ini adalah yang pertama menggunakan senjata pemusnah massal dalam aksinya. Pada 1995, Aum Shinrikyo membantai sejumlah penumpang kereta bawah tanah Tokyo menggunakan gas sarin.

Bila ada teroris seperti ISIS suka memarkan kekejaman melalui internet, menurut Wilkinson, pada dasarnya mereka ingin banyak orang menonton aksi mereka, bukan jumlah korban. Tapi, katanya, hal ini hanya berlaku bila para pemimpin mereka masih memiliki kesadaran politik yang waras. Bila aksi tersebut dilandasi oleh fanatisme agama, yang melihat korban sebagai “nonbelievers,” unsur kemanusiaan ya pasti nihil. Bantai! ⦁

Sumber: Indonesian Review

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: