Islam dan Dasar dari Al-Taqiyah

Oleh: Rashid Alamir ⦁

Sebelum kita mulai tentang Muhammad, anda patut mengetahui hal yang terpenting tentang dasar Islam yang disebut “Al-Taqiyah” (juga disebut Al-Takeyyah atau Al-Takeyya atau Taqiyya) dalam Islam.

Banyak orang Yahudi dan Kristen dikelabui sampai percaya (oleh orang Islam) bahwa Muhammad dan Islam bicara begitu hangatnya tentang Yahudi dan Kristen, bahkan memanggil mereka sebagai orang-orang dari kitab. Mereka juga menyatakan kepada orang non Islam di dunia bahwa Islam ingin menjalin hubungan dengan mereka secara baik. Semuanya itu adalah kebohongan belaka. Islam mengizinkan umat Muslim untuk berbohong demi agamanya. Ini adalah ikatan dasar dalam Islam dan yang dinamainya “Al-Taqiyah” (Al-Takeyyah). Umat Muslim memakai prinsip ini untuk berbohong kepada orang kafir yang tidak percaya, dan berkata bahwa Islam adalah agama yang damai, berbicara hangat dengan umat Kristen dan umat Yahudi. Izinkan saya jelaskan lebih lanjut.

Seperti halnya banyak agama-agama, Islam secara umum, melarang berbohong. Alquran berkata,

Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang melampaui batas bagi pendusta. (Surat 40:28)

Bagaimanapun juga, tidak seperti agama-agama lain, di dalam Islam ada ketetapan tertentu yang mana berbohong tidak sekedar ditoleransi, tetapi sesungguhnya dianjurkan oleh Allah.

Al-Taqiyah adalah prinsip Islam tentang berbohong demi Allah. Kepalsuan berbicara untuk mencegah pencemaran Islam, untuk melindungi diri sendiri, atau untuk mempromosikan tujuan Islam yang disetujui oleh Alquran, termasuk berbohong dibawah hukuman atau sumpah, membuat pernyataan yang menyimpang kepada media, seperti mengklaim bahwa Islam adalah agama damai, dan menipu sesama Muslim apabila yang satu berbohong karena menganggap mereka telah ingkar terhadap agama. Dalam kasus demikian, berbohong tidak hanya diizinkan, tetapi sesungguhnya dianjurkan atau diperintahkan Allah. (Inilah dasar lain, mengapa saya katakan bahwa Allah di dalam Islam bukanlah Allah di dalam Alkitab. Dalam sepuluh hukum Taurat dari nabi Musa, Tuhan menyatakan bahwa Anda dilarang berbohong. Tetapi Allah SWT yang adalah anti-thesis dari Yahweh justru berpikir sebaliknya).

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peristiwa dalam kehidupan Muhammad. Ia sering berdusta dan memberikan instruksi yang sama kepada pengikutnya. Ia memperlakukan dengan cara yang dapat diterima bahwa prospek untuk sukses dalam misi memperluas pengaruh Islam mengesampingkan dahulu larangan berbohong.

Contoh yang baik dari dusta-suci terdapat dalam sebuah kisah nyata tentang pembunuhan Kaab Ibn al-Ashraf, anggota suku Yahudi, Banu al-Nadir. Telah diketahui Muhammad bahwa Kaab menunjukkan dukungan kepada kaum Quraisi dalam peperangan terhadap Muhammad. Tetapi kemarahan Muhammad menjadi-jadi ketika kepadanya dilaporkan bahwa Kaab menyairkan puisi cinta kepada wanita Muslim. Maka Muhammad-pun meminta sukarelawan untuk membebaskan dia dari Kaab Ibn al-Ashraf, dengan alasan bahwa Kaab “melakukan kejahatan terhadap Allah dan Nabinya”. Pada waktu itu Kaab ibn al-Ashraf dengan klan sukunya dalam kondisi kuat, jadi tidak mudah untuk orang asing merembes menjalankan tugas tersebut. Seorang laki-laki Muslim bernama Ibn Muslima, sukarelawan, siap melakukan proyek pembunuhan itu, dengan kondisi bahwa Muhammad mengizinkan dia untuk bersiasat bohong. Dengan persetujuan Muhammad, Ibn Muslima pergi kepada Kaab dan memalsukan cerita yang menggambarkan ketidakpuasan atas kepemimpinan Muhammad. Pada saat ia telah mendapatkan kepercayaan dari Kaab, ia memikatnya untuk keluar dari rumahnya pada suatu malam dan membunuhnya ditempat terpencil dalam kegelapan. Peristiwa ini shahih tertulis dalam Sahih Bukhari (Volume 4 Buku 52 Nomor 270) dan juga di Sirah (Ibn Ishaq:368) dan Tabari VII:97.

Contoh yang sama dapat juga ditemukan dalam cerita tentang pembunuhan Shaaban Ibn Khalid al-Hazly. Ada kabar angin menyatakan bahwa Shaaban telah mengumpulkan pasukan untuk perang terhadap Muhammad. Muhammad membalas dendam dengan memerintahkan Abdullah Ibn Anis untuk membunuh Shaaban. Sekali lagi, untuk melaksanakan hal tersebut, si calon pembunuh itu meminta izin kepada nabi untuk berbohong. Muhammad setuju dan memerintahkan si pembunuh untuk berbohong dengan mengatakan bahwa ia adalah anggota dari kelompok Khaaza. Pada saat Shaaba melihat Abdullah yang datang, ia bertanya “dari kelompok suku manakah kamu?” Abdullah menjawab, “dari Khaaza.” Kemudian ia tambahkan, “Saya mendengar bahwa Anda sedang mempersiapkan pasukan untuk melawan Muhammad dan saya datang untuk bergabung dengan Anda.”

Maka Abdullah mulai berjalan dengan Shaaban dan berkata bagaimana Muhammad datang kepada mereka dengan ajaran bidat tentang Islam, dan mengeluh bagaimana Muhammad mencela para patriarch (leluhur) Arab, serta meruntuhkan pengharapan Arab. Mereka melanjutkan pembicaraan sampai mereka tiba di tenda Shaaban. Shaaban berpisah dengan rekan­rekannya dan ia mengundang Abdullah ke tendanya. Abdullah berada di tenda dan duduk sampai suasana terasa tenang, dan ketika ia merasa bahwa semua orang sudah tertidur, maka Abdullah-pun memenggal kepala Shaaban dan membawanya kepada Muhammad sebagai ‘piala’. Dan ketika Muhammad melihat Abdullah, ia gembira sekali dan berteriak, “Keberanianmu telah berhasil gemilang.” Abdullah menyambut dan berkata, “Itulah keberanianmu, nabi Allah, yang telah berjaya.”

Di sejumlah bagian-bagian tulisan dari Sunnah dan juga dari Alquran jelas­jelas memperlihatkan bahwa pendustaan Muslim yang tidak disengaja dapat dimaafkan, dan bahkan sekalipun dusta itu dilakukan dengan sengaja, namun mempunyai tujuan-tujuan baik Islamik, maka itupun dapat dilakukan. Bahkan dibawah keterpaksaan yang mengharuskan seorang Muslim melakukan suatu pendustaannya, maka ia diperbolehkan berbohong sekalipun dibawah sumpah dan bahkan menyangkal iman dalam Allah, sejauh mereka tetap memelihara pernyataan imannya di dalam hatinya!

Perkataan Arab, “Taqiyah”, berarti “mencegah”, atau perlindungan terhadap sesuatu. Dasar dari Al-Taqiyah membawa pengertian bahwa umat Muslim diizinkan untuk berbohong, sebagai tindakan pencegahan terhadap antisipasi kejahatan kepada seseorang atau rekan sesama. Atas dasar ini, umat Muslim diberikan kebebasan untuk berbohong dalam keadaan mereka merasa hidup dan agamanya terancam. Umat Muslim diizinkan untuk berkata bohong apa saja sejauh kebohongan itu diucapkan untuk agama Islam. Bahkan mereka pun boleh menyangkal imannya, asalkan mereka tidak bermaksud dalam hatinya.

Umat Islam akan berkata kepada Anda bahwa Al-Taqiyah dipakai hanya untuk membela diri. Tetapi ini sesungguhnya sebuah kemunafikan, jauh dari kebenaran. Tujuan utamanya adalah untuk bisa bermain licin membodohi non-Muslim, agar bisa menerima umat Muslim serta membuktikan bahwa Islam adalah agama besar. Itulah bagaimana Islam telah bertahan 1400 tahun.

Al-Taqiyah didasari dari ayat Alquran sebagai berikut:

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (Surat 3:28)

Menurut ayat ini, seorang Muslim dapat berpura-pura bersahabat dengan orang kafir (dalam melanggar ajaran Islam) dan memperlihatkan kesetiaan dengan orang kafir itu (yang tidak percaya Islam), untuk mencegah agar dia tidak diperlakukan buruk. Di bawah konsep Taqiyah, adalah sah bagi orang Muslim untuk bertindak bertentangan dengan iman mereka. Tindakan berikut ini dapat diterima:

  • Minum anggur, meninggalkan sholat, dan mangkir berpuasa dalam bulan Ramadhan.
  • Meninggalkan kepercayaan kepada Allah.
  • Berlutut dalam menghormati tuhan lain daripada Allah.
  • Mengucapkan sumpah palsu.

Implikasi dari Dasar Al-Taqiyah

Disayangkan, apabila berurusan dengan orang Muslim, seseorang harus ingat bahwa orang Muslim dapat berkomunikasi sesuatu dengan nyata dan sungguh-sungguh, walaupun kenyataannya bertentangan dengan agenda di dalam hatinya. Terus terang dinyatakan disini, bahwa Islam mengizinkan orang Muslim berbohong apa saja bila merasa dirinya atau Islam terancam.

Dalam suasana politik internasional, pertanyaannya adalah: Dapatkah Negara-negara Islam dipercaya untuk memelihara persetujuan yang ditandatangani dengan bangsa-bangsa non Islam sampai akhir? Telah diketahui bahwa dalam praktek Islam, bahwa manakala mereka dalam keadaan lemah, mereka akan setuju dengan apa saja. Pada saat mereka menjadi kuat, mereka meniadakan apa yang telah mereka sepakati. Prinsip ini diformulasikan pertama kalinya oleh Muhammad. Inilah perkataan yang relevan:

Nabi berkata, “Apabila saya bersumpah dan kemudian menemukan sesuatu yang lebih baik, maka saya melakukan apa yang lebih baik dan menebus sumpahku.” (Sahih Bukhari: Vol 7, Buku 67, hadits 427)

Muhammad adalah pionir dalam hal mengingkari sumpahnya. Saat dia lemah, ia akan menerima apa saja. Bila ia telah menjadi kuat lebih dari musuhnya, ia menyerang mereka tanpa pemberitahuan dan tidak peduli dengan persetujuan damai yang sebenarnya sudah ditandatangani dengan mereka.

Dasar dari persetujuan pembohongan disebabkan Islam memikul implikasi persoalan sehubungan dengan perluasan agama Islam di dunia Barat. Para aktivis Muslim bekerja memperdayakan siasat dalam usaha mereka mempolesi kesan Islam dan membuatnya lebih menarik bagi calon petobat Islam. Dengan hati-hati mereka menghindari, atau mengabaikan hal-hal negatif dalam teks-teks Islam dan ajarannya. Mereka proyeksikan Muhammad sebagai juruselamat manusia dengan hati-hati, menghindari dan menyembunyikan caranya yang jahat, dan kekejamannya yang bersifat alami.

Suatu contoh dari penipuan Islamik adalah bahwa aktivis Muslim selalu mengutip ayat-ayat Alquran dari pelayanan Muhammad pada masa lalu waktu ia tinggal di Mekah. Ayat-ayat ini umumnya tenang dan damai, memberikan toleransi kepada mereka yang bukan pengikut Islam. Tetapi sesudah hijrah ke Medina, dibalik semua ayat damai itu, diturunkan dengan penuh kesadaran ayat-ayat kontras Medinah yang mencabut (membatalkan dan mengganti) ayat-ayat lembut Mekah. Ayat-ayat pengganti ini (nasakh) menggambarkan prasangka, intolerant, menyokong kekerasan terhadap orang-orang yang tak percaya.

Dasar dari “Al-Taqiyah” telah datang dan berguna bagi kaum Muslim terutama dalam empat bidang: (1) Untuk menikahi gadis-gadis non-Muslim dengan memakai penipuan tersembunyi. (2) Dalam mengganggu, menganiaya dan membunuh orang kafir di Negara-negara Islam. (3) Dalam memproklamasikan bahwa Islam adalah agama damai. Dan (4) dalam membunuh orang yang ingkar terhadap agama atau murtad dari Islam. Izinkan saya menjelaskan lebih mendetail.

Dasar dari “Al-Taqiyah” dipakai bagi pria Muslim untuk memikat gadis-gadis non-Muslim lalu menikahi mereka. Orang Muslim diizinkan berbohong apabila mereka mencari non-Muslim untuk dinikahi menjadi isteri. Banyak orang Muslim akan menyatakan bahwa mereka tidak ada minat pada agama. Mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan yang menunjukkan tindakan yang dapat dipercaya. Tetapi sesudah gadis itu dinikahi, baru kemudian mereka menunjukkan warna yang sebenarnya. Ambil saja contoh apa yang terjadi di Negara Pakistan. Banyak orang Muslim menyatakan bahwa mereka ingkar terhadap agamanya (tinggalkan Islam). Tujuannya hanya untuk mengambil keuntungan dari banyak gadis-gadis liberal Kristen dan menikmati mereka dengan sepenuhnya tanpa menikahi mereka. Beberapa bahkan sampai berlanjut menikahi gadis-gadis Kristen itu, namun kemudian mereka kembali ke Islam dalam beberapa bulan berikutnya. Pada negara-negara Asia dimana biasanya wanita sangat bergantung kepada suami-suami dalam hal keuangan, dan masyarakat memandang rendah pada wanita-wanita yang telah ditinggalkan oleh suaminya, maka wanita-wanita ini biasanya mudah ditekan atau dipaksa untuk menjadi Islam. Ide yang terbesar dari Islam adalah untuk menikmati wanita-wanita secara seksual tanpa menikahi mereka atau menjadikan mereka Islam.

Dalam garis yang sama, hal diatas juga diikuti oleh orang Muslim India. Di situ, umat Muslim menggunakan “Al-Taqiyah” untuk menikahi gadis-gadis Hindu dan menjadikan mereka beralih kepada Islam, dan hal ini telah terjadi ribuan kali. Mereka mengait gadis-gadis yang tak berdosa dengan bersikap seolah-olah tidak beragama dan atau mempromosikan bahwa mereka bebas beragama sesudah pernikahan; hanya untuk pergi dan melakukan hal yang berlawanan dengan perkataan mereka di kemudian hari. Sekarang Anda mengetahui bahwa begitu banyak dari bintang film dan pemain kricket orang Muslim India menikah dengan gadis-gadis Hindu. Itulah prinsip dari “Al-Taqiyah” dalam aksinya.

Dasar dari “Al-Taqiyah” telah datang dengan cekatan dan berguna bagi umat Islam untuk berbohong maupun mendakwa orang untuk menghujat nabi Islam. Di Pakistan ada hukum yang dipakai untuk mengaibkan kaum minoritas yang disebut Toheen-e-Rasul (Penghinaan terhadap Rasul), pasal mana menentukan kematian bagi siapa saja yang menghina nabi Muhammad. Bahwa “siapapun” yang dimaksud selalu adalah orang Kristen atau orang Hindu di Pakistan tidaklah mengherankan. Betapapun hukum ini dicetuskan untuk ditargetkan kepada kaum minoritas, dan dibawa kedalam kelompok Islam lewat gangguan, penganiayaan, perkosaan dan pembunuhan. Silahkan mencari di Google dan lihat berapa banyak kasus seperti hukuman mati yang dilaporkan dari Pakistan. Yakinlah bahwa 10 kali dari angka kasus ini setidaknya yang tidak pernah dilaporkan. Ratusan orang Kristen telah dihukum mati dalam masa beberapa tahun terakhir ini dengan aksi seperti itu. Apabila seorang Muslim mau menyita tanah atau rumah milik orang Kristen atau orang Hindu, ia memperkosa isteri atau anaknya dan kemudian apa yang dilakukannya? Ia dapat melakukannya dengan menyiasati “Al-Taqiyah” lalu menyatakan bahwa mereka telah menghina nabi. Hanya dengan sekali dusta saja sudah cukup untuk menyeret orang kafir yang tidak percaya ditahan dan dihukum mati. Dalam negara-negara Islam tidak ada keadilan yang bisa diperjuangkan bagi orang minoritas. Perkataan seorang non-Muslim tidak dapat mengancam seorang Muslim di Negara Islam. Ingat, menurut nabi Allah terakhir, Muhammad, berdusta terhadap kafir itu tidak diperhitungkan oleh Tuhan Allah Islam.

Situasinya sangat buruk, bahwa beberapa waktu yang lalu seorang pemimpin Roma Katolik Pakistan, bishop John Joseph, menembak dan membunuh dirinya sendiri sebagai protes terhadap hukuman mati yang dijatuhkan kepada seorang Kristen yang dituduh menghina Muhammad. Setiap tahun ada ratusan orang Kristen dan Hindu yang tak berdosa dihukum mati dengan tuduhan menghina nabi. Inilah wajah sesungguhnya dari cara pemujaan yang kejam terhadap Muhammad yang disebut Islam. Islam seperti kematian – dan bukan kehidupan – bagi orang yang tidak percaya. Kasus seperti itu tidak hanya terjadi di Pakistan saja, tetapi di semua Negara­negara dimana agama Islam berkuasa. Di Negara-negara Islam seperti Mesir, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Sudan dan lain-lain, adalah hal biasa bagi pemuda Muslim menculik gadis-gadis Kristen dan Hindu dimata umum, beramai-ramai memperkosa mereka, dan kemudian menyebarkan cerita bahwa mereka telah beralih menjadi Islam. Gadis-gadis itu tidak lagi terdengar kasusnya. Pengaduan kepada polisipun akan sia-sia. Hal itu hanya akan mengundang masalah baru dari polisi dan pejabat tinggi. Sesungguhnya keadaan buruk kaum minoritas di Negara-negara Islam lebih buruk daripada babi dan anjing. Kebesaran suatu agama dapat dilihat dari bagaimana keadaan hidup wanita dan kaum minoritasnya di daerah dimana agama tersebut itu berkuasa. Dan di daerah Islamnya Muhammad merupakan wilayah pelanggaran yang paling parah. Nanti kita akan melihat bagaimana Islam melakukan pelecehan/penyiksaan terhadap wanita. Kita akan melihat juga bagaimana Muhammad menganggap wanita tidak lain hanya obyek seks dimana Allah terang-terangan menganggap mereka sebagai ladang yang bisa dibajak sesukanya.

Hal yang ketiga dimana “Al-Taqiyah” datang dan berguna bagi orang Muslim adalah dengan membunuh ratusan orang “murtad” setiap tahun. Murtad adalah orang Muslim yang menyadari Kebenaran tentang Muhammad dan kemudian meninggalkan Islam. Biasanya orang-orang seperti ini akan lari jauh meninggalkan rumahnya. Maka keluarganya akan memasang iklan yang besar dan menyatakan “Semua telah dilupakan”, dan meminta kesediaan anaknya untuk kembali pulang. Bahkan mereka akan janjikan kebebasan beragama bagi anaknya. Tetapi apabila anaknya itu pulang, maka itulah neraka baginya (wanita jarang mendapat kesempatan untuk meninggalkan Islam) kecuali jikalau ia beralih kembali ke Islam. Sejarah menjadi saksi bahwa faktanya setiap tahun ratusan orang yang murtad telah disiksa dan dibunuh oleh orang Muslim. Semuanya memakai muslihat “Al-Taqiyah” dan menghormati pembunuhan, sebagai-mana peraturan yang telah diletakkan nabi Muhammad, padahal orang Muslim menyatakan bahwa “ia tidak pernah menyakiti seekor lalatpun”.

Nabi berkata, “Jika seseorang (Muslim) meninggalkan agamanya, bunuh dia.”(Sahih Bukhari: Vol 4, Buku 52, Hadits 260)

Terakhir, “Al-Taqiyah” dipakai orang Muslim untuk menyatakan bahwa Islam agama penuh damai. Orang Muslim siap untuk menyatakan kebohongan apapun, untuk mengelabui orang kafir (non-Muslim) supaya percaya bahwa Islam adalah agama damai. Tujuannya bagi orang kafir untuk mengurangi ketegangan dan menerima kehadiran orang Muslim. Sekali orang kafir itu menerima orang Muslim sebagai mana yang didustakan (seolah ia bagian dari kafir), disitulah dimulai kesempatan bagi orang Muslim memulai aksinya dan menunjukkan warna yang sebenarnya. Di Inggris Raya, satu dari tempat-tempat dimana orang Muslim sudah mulai menunjukkan warna yang sebenarnya. Sekarang ini mereka sudah mencapai populasi 5% di negara ini. Anda tidak perlu menjadi peramal untuk menyadari apa yang akan terjadi bilamana persentasi orang Muslim bertambah. Dan Amerika Serikat akan menjadi target berikutnya.

Sebagai kesimpulan, adalah penting sekali untuk memahami, bahwa umat Muslim dapat menggunakan penipuan untuk mengelabui banyak orang. Dan bahwa apa yang dikatakan aktivis Muslim dalam menyebarkan Islam, tidak selalu benar seluruhnya. [Dr. Patrick Sookhdeo, petobat dari Pakistan sampai berkata: “Much of what is said by Muslims about Islam to non-Muslims is likely to be untrue”, pada umumnya dusta]. Bilamana berurusan dengan umat Muslim, apa yang mereka katakan bukanlah pokok persoalan. Pokok persoalan yang sebenarnya adalah apa yang dimaksud dalam hatinya. ⦁

Sumber: Kebenaran Tentang Muhammad

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • maryamhusna  On 16 June 2015 at 23:41

    Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang melampaui batas bagi pendusta. (Surat 40:28) surah apa ya ?

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: