Demi Pancasila, orang yang mencintai Indonesia, harus berani mengatakan Islam sesat dan menyesatkan

Garuda PancasilaPerhatikan setiap kritik tentang Islam yang muncul di FB atau milis selalu diserang balik oleh pengikut Muhammad dengan mencaci maki Kristen, padahal kritik itu belum tentu keluar dari penganut Kristen. Mengapa bisa begitu? Kebencian terhadap agama lain diajarkan oleh Muhammad dan tertulis di dalam al-Quran. Adalah kewajiban Muslim memerangi kafir dan paling tidak harus bersikap keras terhadap kafir.

Siapakah kafir menurut Muhammad? Orang yang pertama dikafirkan oleh Muhammad yang darahnya dihalalkan adalah orang sebangsanya sendiri, yaitu suku Quraisy yang difitnah sebagai penyembah berhala. Tidak heran pada Ustadz melalui pengeras suara di mesjid mengatakan orang Hindu penyembah berhala, karena Kabah yang didirikan orang Quraisy berasal dari ajaran Hindu.

Setelah orang Yahudi di Madinah tidak mau mengakui Muhmmad sebagai nabi, orang Yahudi dijadikan kafir berikutnya yang harus diperangi. Akibatnya satu suku Yahudi yang sudah lama tinggal di Yatrib diusir tanpa boleh membawa harta benda dan harta benda itu dirampas oleh Muhammad dan satu suku lagi kemudian dibantai.

Orang yang dijadikan kafir berikutnya adalah orang Nasrani yang tidak mau menjadi Islam. Mereka diperangi dan yang tetap membangkang sebagian tidak dibunuh tetapi diwajibkan membayar uang keamanan (jizya) kepada penguasa Islam.

Di Indonesia tidak ada Yahudi, orang Hindu umumnya menghindari perselisihan lalu yang dijadikan musuh oleh Islam adalah Kristen, karena itu setiap kritik selalu dikatakan ini pasti Kristen, padahal kita perlu menempatkan masalah Islam yang mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri kita tercinta ini tidak dalam hubungan antar agama tetapi dalam hubungan dengan Panca Sila, mari kita lihat kaitannya.

Panca Sila yang disampaikan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 dimulai dengan “Persatuan Indonesia” di urutan pertama dan ditutup dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” di urutan kelima. Panca Sila ini yang diakui PDI Perjuangan karena pemikiran dasarnya benar. Bangsa ini pertama harus bersatu tetapi agar persatuan Indonesia tidak menjadi sombong dalam pergaulan bangsa-bangsa harus diiringi sila “Perikemanusiaan” dan pada urutan ketiga ada “Demokrasi” yang diikuti “Keadilan Sosial” artinya domokrasi itu untuk kepentingan rakyat banyak. Baru pada urutan kelima sebagai penutup ada “Ketuhanan Yang Maha Esa”, tuhan itu menjadi urusan pribadi masing-masing, masalah Tuhan yang sarat perbedaan harus diletakan dalam ruang lingkup pribadi.

Apa yang terjadi setelah Bung Karno menyampaikan Panca Sila, tokoh Islam minta agar dasar negara adalah Islam. Bung Karno menangis harus berjuang sendirian, tidak ada yang mendukung dan sebagai kompromi lahirlah Piagam Jakarta dan sebagai jalan tengah urutan diubah “Ketuhanan Yang Maha Esa” ditaruh diurutan pertama dan “Persatuan Indonesia” baru ada di urutan ketiga. Di samping itu di sila pertama ditambahkan “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Bung Karno terjepit dan Bung Karno tetap melihat rumusan itu akan menghancurkan Indonesia apalagi ada tambahan presiden Indonesia harus beragama Islam.

Rumusan itu akan masuk ke UUD 45 dan Bung Karno yang berbudi pekerti sangat luhur tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Pada tanggal 18 Agustus ada rapat menentukan UUD 45, mulailah drama penyelamatan oleh Bung Karno yang memang sangat piawai bermain drama. Sore hari sebelum rapat ada perwira angkatan laut Jepang menemui Hatta mengatakan jika rumusan itu diterima, Indonesia Timur tidak akan ikut kemerdekaan. Hatta kaget dan berjanji akan memperhatikan hal itu. Pagi hari tanggal 18 Agustus Bung Karno tidak mau memimpin rapat dan ketua rapat diserahkan kepada Hatta yang kemudian berusaha meyakinkan tokoh Islam bahwa tujuh kata di sila pertama harus dihilangkan dan syarat presiden harus Islam juga harus dihilangkan agar tidak terjadi perpecahan dan rapat itu berhasil menyelamatkan Indonesia. Apa benar ada permintaan dari Indonesia Timur, tidak ada bukti sejarah, kemungkinan kejadian itu hanya akal-akalan Bung Karno yang tentu harus kita hargai dan banggakan.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, agar tidak ada partai agama di Indonesia, Bung Karno menjadikan PNI sebagai satu-satunya partai di Indonesia yang menjadi partai negara. Tapi kemudian Hatta mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden no.X yang membolehkan banyak partai. Maklumat itu sesungguhnya sebuah kudeta tetapi demi persatuan Bung Karno mengalah sehingga pembentukan PNI sebagai partai negara batal lalu bermunculan banyak partai, juga partai agama. Walaupun sudah ada partai Islam, tetapi ketidakpuasan bahwa Indonesia tidak berdasar Islam terus berlanjut dan muncullah Darul Islam yang mengangkat senjata mendirikan negara Islam.

Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda di tahun 1949, dibentuk Republik Indonesia Serikat di mana anggota DPRS sebagian besar dikuasai Masyumi dan ada kewajiban menyelenggarakan pemilihan umum. Bung Karno sudah melihat bahwa jika ada pemilihan umum, Masyumi pasti menang dan Indonesia pasti menjadi negara Islam. Untuk mencegah hal itu terjadi, Bung Karno mendorong PNI agar menjadi partai besar tetapi ternyata tidak mudah, orang nasionalis tidak bisa melihat bahwa Islam berbahaya bagi persatuan Indonesia, karena sebagain besar anggota PNI juga beragama Islam. Jalan keluarnya Bung Karno memberi peluang PKI bangkit kembali setelah melakukan Kudeta di tahun 1948. Apa yang diupayakan Bung Karno berhasil, dalam pemilu tahun 1955 Islam tidak berhasil mendapat kursi mayoritas di Konstituante dan perjuangan mendirikan negara Islam lewat kosntituante berhasil digagalkan. Lalu keluarlah Dekrit Presiden yang menyatakan Indonesia kembali ke UU 45. Tapi perseteruan antara Islam dan PKI kemudian menjadi sengit yang berakibat sangat tragis lebih dari 500.000 anggota dan simpatisan PKI dibantai pada tahun 1965.

Hingga sekarang usaha mendirikan negara Islam di Indonesia tidak pernah hilang dan sudah saatnya di alam keterbukaan sekarang kehadiran Islam di Indonesia dibahas secara terbuka dalam suasana damai demi kepentingan Indonesia,dengan semangat agama boleh datang dan boleh pergi tapi NKRI harus tetap tegak berdiri.

Apa yang harus dilakukan? Menggunakan Panca Sila sebagai pedoman menentukan agama mana yang boleh berkiprah di Indonesia. Agama yang menghianati atau bertentangan dengan Panca Sila harus angkat kaki dari Indonesia.

  1. Kita mulai dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang berarti Tuhan bagi orang Indonesia adalah Tuhan yang berbahasa Indonesia dan mencintai semua orang Indonesia tanpa kecuali. Dengan ukuran ini Allah Swt harus dengan tegas kita katakan tidak bisa menjadi Tuhan bagi orang Indonesia, karena Allah Swt hanya bisa bahasa Arab dan Allah Swt tidak mau menjadi Tuhan orang Indonesia yang kafir (bukan Islam) bahkan Allah Swt memerintahkan memerangi kafir yang tentu perintah ini membahayakan persatuan Indonesia.
  2. Karena umat Islam diajarkan untuk memerangi kafir jelas Islam tidak mendukung “Persatuan Indonesia” bahkan mengancam persatuan Indonesia.
  3. Islam yang menghalalkan pembunuhan juga bertentangan dengan sila “Perikemanusiaan”.
  4. Diuji dengan sila “Demokrasi” jelas Islam tidak mengajarkan demokrasi yang diajarkan Islam adalah “Khilafah”.
  5. Apakah Islam mengajarkan “Keadilan Sosial”? Jika ukurannya yang kaya harus membayar pajak lebih besar, jelas tidak sesuai dengan sistem zakat yang diajarkan Islam. Tapi yang paling pokok yang harus berani kita katakan adalah Islam bertentangan dengan Pancas Sila karena ajaran mengkafirkan sesama anak Indonesia tetap akan merongrong persatuan Indonesia.

Masalah ini harus dibahas dalam forum terbuka yang beradab, bukan dalam bingkai kerukunan umat beragama tetapi dalam bingkai NASIONALISME dan sudah saatnya kaum Nasionalis berani memisahkan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai ideologi. Islam sebagai agama harus ditempatkan dalam ruang lingkup pribadi tetapi sebagai ideologi kaum Nasionalis harus berani mengatakan tidak ada ruang bagi Islam dalam perjuangan membangun persatuan Indonesia dan bagi teman-teman di Indonesia Timur mungkin sudah saatnya berperan aktif meminta klarifikasi secara terbuka, apakah Islam bertentangan dengan Panca Sila.

Pada kejadian tanggal 17-18 Agustus tahun 1945 nama Indonesia Timur mungkin dicatut Bung Karno dan saatnya sekarang orang Indonesia Timur menunjukan keprihatinannya terhadap persatuan Indonesia dan sungguh-sungguh menuntut persatuan Indonesia di letakkan di atas dasar yang benar yaitu Panca Sila sehingga semua ajaran dan ideologi yang bertentangan dengan Panca Sila secara bijak dan bertahap harus dihilangkan dari bumi pertiwi.

Saya hanya menulis, silahkan direnungkan, mudah-mudahan ada manfaatnya. ⦁

Sumber: Memahami Perbedaan Agama

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • boykolot  On 3 August 2015 at 11:46

    Bung, mengkritik dg ilmu maka akan mencerahkan dan bukan membodohi atau mengelabui kewarasan! Jk cuma kopi paste ya itu bukan dari pemahaman sendiri atau mencari kebenaran yang ditemukan oleh akal budi, dg membandingkan konsep Tuhan di antara semua agama serta sejarahnya…

  • Simon Berhitu  On 8 May 2016 at 06:22

    Ajaran setan mengalir kenabi kebinasaan Muhammad bin Abdulah
    islam ajaran kebencian virus yang mematikan…harus tetap waspada terhadap ajaran setan goa hira

  • non existent god  On 17 November 2018 at 05:20

    Hidup Pancasila!!! Buang islam!!!! MERDEKA!!!! MERDEKA!!!!!!

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: