Apa Yang Terjadi Ketika Seseorang Meninggalkan Islam

Oleh: Rosemary Sookhdeo •

Dikatakan bahwa Islam adalah jalan satu arah; anda bisa memasukinya tetapi tidak bisa meninggalkannya.

Hukum Kemurtadan

Hukum religius Islamik (Syariah) menyatakan bahwa orang-orang Muslim yang berpindah ke iman yang lain (murtad) dan menolak untuk kembali ke Islam harus dibunuh. Ia juga menspesifikasikan hukum-hukum lain yang bervariasi termasuk pembatalan pernikahan mereka, hilangnya anak-anak mereka serta semua harta benda mereka, serta penundaan semua kontrak-kontrak finansial dan legal serta hak-hak warisan. Semuanya akan dikembalikan hanya jika mereka kembali kepada Islam.

Ada empat sekolah utama dalam Islam Sunni dan seperlima tradisi dalam Islam Syiah. Ada beberapa pertentangan berkenaan dengan aplikasi detil mengenai hukum kemurtadan dari tradisi yang berbeda-beda. Salah satu pertanyaan yang menjadi perdebatan di antara tradisi-tradisi itu adalah apakah wanita yang murtad juga harus dieksekusi, atau cukup dengan dipenjarakan seumur hidup, dan apakah anak-anak dari mereka yang murtad juga harus dianggap sebagai turut murtad. Namun demikian, semua sekolah-sekolah syariah setuju bahwa para pria dewasa yang murtad dan menolak untuk kembali kepada Islam harus dieksekusi dan bahwa istri-istri dan anak-anak mereka yang masih Muslim serta semua harta benda mereka harus diambil dari mereka.

Miriam, dianggap sebagai seorang murtadin oleh teman-teman dan suaminya ketika ia berpindah menjadi seorang pemeluk Kristen. Steven dinasehati bahwa ketika ia telah menjadi seorang Kristen maka ia dianggap sebagai seorang yang telah murtad dan karenanya pernikahan itu telah dibatalkan dan tidak lagi berlaku. Karena itu ia diperintahkan untuk keluar dari rumah dengan segera. Miriam hanya telah menikah berdasarkan syariah, tanpa upacara yang didasarkan atas hukum sipil, dan segera setelah ia menjadi seorang Kristen maka pernikahan itu secara otomatis dibatalkan.

Pada tahun 2000, seorang wanita Muslim yang masih muda yang tinggal di Inggris, bertobat dan menjadi pemeluk Kristen. Suatu hari ia diculik ketika ia tengah berada di luar gerejanya dan dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil van oleh sejumlah orang, termasuk di dalamnya beberapa kerabatnya. Selagi mobil van melaju kencang, ia dipukuli hingga babak belur. Ia diberikan sebuah Al Qur’an dan diperintahkan untuk mengucapkan pengakuan Islam (Syahadat) dalam sebuah usaha untuk memaksanya kembali kepada Islam. Ia menolak dan mulai menyanyikan sebuah lagu Kristen,”Yesusku, Penyelamatku, tiada yang seperti Engkau.” Pemukulan itu berlanjut. Kemudian ia dibuang dari mobil van itu di depan sebuah pusat perbelanjaan, dan kemudian dari sana ia dilarikan ke rumah sakit. Ketika ia sudah sembuh, ia harus pergi untuk menyembunyikan diri.

Para petobat seringkali ditolak oleh keluarga mereka dan diusir dari rumah keluarga mereka. Di Pakistan, semua anggota dari sebuah keluarga Muslim yang kaya telah berpaling menjadi orang-orang Kristen pada tahun 2001. Keluarga dari si suami merampas rumah mereka yang nyaman segera setelah mereka menjadi murtad. Sebagai konsekwensi atas pertobatan mereka, keluarga itu harus melupakan gaya hidup mereka yang makmur dan pergi menyembunyikan diri.

Bahkan di negara-negara Muslim yang paling toleran, dimana tidak ada hukum kemurtadan dan negara tidak menangkap atau menghukum para petobat, Muslim yang pindah ke agama lain dapat menghadapi tekanan sosial yang luar biasa besar dari keluarga dan komunitas mereka. Ini bisa menjadi sebuah problem mayor bahkan di negara-negara dengan Muslim sebagai komunitas minoritas. Dalam situasi ini hidup mereka mungkin tidak dalam bahaya, tetapi hukum lain syariah bisa diberlakukan atas mereka seperti: memaksa mereka untuk kembali ke Islam, memaksakan pemisahan dari pasangan mereka, dan kehilangan anak-anak dan harta milik yang bisa mereka alami lewat intervensi keluarga dan komunitas mereka.

Kisah Yasmin

Yasmin dibesarkan dalam sebuah keluarga Muslim. Ia bertobat setelah mengalami sebuah visi dari Yesus ketika ia melahirkan anak laki-lakinya yang bungsu, dan ia kemudian dibaptiskan pada usia tiga puluhan. “Keluarga saya sepenuhnya telah membuang saya. Mereka berpikir bahwa saya telah melakukan dosa terbesar, oleh karena saya dilahirkan sebagai seorang Muslim maka saya pun harus mati sebagai seorang Muslim. Saat suami saya mengetahui hal ini, ia juga membuang anak-anak saya secara total. Seorang teman mencoba untuk mencekik saya ketika saya beritahukan padanya bahwa saya telah bertobat dan menjadi Kristen,” katanya.

“Jendela rumah kami dilempar dengan batu bata. Saya dimaki-maki di jalanan karena mereka berpikir bahwa saya telah melecehkan Islam. Banyak kali kami harus memanggil polisi. Saya harus pergi ke pengadilan untuk memperoleh sebuah keputusan melawan suami saya karena ia menyuruh orang lain untuk menyerang saya.”

Ia kemudian pergi bersembunyi di bagian lain Inggris, tetapi serangan-serangan segera kembali terjadi setelah orang-orang di sekitar situ mengetahui keberadaannya. “Saya tidak akan pergi untuk bersembunyi lagi,” katanya, dengan menambahkan bahwa para penyerangnya menerapkan standard ganda yang membuatnya menjadi lebih marah lagi. “Mereka benar-benar orang munafik – mereka ingin supaya kita bersikap toleran terhadap apa pun yang mereka inginkan, tetapi mereka tidak bersikap toleran terhadap apa pun yang kita inginkan.”

“Dengan para petobat lainnya, Yasmin telah membantu untuk membuat sebuah seri kelompok-kelompok pendukung di seluruh Inggris, yang telah mengadopsi metode operasi, yang secara normal diasosiasikan dengan kediktatoran, bukan demokrasi. Mereka tidak hanya harus bertemu secara rahasia, tetapi bahwa mereka pun tidak bisa mengiklankan pelayanan mereka dan harus benar-benar memeriksa orang-orang yang mendekati mereka untuk memastikan bahwa mereka itu bukan para infiltrator.

Yasmin mengatakan bahwa ia melakukan kontak dengan sekitar 70 orang petobat. Beberapa dari mereka telah mengalami pemukulan sehingga menyebabkan bagian-bagian tubuh mereka lebam-lebam karena iman mereka. Yang lainnya bahkan menderita lebih berat lagi. Keluarga dari seorang gadis usia 18 tahun yang sedang ditolong oleh Yasmin menemukan bahwa ia selama ini menyembunyikan Alkitab di kamarnya dan mengunjungi gereja secara rahasia. “Saya berusaha sebisa mungkin untuk menolongnya, tetapi mereka membawanya ke Pakistan dengan alasan ‘untuk berlibur’, demikian dikisahkan oleh Yasmin. “Tiga minggu kemudian, gadis ini ditenggelamkan. Mereka mengatakan bahwa ia pergi ke luar saat tengah malam dan terpeleset di sungai, tetapi saya sepenuhnya meyakini bahwa cerita itu tidak benar.”

Kisah Rut

Rut, juga aslinya berasal dari Pakistan, baru-baru ini menemukan bahwa ia cukup beruntung terlepas dari usaha pembunuhan. Ketika ia memberitahukan kepada keluarganya bahwa ia telah bertobat menjadi seorang Kristen, mereka menguncinya di dalam rumah keluarganya selama musim panas.

“Mereka takut bahwa saya akan bertemu dengan orang-orang Kristen. Saudara lelakiku sangat agresif dan ia bahkan memukuliku. Di kemudian hari saya menemukan bahwa ia menginginkan kematianku,” katanya. Seorang teman keluarganya menyarankan supaya ia dibawa ke Pakistan untuk dibunuh, dan saudara lelakinya menyampaikan ide itu kepada ibunya, yang kemudian menentang hal itu. “Engkau sangat terisolasi dan kesepian. Tetapi sekarang, saudara lelakiku sedang memikirkan untuk berubah dan seorang keponakanku telah membuat sebuah komitmen untuk menjadi seorang Kristen.”

Kisah Noor

Noor, dari Midland, dibesarkan sebagai seorang Muslim tetapi ia kemudian bertobat menjadi Kristen pada usia dua puluh satu. “Memberitahukan kepada ayah saya adalah hal tersulit yang pernah saya lakukan. Saya pikir ia akan membunuhku pada saat itu juga, tetapi ternyata ia hanya mengalami syok,” katanya. Pada akhirnya ia hampir-hampir menculikku.

“Ia mengambil sebuah aksi drastis; ia membawa keluarganya ke Pakistan, ke sebuah desa yang terpencil dimana tak ada jalan raya ke desa itu. Ia menaruh kami semua di desa itu selama bertahun-tahun, memaksa saya dengan keras untuk meninggalkan iman Kristiani saya. Ia mengalami penderitaan mental dan emosional yang berat yang kebanyakan orang pasti belum pernah mengalaminya,” katanya. “Dalam keputusasaan, ayah saya mengancam bahwa ia akan mengambil nyawa saya. Jika seseorang meninggalkan Islam, adalah keharusan bagi kehormatan keluarga untuk membawa mereka kembali kepada Islam, atau jika tidak, membunuh mereka.” Untungnya, ayahnya kemudian menyadari bahwa ia tidak bisa menggoncangkan imannya, dan melepaskannya dengan ketentuan yang keras.

Para imam di Inggris kadang-kadang menyerukan supaya orang-orang yang sudah murtad dibunuh jika mereka mengkritik agama mereka sebelumnya. Anwar Sheikh, mantan guru Mesjid dari Pakistan, menjadi seorang atheist setelah datang ke Inggris. Saat ini ia hidup dengan alarm khusus di rumahnya di Cardiff, setelah mengkritik Islam dalam sebuah seri buku-buku garis keras.

“18 fatwa sudah dijatuhkan terhadap saya. Mereka menelepon saya – Mereka tidak bodoh untuk menyerang saya dengan tulisan. Saya ditelepon dua minggu lalu. Mereka katakan bahwa saya harus bertobat jika tidak saya akan digantung,” katanya. “Apa yang telah saya tulis, saya yakini dan saya tidak akan menariknya kembali. Saya siap menanggung konsekwensinya. Jika ini harga yang harus saya bayar, saya akan membayarnya.”

Seorang yang sudah murtad yang paling terkenal di Inggris adalah Ibn Warraq, seorang intelektual kelahiran Pakistan dan mantan guru dari London yang meninggalkan iman Islamnya setelah kasus Salman Rushdie dan menyaksikan alasannya meninggalkan Islam dalam bukunya Why I am not A Moslem. Baru-baru ini ia mengedit buku Leaving Islam, namun ia sulit untuk menjelaskan permusuhan yang ia hadapi. “Benar-benar aneh. Bahkan orang Muslim yang paling liberal bisa menjadi sangat ganas jika anda mengkritik Islam, atau horror dari semua horror, jika anda meninggalkannya.”

Ia sendiri telah mengambil tindakan pencegahan dengan hanya menggunakan nama samaran, dan hidup dengan menyamar di daratan Eropa. Ia berpikir bahwa orang Muslim yang murtad sesuatu yang biasa terjadi. “Dalam masyarakat Barat, kemungkinan sekitar 10-15 persen. Sangat sulit untuk mendapatkan jumlah yang pasti, karena orang tidak mau mengakuinya.”

Sumber: http://www.buktisaksi.com

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • bugar  On 15 February 2014 at 06:16

    menurutku sesuai hukum dan syariat islam maka orang tersebut akan dibenci, dihina dan dikucilkan bahkan mungkin dibunuh karena memang halal darahnya apabila dia sudah murtad

Blog ini hanya membahas tentang ISLAM. Jika Anda berkomentar selain daripada Islam, insyaallah akan mendapat azab dari Admin yaitu DIHAPUS tanpa peringatan. Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel. Wassalam.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: