Muslimah, Buang Saja Jilbabmu

Muslimah berjilbab

Ilustrasi muslimah berjilbab.

Oleh: Taslima Nasrin

Sebelum membaca artikel ini ada baiknya anda baca dahulu Asal Usul Jilbab

Ibuku memakai burqa. Dia memakai burqa dengan jaring yang menutupi wajahnya. Hal ini mengingatkan saya pada tempat daging dirumah nenek. Yang ada pembukanya terbuat dari kain, bidang lainnya dari logam. Tapi tujuannya tetap sama: membuat daging itu aman. Ibuku dipaksa pakai burqa oleh keluarganya yang konservatif. Mereka bilang pakai burqa artinya mematuhi Allah. Dan jika patuh pada Allah, Allah akan senang padamu dan tidak akan membakarmu dineraka. Ibu sangat takut pada Allah dan juga pada ayahnya sendiri. Dia akan mengancam ibu dengan akibat yang mengerikan jika tidak memakai burqa.

Perempuan juga punya dorongan seksual. Jadi kenapa lagi Allah tidak memerintahkan para laki-laki untuk memakai burqa? Jelaslah, Dia memperlakukan mereka secara istimewa.

Ibuku juga takut pada kaum laki-laki dilingkungannya, yang bisa saja membuat dia dipermalukan. Bahkan suaminya sendiri merupakan sumber rasa takutnya, karena dia bisa saja melakukan apapun pada ibu jika tidak patuh.

Waktu kecil, aku suka menggodanya: “Ma, pengap ngga dicadarin gitu? Gelap ngga didalam? Ngga sesak nafas, Ma? Ngga marah digituin? Apa pernah pingin membuang burqa?” Ibuku diam saja. Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk itu. Tapi aku bisa. Waktu umur 16 tahun, aku diberi burqa oleh kerabatku, AKU BUANG BURQA ITU.

Kebiasaan burqa ini bukan hal baru. Telah ada sejak 300 SM. Para perempuan aristokrat keluarga Assyria memakai burqa. Perempuan awam dan pelacur tidak boleh pakai burqa. Dipertengahan abad, bahkan perempuan anglo saxon suka menutupi rambut dan dagu mereka serta menyembunyikan wajah mereka dibalik kain atau benda lain. Sistem Burqa ini jelas bukan hal religius. Burqa religius dipakai oleh biarawati katolik dan mormon, meski yang belakangan hanya memakainya selama upacara dan ritual keagamaan saja. Tapi bagi perempuan muslim, burqa religius demikian tidak dibatasi hanya pada ritual tertentu saja tapi merupakan kewajiban untuk dipakai dalam kegiatan sehari-hari mereka, meski kegiatan itu bukan berada dalam jalur religius. Beberapa bulan lalu, pada puncaknya kontroversi burqa ini, Shabana Azmi mengatakan bahwa Quran tidak bilang apapun tentang pemakaian Burqa. Dia salah!

Ini yang dinyatakan Quran:

QS 24:31
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan kecantikannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung (purdah atau burqa atau jilbab) hingga dadanya, dan janganlah menampakkan kecantikannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui tubuh yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
.
QS 33:59
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

Bahkan hadispun banyak membicarakan ini. Perempuan harus menutupi seluruh tubuhnya jika keluar, mereka tidak boleh pergi dengan lelaki diluar keluarga, mereka tidak boleh ke mesjid untuk baca namaaz, mereka tidak boleh pergi ke penguburan.

Ada banyak pandangan tentang kenapa dan bagaimana purdahnya islam dimulai (purdah adalah sejenis penutup tubuh/aurat perempuan, sejenis burqa atau sejenis jilbab). Satu pandangan mengatakan bahwa Muhammad menjadi sangat miskin setelah semua kekayaan istri pertamanya, Khadijah, habis. Saat itu, di Arab, orang miskin harus ke gurun pasir atau padang rumput jika ingin buang air besar ataupun ingin menyalurkan hasrat seks. Istri-istri Muhammad juga harus melakukan hal sama. Dia bilang pada istri-istrinya bahwa “kuijinkan keluar dan buang hajat”. (Bukhari vol.1, buku 4, no.149). Dan inilah yang dilakukan istri-istrinya. Satu hari, murid Muhammad Uman mengeluh padanya bahwa para perempuan ini merasa tidak nyaman karena mereka sering dikenali/dilihat orang lain ketika buang hajat. Umar menganjurkan penutup tapi Muhammad mengabaikannya. Lalu Muhammad bertanya pada Allah, minta nasehat dan Dia mengeluarkan ayat (33:59) (Bukhari buku 26, no.5397)

Inilah sejarahnya purdah atau burqa atau jilbab menurut hadis. Tapi pertanyaannya adalah: karena pria arab buang hajat ditempat terbuka juga, kenapa Allah tidak memerintahkan purdah atau burqa bagi laki-laki? Jelaslah, Allah islam tidak memperlakukan laki-laki dan perempuan dengan sama, jika tidak pasti ia akan memerintahkan purdah bagi keduanya! Lelaki lebih tinggi status derajatnya dari perempuan. Jadi perempuan harus dijadikan penjara berjalan dan dikarungi, tetapi lelaki bebas seperti burung.

Pandangan lain adalah bahwa purdah diperkenalkan untuk memisahkan para perempuan dari pelayan-pelayan. ini bersumber dari kisah-kisah hadis juga. Satu kisah dari Bukhari: Setelah memenangkan perang Khaibar, Muhammad mengambil alih (baca: merampas) seluruh harta milik musuh, termasuk para perempuannya. Salah satu perempuan jarahan ini adalah Safia. Satu murid Muhammad mengaku tahu status perempuan satu ini. Dia menjawab: “Jika besok kau lihat Safia memakai penutup, purdah, maka dia akan menjadi seorang istri. Jika tidak, artinya aku putuskan untuk menjadikan dia budakku.”

Pandangan ketiga berasal dari kisah ini. Istri Muhammad Aisha sangat cantik. Teman-temannya sering menatapnya dengan horny. Hal ini membuat si Muhammad sewot. Jadi Allah mengeluarkan ayat yang berkata, (QS 33:53) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.”

Ini untuk mencegah mata keranjang teman-temannya, murid-muridnya ataupun tamu-tamu prianya hingga sistem purdah ini diwujudkan. Pertamanya hanya diterapkan pada istri-istri orang yang dianggap suci saja, belakangan diperluas kesemua perempuan muslim. Purdah artinya menutupi seluruh tubuh kecuali mata, tangan dan kaki. Sekarang ini, ada perempuan yang mempraktekan purdah dengan hanya menutupi rambut saja (Jilbab sebagaimana yang umum kita kenal). Itu bukan yang tertulis dalam hadis atapun Quran. Sejujurnya, menutupi rambut saja bukanlah purdah islami.

Dalam periode awal islam, Muhammad memulai praktek menutupi kaki para perempuan. Dalam 100 tahun setelah kematiannya, purdah menyebar keseluruh timur tengah. Para perempuan ditutupi dengan lapisan kain tambahan. Mereka dilarang keluar rumah atau dihadapan laki-laki tak dikenal. Hidup mereka dipaksa masuk kedalam hidup yang ketat: tinggal dirumah, masak, membersihkan rumah dan pakaian, beranak dan membesarkan anak. Dengan cara ini, satu bagian dari manusia dipisahkan oleh burqa, dikarantina dan ditutupi (dikarungi, atau dibungkus rapat kayak pepes ikan).

Kenapa perempuan ditutupi? Karena mereka adalah objek seks. Karena jika para lelaki melihat mereka, laki-laki terangsang alias horny. Kenapa harus perempuan yang dihukum karena masalah seksual laki-laki? Bahkan perempuan juga punya dorongan seks. Tapi laki-laki tidak ditutupi karenanya. Tidak ada agama apapun yang diformulasikan oleh laki-laki yang perempuannya dianggap sebagai makhluk yang keberadaanya terpisah, atau sebagai manusia yang punya hasrat dan pendapat tersendiri yang terpisah dari pria. Aturan purdah mempermalukan bukan hanya perempuan tapi laki-laki juga. Jika perempuan berjalan tanpa purdah, seakan para lelaki tidak tahan untuk tidak horny ketika melihat meraka, ingin meraba-raba atau memperkosa mereka. Apa para laki-laki begitu gila dan rendah sehingga langsung kehilangan akal sehat mereka jika melihat perempuan tanpa burqa? Apakah setiap laki-laki pasti konak alias ereksi penisnya saat melihat perempuan tanpa jilbab? Pakaian penutup tubuh perempuan (purdah, burqa atau jilbab) dipakai karena asumsi bahwa setiap laki-laki pasti otaknya ngeres, pikirannya kotor dan jorok. Bukankah ini juga mempermalukan kaum laki-laki sendiri?

Pertanyaan saya pada Shabana dan para pendukungnya adalah, siapa yang berpendapat bahwa Quran tidak mengatakan tentang purdah? Jika Quran menyuruh perempuan pakai purdah, haruskah perempuan melakukannya? Jawaban saya adalah, TIDAK. Apapun yang buku sial itu (quran) katakan, siapapun orang yang menyarankan, perintah makhluk apapun, perempuan seharusnya tidak memakai purdah. Tidak cadar, chador, hijab (jilbab), burqa, penutup kepala atau nama-nama apapun lainnya. Perempuan tidak harus memakai semua ini hanya karena ini semua adalah alat penghinaan dan penindasan belaka. Ini adalah lambang kekerasan terhadap perempuan. Lewat alat-alat ini, perempuan dikatakan bahwa mereka hanya benda milik laki-laki, objek untuk mereka pakai. Penutup ini dipakai untuk membuat perempuan tetap pasif dan tunduk. Perempuan disuruh pakai itu agar mereka tidak bisa eksis dengan kehormatan mereka, harga diri mereka, keyakinan dan identitas mereka tersendiri, pendapat sendiri dan ide-ide sendiri. Jadi agar mereka tidak bisa hidup mandiri dan hidup dengan kepala tegak dan tubuh juga tegak tidak membungkuk-bungkuk kepada kaum lelaki.

1500 tahun lalu, hanya karena alasan pribadi dan ego seseorang yang bernama Muhammad maka diputuskan bahwa seluruh perempuan harus pakai purdah dan sejak itu pula milyaran perempuan muslim diseluruh dunia telah menderita. Jadi banyak kebiasaan lama yang mati alami, tapi purdah tidak. Malahan, belakangan, ada kegilaan untuk membangkitkannya lebih hebat lagi (ingat nggak dulu ada gerakan “lautan jilbab,” atau hari jilbab internasional yang diperingati oleh PKS dengan konvoi para perempuan berjilbabnya? —Adm).

Menutupi kepala perempuan berarti menutupi otaknya dan memaksakan otak itu tidak bekerja. Jika otak perempuan bekerja dengan benar, sudah sejak lama mereka akan membuang kerudung dan burqa yang dipaksakan pada mereka oleh rejim islam yang patriarchal.

Apa yang harus dilakukan perempuan? Mereka harus protes melawan diskriminasi. Mereka harus menyerukan perang melawan penindasan dan perlakuan jelek yang diterapkan islam selama ratusan tahun. Mereka harus lepas dari hegemoni laki-laki demi kebebasan dan hak-hak mereka. Mereka harus membuang pakaian diskriminasi dan membakar purdah, burqa, hijab, jilbab mereka! ⦁

Sumber: Ex-Muslim Indonesia

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Trackbacks

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: